Olga Filo dari pixabay

Plot dalam komedi biasanya juga bersifat menjebak. Dengan bahasa yang lebih jernih, plot dalam komedi atau lawak juga memakai prinsip set-up dan punchline. Umumnya plot dalam komedi mengandung salah pengertian.

Saya pernah menulis naskah Asep Show yang berjudul “Teroris”. Diceritakan bahwa di rumah Komeng ada teroris. Karena itu, segenap intel pun menyelidiki dan memang kemudian ditangkap orang yang mengendap-endap di sana. Tapi, Komeng bilang teroris itu masih ada. Karena itu para intel pun menyelidiki dengan seksama dan tidak percaya kepada Komeng. Kesimpulannya jangan-jangan Komeng memang terorisnya. Komeng ditangkap, tapi Komeng bilang terorisnya bukan dia tapi ada dalam kulkas. Ternyata, yang dimaksud teroris itu adalah terong yang diiris-iris.

Plot umumnya diawali dengan kejadian yang sebenarnya, yang dibalut dengan kejadian-kejadian lucu, baik oleh permainan kata maupun oleh kekonyolan-kekonyolan lain. Kemudian plot diakhiri dengan punch yang sekaligus penutup atau penyelesaian dari semua persoalan dalam cerita.

Plot komedi di televisi biasanya terbagi dalam tiga atau empat bagian atau segmen untuk durasi 30 menit (termasuk iklan). Misalnya:

Bagian satu, merupakan bagian introduksi. Atau merupakan bagian untuk meyakinkan penonton atas persoalan yang terjadi. Bisa juga merupakan bagian awal dari kejadian-kejadian berikutnya.

Bagian dua, merupakan bagian di mana persoalan mulai bergerak merembet kepada tokoh-tokoh lain. Bagian ketiga, merupakan bagian di mana persoalan semakin rumit. Ini merupakan puncak dari set-up cerita. Bagian keempat, adalah bagian yang merupakan puncline. Artinya, merupakan bagian yang tidak linier yang bersifat menipu atau mengecoh penonton.

Kemudian struktur penceritaannya bisa berlangsung dalam beberapa bagian. Antara satu segmen dan segmen lainnya merupakan rangkaian cerita untuk membangun suatu cerita yang utuh sesuai dengan tema. Kendati memakai set yang sama, pergantian setiap segmen dapat dimulai dengan suatu cerita baru. Kita lihat struktur cerita Ngelenong Nyok yang “Mau dong Kawin Sama Bule”.

Segmen satu, merupakan introduksi siapa Bedu, yang ternyata seorang bule dari Timur tengah, karena itu kulitnya hitam. Bedu sedang mencari jodoh. Segmen dua, menceritakan Adul yang membujuk kakaknya, Yulia, agar mau dijadikan pacar sama bule. Segmen tiga, Bedu menanyakan ke Deswita bahwa jodohnya itu cantik atau tidak. Sementara itu, Yulia senang karena dijodohkan dengan bule yang ganteng yang pernah ditemuinya (Ferry Maryadi). Makanya begitu tahu bahwa bule yang dimaksud adalah Bedu, dia langsung kabur. Lagi pula terbongkar bahwa Bedu mencari perempuan cantik untuk diperdagangkan.

Lain dengan struktur naskah komedi situasi yang linear. Antara segmen satu dengan segmen berikutnya sambung menyambung. Maksudnya, bila dalam segmen satu, misalnya Bedu sedang mengobrol dengan Deswita di pos ronda; pada segmen dua, Bedu dan Deswita harus masih di pos ronda. Kalau dalam segmen dua, ingin menampilkan Bedu di rumah Yulia, berarti dalam segmen satu Bedu harus berjalan keluar dari pos ronda.

Dalam setiap segmen usahakan ada kelucuan, baik itu verbal atau slaptis. Kemudian pada bagian ending, upayakan sebuah punch yang menggelitik. Fungsinya untuk mengikat penonton agar tidak meninggalkan acara tersebut sesudah jeda iklan. Ciri khas Ngelenong Nyok, setiap ending selalu diakhiri dengan mencari korban yang akan dikeroyok, dijitak, dijewer, atau digelitiki.

Begitulah tahapan dalam membuat plot cerita komedi, Semoga bermanfaat. Salam.

Baca juga:

Begini nih, Plot Cerita Komedi
Tagged on:                 

8 thoughts on “Begini nih, Plot Cerita Komedi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.