Banyak penulis yang menuliskan kata-kata dengan tidak tepat. Alhasil, pengertiannya pun tidak sesuai dengan keinginan penulis. Sia-sia dong kita menulis.

Saya banyak menemukan kesalahan pemakaian kata, karena penulis hanya mendengarkan bunyi, bukan cara menulisnya. Bunyi terkadang menipu kita, bunyinya mungkin saja sama tapi cara menuliskannya bisa berbeda.

Saya menemukan kalimat seperti ini di media massa:

  • Harga telor membubung tinggi
  • “Masak pemerintah tidak memahami kesulitan rakyatnya,” ujar aktivis itu
  • Aturan Pemerintah itu Sekedar Pemanis

Nah, kalimat pertama, penulis tidak dapat membedakan kata telur dan telor. Sekilas pelafalan telor dan telur memang hampir sama, namun artinya jauh panggang dari apa. Telor bermakna tidak dapat mengucapkan kata dengan benar, misalnya telor menjadi telong; telur adalah benda bercangkang yang mengandung zat hidup bakal anak.

Kalimat dua, penulis hanya mendengar dan tidak tahu bagaimana menuliskannya, atau ragu karena bentuknya. Masa bermakna waktu, tapi juga berarti kata untuk menyatakan ketidakpercayaan; masak bermakna matang. Masak dan masa memang terdengar hampir sama, untuk kasus ini kamus memberi catatan masak dalam kalimat di atas merupakan bentuk tidak baku dari masa.

Kalimat ketiga, penulis tidak bisa membedakan sekedar dan sekadar, karena pelafalan antara keduanya memang hampir sama. Kalau yang ini jelas menunjukkan si penulis tidak tahu mana bentuk baku dan tidak baku. Sekadar merupakan bentuk baku, sekedar tidak baku.

Ketidakcermatan karena hanya bersandar pada pelafalan bisa fatal. Seperti contoh telor dan telur, makna jauh berbeda. Saya bisa membuktikan kebenaran pelajaran bahasa Indonesia di sekolah, bahwa fonem adalah satuan bunyi terkecil yang dapat membedakan arti. Telor dan telur hanya berbeda /o/ dan /u/, tapi artinya berbeda jauh

Adapun Ketidakcermatan hanya bersandarkan pada pelafalan juga bisa mengakibatkan kita terpeleset pada kata tidak baku. Ya, seperti masa dan masak, sekedar dan sekadar. Perihal yang satu ini saya juga punya catatan, bahwa dalam bahasa Indonesia ada juga kata yang pelafalannya dan tulisannya berbeda. Elit adalah bahasa lisan, bahasa tulisnya adalah elite, seperti juga hektar yang bahasa tulisannya hektare.

Jadi, mari kita jaga agar bahasa lisan yang sering kita dengar tidak membuat kita tersesat ketika menulis. Memang sih tidak pengaruh apa-apa, tapi kita jadi kelihatan bodoh. Kita tidak mau seperti itu kan Bro Penulis. Salam.

Baca juga:

Awas Jangan Tertipu dengan Bunyi, Bro Penulis
Tagged on:                         

7 thoughts on “Awas Jangan Tertipu dengan Bunyi, Bro Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.