belajar-menulis

Majalah digital Semesta Seni edisi September 2020 memuat profil saya. Terima kasih. Dengan begitu, saya bisa menyampaikan bagaimana semestinya belajar menulis itu. Ah, ini kebetulan juga saya memang pengajar menulis kreatif dan trainer menulis. Klop. Ini kesempatan yang berharga.

Belajar menulis. Banyak orang yang ingin bisa menulis dengan belajar menulis secara bertahap, tapi banyak juga yang ingin piawai menulis dalam waktu singkat alias instan dengan menihilkan proses. Alhasil, banyak pelatihan menulis yang menawarkan kemampuan instan dan membujuk dengan slogan menulis itu gampang.

Kalau saya ditanya, apakah menulis itu memang gampang? Tergantung. Menulis itu pekerjaan reproduksi, bisa gampang kalau sudah melalui tahapan yang benar. Menulis artikel sejumlah 600 kata, jumlah minimal sebuah artikel, jelas butuh persiapan.

Dalam Semesta Seni saya menekankan bahwa menulis itu merupakan proses. Artinya, artikel atau tulisan apa pun tidak datang begitu saja, ada proses yang menyertainya. Kita acap melihat tulisan bagus dari para penulis kondang, dan kita ingin seperti itu. Tapi, kita melupakan bahwa ada proses panjang sebelum si penulis menjadi kondang.

Keinginan menulis instan tadi timbul karena kemalasan. Akibatnya, lumayan banyak peserta yang mengikuti kelas menulis kreatif yang saya ampu tidak lulus. Karena malas dan ingin instan, akhirnya mereka menyalin tempel alias copy paste tulisan orang lain.

Mereka meremehkan proses. Padahal, sebagaimana saya tulis di Semesta Seni, “…menulis adalah sebuah proses. Karena itu, proses menulis menjadi bagian terpenting di kelas saya.” Tugas-tugas menulis yang mereka kerjakan menunjukkan kesungguhan mereka untuk menulis. Juga kesungguhan untuk berproses.

Perihal kejujuran

Kejujuran amat penting bagi seorang penulis. Seperti tadi, menyalin tempel tulisan orang lain adalah perbuatan tidak jujur dan menjijikkan. Pasalnya, itu sudah membohongi diri sendiri dan orang lain. Lebih menjijikkan lagi, kalau dia mengumpulkan itu sebagai tugas menulis di sekolah atau kampus, dia telah menyuruh guru atau dosennya untuk menilai karya orang lain.

Memang, sebuah tulisan tidaklah mungkin menghindar dari tulisan orang lain sebelumnya. Kita membaca, kemudian terinspirasi untuk menulis. Artinya, kita sudah terinspirasi oleh tulisan itu. Kita juga boleh mengutip, tapi harus jujur dengan menyebutkan sumbernya. Itulah gunanya daftar pustaka atau daftar rujukan.

Bahkan, fenomena salin tempel bukan cuma terjadi di kelas. Beberapa media online pun melakukan hal sama. Menyalin tempel sebuah tulisan lalu dimuat di medianya tanpa menyebutkan sumber. Terlalu. Jangan-jangan mereka itu adalah pelaku salin tempel juga ketika kuliah. Entahlah.

Buku karya

Dulu ketika saya masih sering berlatih teater, acap teman-teman saya berujar, latihan melulu kapan pentasnya. Itu juga yang ingin saya buktikan, tidak hanya berlatih atau belajar menulis karya, tapi tidak pernah dipublikasikan. Saya berusaha keras agar tulisan mereka yang berhasil lolos dan terhitung baik untuk dibukukan.

Saya beranggapan membukukan atau mempublikasi karya itu penting. Dengan dimuatnya tulisan mereka dalam buku, itu akan membangkitkan semangat untuk menulis. Hal itu saya rasakan. Dulu ketika mahasiswa saya acap menulis untuk koran.

Apa yang membuat saya terus menulis hingga akhirnya bekerja di media? Karena tulisan saya dimuat. Tampilnya karya kita di buku atau media merupakan sebuah motivasi yang luar biasa. Apalagi, ketika kemudian menulis lagi lalu dimuat kembali. Wah, menulis akan menjadi sebuah kebutuhan.

Tulisan yang dibukukan pun amat berguna. “Buku itu pun menjadi portofolio mereka ketika mulai menapaki dunia kerja. Buku menjadi bukti bahwa mereka mampu menulis dengan baik,” tulis saya di media digital edisi September itu.

Saya ingin mereka tidak cuma belajar menulis tapi juga belajar menjadi penulis. Yang membahagiakan saya, bila ilmu menulis yang saya ajarkan bisa bermanfaat bagi peserta. Artinya, apa saya sampaikan ketika mereka belajar menulis tidak sia-sia.

Yang perlu saya tekankan, menulis adalah hasil reproduksi dari pengalaman dan apa yang kita baca. Penulis yang baik, biasanya juga pembaca yang baik. Karena itu, rajinlah membaca agar lebih baik dan lebih baik lagi.

Demikian review apa yang saya sampaikan di Semesta Seni, semoga bisa bermanfaat. Semoga kita selalu terpacu untuk belajar menulis dan membaca dengan baik. Salam.

Baca juga:

Belajar Menulis agar Lebih Baik
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.