Berani Memotivasi Diri Sendiri untuk Menulis
SUATU ketika teman-teman dari unit kesenian di UNJ sekitar tahun 2012, kalau tidak salah ingat, meminta saya untuk mengajari menulis naskah lakon Betawi alias lenong. Saya setuju. Sebab, tradisi Lenong memang sudah mengakar dalam unit kegiatan itu. Dulu, saya dan kawan-kawan seangkatan yang mengusung tradisi awal tersebut. Dulu kami menyebutnya LA alias Lenong Alternatif

Tidak seperti yang orang pahami, naskah lenong yang kami buat itu bukan sekadar sinopsis, treatmen, atau drip. Naskah yang kami buat lengkap dengan dialog dan joke-nya. Alhasil, kelucuan sudah tertakar sejak di naskah. Orang-orang yang merasa tidak lucu bisa ikut bermain karena ada dialog seperti naskah lakon pada umumnya. Ini pula yang kami usung ketika berkesempatan membuat Ngelenong Nyok di TransTv.

Mereka menyebut kegiatan ini “Workshop Penulisan Lakon Lenong”. Ada lima orang peserta. Saya mendesain latihan itu dalam lima kali pertemuan atau satu kali pertemuan dalam satu pekan. Jadi, pada pertemuan kelima mereka sudah mempunyai naskah.

Pertemuan pertama hanya membahas apa itu lenong. Sejarahnya, jenisnya. Nah, yang biasa kami mainkan adalah lenong jago atau preman, yang ada silat dan pantunnya. Saya mengenalkan bentuk naskah lenong yang hanya berupa sinopsis lengkap tokoh-tokoh yang bermain, lalu naskah lenong full dengan dialognya.

Pertemuan berikutnya saya mulai menggali ide penulisan, membuat peta konflik, pembabakan, setelah itu dilanjutkan dengan menulis. Ternyata, dari lima peserta itu yang berhasil menulis hingga menjadi naskah siap untuk dimainkan hanya satu. Mengapa?

Motivasi. Mereka tidak memiliki orang untuk memberi motivasi bahwa mereka bisa menulis. Kedatangan saya pada setiap pertemuan membuat mereka sibuk menyelesaikan tugas yang saya berikan. Positif. Saya sudah bisa membangkitkan semangat untuk menulis.

Lantas, mengapa hanya satu orang yang bisa menyelesaikan naskah? Ini persoalannya. Ternyata untuk menyelesaikan tulisan yang sudah dimulai memerlukan usaha yang cukup keras. Karena untuk menyelesaikan naskah perlu menyediakan waktu khusus, karena tidak mungkin selesai dalam satu menit. Musuh utama dari kegiatan ini adalah kemalasan.

Karena itu, selain motivasi dari luar, perlu juga motivasi dari dalam. Ini yang tidak dimiliki oleh teman-teman yang tidak mampu menyelesaikan naskah lakonnya. Jadi, secanggih apa pun pelatih atau instruktur yang mengajari menulis tidak akan berdampak apa pun bila kita tidak mampu memotivasi diri sendiri.

Jadi, mulailah berani untuk memotivasi diri sendiri, seperti kata Pramudya Ananta Toer, “Menulis adalah sebuah keberanian…”

Baca juga:

Berani Memotivasi Diri Sendiri untuk Menulis

2 thoughts on “Berani Memotivasi Diri Sendiri untuk Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.