Rajesh Balouria from Pixabay

Bahasa jurnalistik adalah sebuah laras bahasa. Bahasa yang digunakan oleh kelompok profesi atau kegiatan dalam bidang tertentu. Karena itu, ada laras bahasa sastra, ekonomi, keagamaan. Yang masing-masing memiliki kosakata, struktur, dan lafal yang berbeda.

Sebagai media penyampai informasi, laras bahasa jurnalistik tentunya selalu bersinggungan dengan laras bahasa lain. Soalnya, sebagai media penyampai informasi, bahasa jurnalistik tentu diharapkan mampu menjembatani antarlaras bahasa itu. Dengan kata lain, pewarta dapat bereksplorasi dengan laras bahasa lain sehingga bahasa yang digunakan lebih variatif dan enak dibaca.

Di samping itu, bahasa jurnalistik pun harus akrab dengan ragam kedaerahan atau dialek. Mengapa? Sebab, dengan demikian bahasa yang dipakai untuk menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa di daerah tertentu dapat lebih berwarna. Diharapkan informasi yang disampaikan dapat lebih dipahami dan pembaca menyadari bahwa peristiwa tersebut terjadi di suatu tempat.

Memang, bahasa jurnalistik tidak dapat berdiri sendiri. Apalagi, bahasa jurnalistik hanyalah sebuah laras bahasa yang harus bersandar pada ragam bahasa. Tentu saja yang digunakan untuk menyampaikan informasi adalah ragam bahasa baku. Kenapa? Karena hanya bahasa bakulah yang pemakaiannya luas dan memiliki ciri kecendekiaan. Lantaran hubungan seperti itulah, bahasa jurnalistik wajib memelihara bahasa Indonesia. Pasalnya, menurut Anton M. Moeliono (1994), antara laras bahasa jurnalistik dan ragam bahasa baku saling membutuhkan. Ragam bahasa baku ingin menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa modern yang setara dengan bahasa lain di dunia. Adapun laras bahasa jurnalistik memerlukan pengungkapan diri secara modern.

Bahasa yang digunakan media massa bersandar kepada bahasa baku. Tetapi, pemakaian bahasa baku di media massa memang berbeda. Struktur kalimatnya lebih longgar, tidak normatif. Pilihan katanya pun lebih bebas, tanpa beban perihal kebakuannya. Yang membuat seperti itu karena bahasa jurnalistik harus bertutur dengan santai tetapi juga harus memperhatikan norma-norma kebahasaan.

Bahasa jurnalistik berada di antara ragam baku resmi dan santai. Antara bahasa lisan dan tulis. Dalam bahasa lisan, struktur kalimat dan pilihan katanya jelas sangat tidak cermat. Ketika disalin menjadi bahasa tulis di media massa, tentu saja struktur kalimat dan pilihan katanya harus diperbaiki. Soalnya, bagaimanapun, bahasa tulis memiliki aturan-aturan yang tak dapat dilanggar. Tetapi, yang paling penting, kesantaian dan kelancaran tutur bahasa lisan tetap tak ditanggalkan.

Karena itu, bahasa jurnalistik dari sisi penggunaan bahasa dapat disebut sebagai ragam bahasa tengah-tengah atau medial. Seperti disebutkan tadi, terletak antara ragam baku resmi dan santai, antara bahasa lisan dan tulis. Begitu.

Baca juga:

Bahasa Jurnalistik di antara Laras Bahasa Lain
Tagged on:             

7 thoughts on “Bahasa Jurnalistik di antara Laras Bahasa Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.