bahasa itu

Berbahasa Indonesia berarti memahami aturan dan kaidah bahasa Indonesia. Itulah yang tersirat dari pernyataan bahasa dapat memaksa orang untuk masuk ke aturan atau pola bahasa itu sendiri. Penjelasannya?

Bahasa itu bersifat objektif dan memaksa, kata Berger dan dan Luckmann. Artinya, bahasa itu dapat memaksa manusia untuk masuk ke dalam pola-polanya. Artinya, ketika kita menggunakan bahasa Inggris kita dipaksa untuk memakai pola bahasa Inggris. Begitu pun dengan bahasa lain. Orang berbahasa Arab pasti menggunakan aturan dan kaidah bahasa itu sendiri.

Nah, bahasa itu memiliki aturan dan pola sendiri. Tidaklah mungkin berbahasa Indonesia dengan kaidah bahasa Arab. Marilah kita lihat apakah mungkin kita bisa menggunakan aturan sintaksis bahasa Inggris ketika berbicara dalam bahasa Indonesia. Aturan fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris.

Marilah kita berbicara dulu mengenai kosa kata dalam bahasa Indonesia. Sejatinya kita berbicara dan menulis menggunakan kata-kata. Gorys Keraf (1991:21) mengatakan bahwa tiap kata mengungkapkan sebuah gagasan atau sebuah ide. Karena itu, orang harus memilih kata-kata yang tepat untuk mewakili gagasannya. Sarwoko (2007:74—75) mengatakan, pemilihan kata secara akurat dalam kalimat dapat mempengaruhi pesan yang akan disampaikan.

Sebuah kata bisa jadi memiliki kata bawahan (hipogram) yang memiliki arti lebih spesifik. Misalnya, kata membunuh dalam kalimat harimau itu membunuh mangsanya. Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut, tetapi sejatinya kita dapat memilih kata yang lebih dapat menggambarkan situasi membunuh itu. Kita dapat memilih hipogram dari membunuh seperti menikam, mencabik, menusuk, menerkam. Tetapi kata mencabik lebih tepat dipakai dalam kalimat di atas karena lebih menggambarkan aktivitas harimau ketika membunuh korbannya.

Ada tiga kelas kata

Kelas kata, secara umum disebut juga jenis kata, utama dalam bahasa Indonesia terdiri dari verba, nomina, adjektiva. Verba, disebut juga kata kerja, dari segi perilaku semantis memiliki makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan (Alwi, 1993:93). Verba dengan makna inheren perbuatan dapat diuji dengan pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek? Misalnya, verba lari dapat menjadi jawaban atas pertanyaan Apa yang dilakukan oleh pencuri itu? Verba jenis ini seperti mendekat, mencuri, memukul, memberhentikan.

Lalu, verba proses biasanya dapat menjawab pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek? Misalnya, Apa yang terjadi dengan bom itu? Jawab: Bom itu meledak. Verba proses juga menyatakan adanya perubahan dari suatu keadaan ke keadaan yang lain. Membesar, misalnya, menyatakan perubahan dari keadaan yang kecil ke keadaan yang tidak kecil lagi.

Adapun verba keadaan adalah verba yang mengandung makna keadaan dan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. Verba ini dapat diturunkan dari adjektiva dengan prefiks ter-, misalnya dari kata dingin dan sulit, dapat diturunkan verba keadaan tersulit dan terdingin.

Nomina atau kata benda

Nomina atau kata benda secara semantis adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Nomina biasanya menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap dalam kalimat yang predikatnya verba. Misalnya, Jokowi berkunjung ke kawasan kumuh dan Warga mengelu-elukan Jokowi. Subjek dari kedua kalimat di atas Jokowi dan warga sudah pasti nomina. Pelengkap dalam kalimat pertama kawasan kumuh dan objek dalam kalimat kedua Jokowi juga nomina.

bahasa itu 3

Adapun adjektif atau kata sifat, menurut Kridalaksana (1993:3), adalah kata yang menerangkan kata benda (nomina). Fungsinya dapat mengungkapkan suatu sifat atau keadaan. Misalnya, anak kecil, beban berat langit sudah terang, dia sudah mabuk, bajunya basah.

Seperti dikatakan di atas, dalam bahasa Indonesia ada tiga kelas kata pokok, yaitu: kata benda (nomina), kata kerja (verba), dan kata sifat (adjektiva). Kata lainnya, seperti kata depan dan kata hubung, hanya bertugas untuk menjelaskan ketiga kelas kata tersebut (Sarwoko, 2007:49).

