rumah nenek

Ketika anak saya masih kecil di sekolah dasar, sehabis libur semester pasti ada tugas mengarang. Apa yang kamu lakukan ketika liburan? Yang menjadi favorit adalah karangan perihal berlibur ke rumah nenek. Kok bisa?

Anak saya selalu bercerita di awal-awal masuk sekolah bahwa teman-temannya paling banyak membuat karangan pergi ke rumah nenek. Memang, ada karangan lain, seperti piknik ke tempat hiburan bahkan ada yang ke luar negeri. Namun, yang menjadi favorit adalah pergi ke rumah nenek.

Seingat saya, ketika saya sekolah dulu, pergi ke rumah nenek juga menjadi favorit. Bahkan, menurut saya, ini merupakan karangan yang paling gampang dibuat. Karena tanpa pergi ke rumah nenek pun hampir setiap orang bisa mengarang tentang pergi ke rumah orang tua ayah atau ibunya.

rumah nenek 1

Mengapa? Saya jadi teringat nasihat “menulislah yang kita kenal dan kuasai”. Setiap kita pasti punya memori perihal kehangatan nenek. Kita mempunyai kedekatan emosional dengan nenek. Ini beberapa alasannya.

Pertama, nenek itu lebih menyayangi kita dibandingkan orang tua. Neneklah orang yang pertama melindungi kita. Nenek pula yang sering memandikan ketika bayi karena ibu kita belum terbiasa memandikan bayi. Kalau ada balita menangis, nenek pula yang sibuk membujuk. Sejak kecil kita sudah mempunyai kedekatan fisik dan emosional dengan nenek.

Kedua, nenek pelindung bagi cucu. Pernah melihat ketika ada seorang kecil dimarahi orang tuanya, dia akan berlari ke arah nenek atau memanggil ibu dari orang tuanya itu. Aksi si cucu memang jitu, orang tuanya pasti akan mendengarkan kata neneknya.

Ketiga, nenek bisa mengeliminasi peraturan atau nilai-nilai yang ditetapkan orang tua. Saya sendiri mengalami. Saya menetapkan peraturan tidak boleh beli es krim karena anak saya sedang flu. Ketika ke warung, saya mendengar ibu saya berkata ke cucunya, “Jangan bilang papa kalau mbah beliin kamu es krim ya.” Saya mendengar perkataan itu, karena saya berada di ruang tamu pemilik warung yang kebetulan tetangga saya.

Ini yang menurut saya bisa membuat seorang cucu begitu dekat dengan neneknya. Namun, studi “intergenerational solidarity” yang dilakukan Merril Silverstein and Vern L. Bengtson menyebutkan ada enam faktor yang membuat kedekatan cucu dan neneknya. Yaitu: kedekatan fisik, frekuensi kontak atau pertemuan, nenek memegang peran dalam keluarga, nenek memegang budaya keluarga, nenek pemegang ikatan emosional, nenek yang menetapkan konsensus keluarga.

Menulis ke rumah nenek

Kembali ke soal menulis ke rumah nenek. Karena sudah dekat secara emosional dan fisik dengan nenek, rasanya menulis dari sisi mana pun perihal nenek kita mampu melakukannya. Dari sisi karakter, si anak pasti tahu persis karakter neneknya.

Nenek itu cerewet dan tidak mau mengalah dalam berbicara. Pasti si cucu bisa cerita secara fasih. Bahkan mungkin ekspresi si nenek bisa juga dideskripsikan dengan baik. Nenek yang ramah seperti apa? Nenek yang selalu mengembangkan senyum ketika pertama kali bertemu. Tentu saja ada juga nenek yang selalu menanyakan soal makanan. Sudah makan tahu belum. Banyak karakter nenek yang sudah begitu menyatu dengan si cucu.

Fisik rumah nenek pun menjadi objek yang menarik bagi si cucu ketika mengarang. Misalnya, rumah itu besar, rumah kayu, atau rumah tembok. Halamannya sangat luas dan penuh dengan pohon buah. Banyak burung berkicau di sana.

Bahkan, lingkungan rumah nenek pun pasti si cucu tahu persis bagaimana keadaannya. Tetangganya bagaimana? Penuh misteri. Atau ada beberapa sarang burung di pohon mangga nenek, dan seterusnya. Pokoknya banyak hal bisa diceritakan tentang nenek.

Jadi, wajarlah kalau kemudian berlibur ke rumah nenek menjadi karangan favorit ketika usai berlibur. Ah, jadi pengen menulis tentang nenek.

Nenek selalu menatap ke mataku dalam-dalam. Ini membuat aku tidak berkutik. Aku hanya menatap kembali wajah nenek yang sudah banyak lipatan di dahi dan pipinya. Aku tersenyum. Nenek langsung memelukku.

“Sudah melihat wajah nenek…”
Aku mengangguk.
“Sudah tahu berapa lama lagi nenek akan bisa melihat wajahmu…”
Aku masih melihat wajah nenek.
“Nenek ingin melihat kamu berbahagia dengan istrimu…”
Aku memeluk nenek dengan erat, aku juga menginginkan itu. Namun, di usiaku yang menginjak tiga puluh, tidak satu pun perempuan yang pernah singgah di hatiku.

Begitu cerita saya, tidak sanggup saya melanjutkan. Salam.

Baca juga:

3 Alasan ke Rumah Nenek Menjadi Favorit
Tagged on:             

One thought on “3 Alasan ke Rumah Nenek Menjadi Favorit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.