realitas

Realitas sehari-hari kita sesungguhnya dikonstruksi oleh pengalaman dan bahasa. Kok, bisa begitu?

Menurut Berger dan Luckmann (2012:50—56), bahasa adalah alat simbolis untuk melakukan signifikansi. Logika ditambahkan secara mendasar kepada dunia sosial yang diobjektivasi.

Pengalaman kehidupan sehari-hari terutama menggunakan bahasa. Karena itu, suatu pemahaman mengenai bahasa menjadi wajib untuk memahami realitas sehari-hari.

Namun yang jelas bahasa itu lahir dalam situasi tatap muka. Kendati begitu, kita dapat dengan mudah melepaskan diri dari situasi tersebut. Kita dapat berteriak sendiri, berbicara melalui telepon atau radio, atau menyampaikan arti-arti linguistik melalui tulisan (yang terakhir ini semacam sistem tanda tingkat kedua).

bahasa 1

Sebagai sebuah sistem tanda, bahasa memiliki objektivitas. Bahasa sebagai faktisitas yang berada di luar diri dan mempunyai sifat memaksa. Artinya, bahasa dapat memaksa manusia untuk masuk ke dalam pola-polanya. Bahasa memiliki aturan dan pola sendiri. Kita tidak bisa menggunakan aturan sintaksis bahasa Inggris ketika berbicara dalam bahasa Indonesia.

Sebuah pembicaraan dengan anak-anak tentu berbeda dengan ketika berbicara dengan oang dewasa. Dengan demikian bahasa memberikan kemungkinan yang sudah siap pakai untuk terus-menerus mengobjektivikasi pengalaman yang terus berkembang.

Bahasa juga mengtipikasi pengalaman, sehingga bahasa memungkinkan untuk menggolongkan dalam kategori yang lebih luas. Pengalaman yang sudah ditipikasi dapat ditiru oleh setiap orang dalam kategori yang bersangkutan.

Misalnya, blusukan-nya Jokowi dikategorikan sebagai gaya memimpin yang merakyat. Tipikasi ini tidak hanya bermakna bagi Jokowi sendiri tetapi juga bagi orang lain. Tipikasi juga menganonimkan pengalaman.

Hidup dengan simbol

Bahasa memiliki kemampuan untuk mentransendensikan “di sini dan sekarang”. Bahasa menjembatani wilayah-wilayah yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari dan mengintegrasikannya ke dalam suatu keseluruhan yang bermakna.

Hasil transendensi mampu menghadirkan aneka ragam objek yang menurut ruang dan waktu, dan sosial, tidak berada di sini dan sekarang. Daya transendensi dan integrasi bahasa ini tetap ada walaupun individu tidak benar-benar sedang bercakap-cakap dengan orang lain.

Bahasa mampu mentransendensi kenyataan hidup sehari-hari secara keseluruhan. Ia dapat mengacu pada pengalaman-pengalaman yang menyangkut wilayah-wilayah makna yang tak berhingga. Selain itu, juga dapat menjangkau wilayah-wilayah kenyataan hidup sehari-hari.

Bahasa mampu membangun simbol-simbol yang diabstraksikan dari pengalaman sehari-hari. Juga, mampu mengembalikan simbol-simbol itu dan menghadirkannya sebagai unsur-unsur yang objektif nyata. Artinya, kita setiap hari hidup dalam dunia tanda dan simbol-simbol.

Bahasa membangun bidang-bidang semantik atau wilayah-wilayah makna yang dibatasi secara linguistik. Kosakata, tata bahasa, dan sintaksis disesuaikan dengan organisasi bidang semantik itu. Misalnya, membedakan tingkat keakraban dari bahasa yang digunakan, gender.

Dalam bidang semantik, baik pengalaman biografis maupun pengalaman historis bisa diobjektivikasi, dipelihara, dan diakumulasi. Berkat akumulasi ini, terbentuklah suatu cadangan pengetahuan masyarakat (social stock of knowledge) yang dialihkan dari generasi ke generasi.

Karena itu, interaksi individu dengan individu lain dalam kehidupan sehari-hari terus-menerus dipengaruhi oleh partisipasi dalam cadangan pengetahuan masyarakat yang tersedia.

Jadi, kita sebenarnya sehari-hari kita hidup, berpikir dan sebagainya, dengan bahasa yang kita gunakan. Realitas terbentuk dari bahasa dan pengalaman kita. Salam.

Baca juga:

Bahasa, Pengalaman, dan Realitas
Tagged on:                 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.