Dari kata-kata kita dapat membentuk frasa. Kridalaksana (1993:59) mengatakan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikat; gabungan itu dapat rapat, dapat renggang; misalnya gunung tinggi adalah frasa karena merupakan konstruksi nonpredikatif; konstruksi ini berbeda dengan gunung itu tinggi yang bukan frasa karena bersifat predikatif. Frasa yang berinti verba disebut juga frasa verba, seperti makan hati; frasa berinti nomina disebut juga frasa nomina, seperti gubernur baru.

Sintaksis dalam bahasa Indonesia berpola S+P+O+K alias subjek + predikat + objek + keterangan (Alwi, 1993:362). Itu merupakan konstruksi dasar kalimat bahasa Indonesia. Namun, kita juga mengenal kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif karena subjek dari kalimat itu melakukan tindakan. Misalnya, Jokowi mengunjungi korban kebakaran berarti Jokowi melakukan kunjungan. Kalimat aktif dicirikan dengan verba yang berawalan me-. Ada juga kalimat pasif. Disebut pasif, karena subjek dari kalimat tersebut pasif atau tidak melakukan tindakan. Misalnya, Jokowi dicitrakan sebagai sosok yang merakyat oleh media. Secara sederhana dapat dikatakan seperti itu dapat dikatakan kalimat pasif ditandai dengan verba yang berawalan di-.

Bahasa itu unik

Namun, media massa dalam menyampaikan berita selalu berupaya agar dapat menarik perhatian pembaca, antara lain dengan gambar atau foto yang menarik, atau dengan menggunakan gaya bahasa atau figura bahasa dan kekayaan bahasa Indonesia lainnya. Sarwoko (2007:115) menyebut kekayaan bahasa itu di antaranya idiom atau ungkapan dan peribahasa.

Gaya bahasa. Dalam hal ini menyangkut dua hal. Gaya bahasa yang berarti gaya selingkung, yaitu cara berbahasa yang digunakan oleh media massa, gaya bahasa yang berarti memanfaatkan potensi bahasa itu untuk menyampaikan pikiran para redaktur. Gaya bahasa utama yang kerap digunakan oleh media massa adalah metafora, personifikasi, dan ironi/sinisme.

Metafora adalah semacam perbandingan analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat. Dalam membandingkan tidak menggunakan kata seperti, bak, bagai, laksana. Misalnya, Jokowi membedah Jakarta.

bahasa itu 2

Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Personifikasi merupakan corak khusus dari metafora, yang mengiaskan benda-benda mati bertindak, berbuat, berbicara seperti manusia. Misalnya: Jakarta bergembira menyambut Jokowi.

Ironi atau sindiran adalah suatu acuan yang ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang terkandung dalam rangkaian kata-katanya. Misalnya: Baguslah kalau sepagi ini petugasnya belum pada datang.

Sinisme adalah suatu sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan. Sinisme lebih keras dari ironi. Misalnya: Bagus sekali, pintu sudah dibuka, petugas tidak ada?

Lalu kita melangkah ke idiom/ungkapan dan peribahasa. Idiom adalah kekayaan bahasa Indonesia yang tidak dapat dipersamakan dengan bahasa lain di dunia. Idiom suatu tempat dapat berbeda dengan tempat lain. Untuk menunjukkan keturunan bangsawan, orang Eropa menyebutnya berdarah putih padahal kita menyebut berdarah biru. Dan, pemakai bahasa itu tak pernah mempersoalkan kenapa putih atau biru. Akan tetapi, memang begitulah makna yang dikandung idiom itu.

Itulah idiom, maknanya tak dapat ditangkap melalui kata-kata yang membentuknya (Keraf, 1991:109). Selain itu, kata-kata yang menyusun idiom sudah padu, tak dapat disisipi kata lain. Misalnya kaki tangan berbeda dengan kaki dan tangan atau mati angin berbeda dengan mati dan angin. Makna yang terkandung dalam idiom terjadi begitu saja karena pengaruh lingkungan masyarakat bahasa itu sendiri.

Kemudian peribahasa sama dengan idiom, hanya terkadang makna yang dikandung peribahasa dapat dilacak melalui simbol yang diwujudkan dalam kata-kata. Misalnya:

  • bagai air di daun talas orang yang mudah terombang-ambing pendirian atau tidak teguh hatinya.
  • menghilangkan jejak bagai harimau orang yang pandai menyembunyikan kejahatannya. (Mahayana, 1997)

Fungsi peribahasa dalam tulisan sama dengan idiom, yaitu untuk memperkuat dan menghidupkan tulisan. Kendati frekuensi pemakaiannya tidak banyak, peribahasa kerap muncul untuk lebih melembutkan atau menggambarkan suatu kesan dengan lebih baik.

Tentunya setiap bahasa memiliki kekhasan masing-masing. Yang aturannya berlaku secara khusus dalam bahasa itu sendiri. Bahasa itu unik, jadi tak usah disama-samakan. Salam.

Baca juga:

Bahasa itu Memiliki Aturannya Sendiri
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.