banyak menyunting
Banyak Menyunting 

Kendati tidak bergumul dengan ilmu ekonomi ketika kuliah, saya ditakdirkan untuk bergelut dengan naskah ekonomi ketika menyunting. Ada juga sih naskah nonekonomi yang saya garap. Wah, pilihan katanya itu, seksis banget: bergumul, bergelut, garap. Dasar penyunting.

Banyak menyunting, tapi saya bukan Jai Hwa Chat alias Pendekar Pemetik Bunga. Jai Hwa Cat adalah julukan bagi pendekar mata keranjang di cerita silat Kho ping Ho. Saya tidak mata keranjang, tapi mata yang selalu siaga untuk memperbaiki kesalahan. Maklum saja, saya banyak menyunting naskah.

Yap, saya memang penyunting. Si tukang babat dan perias tulisan sehingga kata dan kalimat yang tersusun lebih bermakna. Ilmu bahasa, ya, sudah pasti itu saya kuasai dengan baik. Kemampuan menulis? Sejak tahun pertama kuliah saya sudah rajin menulis untuk koran lokal di Jakarta dan sesekali muncul juga di koran nasional seperti Kompas dan Suara Pembaruan.

Malah, saya juga sempat mengalami honor saya diutang oleh sebuah koran di Jakarta yang bernama Jayakarta keteteran dan kantornya pindah-pindah sebelum tutup. Saya lupa honor saya itu sudah dibayar atau belum. Itu sekitar tahun 1990-an.

Mengenai profesi penyunting, saya tidak tahu kapan tepatnya itu saya lakoni. Yang jelas sejak saya bekerja di media, saya sudah tidak pernah lagi menulis di koran-koran yang biasa langganan saya menulis. Di sinilah saya mulai ikut menyunting buku yang diterbitkan oleh kantor saya, padahal tugas utama saya bukan itu.

Kebanyakan naskah ekonomi

Saya lama bekerja di media ekonomi. Karena media ekonomi, saya pernah dipaksa untuk ikut pelatihan membaca neraca dan ikut kuliah-kuliah ekonomi makro dan mikro dari narasumber tamu di kantor. Saya ikut saja, toh, saya memang kurang paham perihal persoalan yang satu itu. Saya ini lulusan sastra Indonesia.

Barangkali karena itulah, saya acap diberi tugas tambahan menyunting naskah buku ekonomi. Ya, saya memang banyak menyunting buku ekonomi. Bahkan, menyunting buku ekonomi dari luar yang terjemahannya acak-adul. Cape. Di sini semakin menguatkan saya, jika ingin menerjemahkan teks bahasa asing dalam suatu bidang ilmu sebaiknya menguasai ilmu tersebut. Ketika menulis ulang buku hasil terjemahan, saya banyak menemukan banyak terminologi ekonomi yang salah diterjemahkan.

Ketika saya pindah kerja, saya terdampar lagi di media ekonomi. Bila sebelumya saya bekerja di majalah perbankan, kali ini di tabloid bisnis dan ekonomi politik di kelompok KG. Sama juga, saya banyak dilibatkan dalam menyunting buku ekonomi.

Banyak menyunting buku ekonomi, tapi buku nonekomi cukup banyak juga yang saya sunting. Salah satunya, saya pernah menyunting buku biografi Eman Suparman sewaktu menjadi Ketua Komisi Yudisial. Tidak jelas apakah nama saya tercantum di buku itu atau tidak. Tidak masalah.

Sayangnya saya bukanlah orang yang senang mengarsipkan buku-buku yang pernah saya sunting. Alhasil, saya hanya memiliki beberapa buku. Sisanya saya tidak punya sama sekali dan tidak begitu ingat.

Toh, saya sudah menunjukkan, agar sebuah buku enak dibaca dan dipandang, ada peran penyunting di sana. Jadi, siapa yang ingin saya sunting? Lo, kok, malah para perempuan yang unjuk tangan.

Baca juga:

Banyak Menyunting tapi Bukan Jai Hwa Chat
Tagged on:                 

3 thoughts on “Banyak Menyunting tapi Bukan Jai Hwa Chat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.