AKU tidak bisa menulis barang sepatah kata pun, padahal profesiku penulis. Sudahlah, aku tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahku. Menjelang pernikahan, aku takut mengecewakan Mas Andri yang sudah begitu baik, begitu mencintai aku. Keluarganya juga begitu menyayangi aku. Mereka tak peduli dengan bibit bebet bobot. Ibunya selalu memujiku sebagai perempuan yang cantik, baik, dan bisa menyenangkan hati. Ketika kuutarakan bahwa aku tidak punya keluarga di kota ini, ibunya malah tertawa. Ibunya Mas Andri memelukku dengan hangat sambil berkata bahwa merekalah keluargaku.

Aku takut mengecewakan Mas Andri. Karena itulah menjelang pernikahan yang kurang tiga hari, aku mengajak Mas Andri bertemu di kafe ini. Di sinilah dulu pertama kali Mas Andri menyampaikan isi hatinya. Ketika itu aku menatap Mas Andri dengan pandangan tidak percaya. Tapi, mata Mas Andri yang bening menyatakan bahwa perkataannya itu keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ah, itu Mas Andri datang. Seperti biasa senyumnya selalu mengembang. Dia duduk di depanku. Setelah memesan minuman, Mas Andri menatapku dalam-dalam.

“Dik, ada apa? Kenapa harus bertemu di sini?”

“Mas, ada sesuatu yang harus aku sampaikan.”

Mas Andri mengangguk penuh pengertian.

“Aku ingin pernikahan kita dibatalkan.”

“Dik, apa aku enggak salah dengar!”

Aku hanya menunduk. Aku tidak sanggup menyaksikan kegugupan dan kegusaran Mas Andri. Kulihat Mas Andri seperti orang bingung, berkali-kali dia menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dia tidak pernah segugup ini. Bahkan, ketika aku memberitahu bahwa aku senang melakukan petualangan cinta, dia tetap tenang. Dia malah mengatakan bahwa setiap orang bisa berubah menjadi baik. Napas Mas Andri sudah teratur, dia bersandar lemah di kursi.

“Kenapa Dik?”

“Aku takut mengecewakan Mas Andri. Aku tidak suka laki-laki,” kataku lirih.

“Ha, ha, ha,… enggak masalah,“ kata Mas Andri sambil menahan tawa. “Aku juga enggak suka laki-laki.”

Tapi sebentar kemudian, air muka Mas Andri berubah serius, ”Kamu lesbian?”

Aku menggelengkan kepala. “Aku laki-laki!”

Baca juga:

Aku Tidak Bisa Menulis, Menjelang Pernikahan
Tagged on:                 

3 thoughts on “Aku Tidak Bisa Menulis, Menjelang Pernikahan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.