Dari media kita bisa belajar bagaimana menulis dengan benar, termasuk bagaimana mengeja kata dengan benar. Sayangnya, kesalahan paling mencolok dari media massa dan diikuti masyarakat adalah pemakaian kata.

Masyarakat yang kurang begitu memperhatikan bahasa pasti tidak terlalu peduli mana yang betul dari bentuk kembar resiko-risiko, sekedar-sekadar, cidera-cedera, film-filem, teve-tivi-TV. Sebab, media massa mengejanya pun begitu: ada yang memakai resiko ada risiko. Selain itu, media massa kita dengan tanpa dosa menuliskan kata ganti kita yang mestinya kami. Belum lagi seenaknya memenggal kata berpasangan yang idiomatis seperti sesuai dengan hanya ditulis sesuai.

Kesalahan pada struktur kalimat. Masyarakat mencontoh penggunaan kalimat dari media massa yang agak kurang bertanggung jawab. Dengan begitu, banyak sekali orang yang membuat kalimat tanpa subjek, memulai kalimat dengan kata depan, terbawanya struktur bahasa lisan dalam bahasa tulis.

Suroso (2001) dengan agak sengit menyebutkan penyimpangan media massa yang lain adalah penghilangan imbuhan dalam judul berita. Yang dihilangkan imbuhannya adalah kata kerja aktif. Misalnya, Amerika Bom Irak yang mestinya Amerika Mengebom Irak, Tentara Israel Tembak Anak Palestina yang semestinya Tentara Israel Menembak Anak Palestina. Namun, sesungguhnya penghilangan imbuhan dalam judul merupakan satu-satu penyimpangan yang boleh dilakukan.

Tampaknya ini merupakan sebuah kesepakatan tidak tertulis antara insan pers. Maka itu, Rosihan Anwar (1984:87) mengatakan, “Saya pribadi tidak keberatan.… Akan tetapi, pemakaiannya jangan sampai dipukul rata sehingga merembet ke tubuh berita.” Sesungguhnya, tradisi penghilangan imbuhan dimulai oleh pers Melayu-Tionghoa. Lantas, Suroso juga menyebutkan perihal pemenggalan kata yang tidak tepat. Persoalan yang satu ini menyangkut teknologi.

Itu semua terjadi akibat kecerobohan pengelola media massa, yang lebih mementingkan informasi. Padahal, sebuah tulisan yang dikemas dengan bahasa yang baiklah yang mudah dimengerti pembaca. Anhar Gonggong (Kompas, 6 Oktober 1999), pakar sejarah yang juga pengamat komunikasi, mengatakan, ”Media pada dasarnya juga alat mendidik. Dengan bahasa yang baik dan tepat, apa yang dimaksud akan dengan mudah dan cepat dipahami.”

Yang kerap terjadi di media massa kita adalah penyalinan, tanpa mengubah sedikit pun, bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Ini jelas merupakan kecerobohan besar, kecuali untuk kutipan langsung. Sebab, bagaimanapun, bahasa lisan lebih banyak cacatnya ketimbang bahasa tulis.

Karena itulah kita sebagai penulis harus menyadari bahwa tulisan kita dibaca banyak orang sehingga ada kemungkinan tulisan kita dijadikan model ketika orang belajar menulis. Memilih kata secara cermat akan membuat tulisan kita lebih cendekia dan mudah dipahami. Salam.

Baca juga:

Berguru Menulis ke Media
Tagged on:                     

6 thoughts on “Berguru Menulis ke Media

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.