Sebuah kelompok lawak bisa diterima masyarakat, karena membidik kelas yang benar-benar tepat sesuai dengan pemirsanya.

Selain itu, sebuah grup harus memiliki konsep lawakan yang jelas. Artinya, ketika kita akan mulai memasarkan lawak kita, kita harus dapat menentukan apa sesungguhnya segmen pasar yang kita sasar? Remaja, dewasa, intelektual, konyol-konyolan, anak-anak.

Ini catatan yang pernah saya buat, sebagaimana tertulis dalam buku saya. Saya masih ingat dulu ketika masa jayanya Bagito. Nama Bagito begitu terkenal untuk kalangan menengah, tapi sesungguhnya tidak terlalu disenangi oleh kalangan bawah.

Bahkan oleh kalangan bawah lawakan Bagito acap dijuluki sebagai lawakan susah. Juga acap disebut lawakan kritik. Tapi, segmen yang disasar memang itu. Sudah begitu, didukung pula oleh pencitraan Miing sebagai orang yang cenderung serius dan berintelektual dengan seringnya tampil sebagai moderator di seminar atau diskusi.

Lawakan Cagur dan Patrio boleh dibilang mengarah ke segmen yang sama. Yaitu: remaja perkotaan yang terpelajar. Lantaran itu, slang yang kerap berlaku di kalangan remaja juga menghiasi lawakan mereka. Kalau sering menonton Chating atau Ngelaba di TPI, pasti bisa merasakan hal tersebut.

Arah lawakan

Adapun Srimulat, sejatinya lawakannya lebih mengarah ke kelas menengah bawah. Karena itu, lawakan mereka cenderung slaptis dan lawakan verbalnya pun hanya menyentuh bagian terluar dari permainan kata. Kita sering mendengar ungkapan “hil hil yang mustahal” atau ungkapan “sudah pindah toh” ketika si pelawak mengucapkan sesuatu yang tidak ada. Misalnya:

  • Saya ingin jadi presiden?
  • Itu tidak mungkin. Itu merupakan hil-hil yang mustahal.
  • Ya, sudah saya mau ketemu presiden saja.
  • Di sini enggak ada presiden
  • La, sudah pindah toh!

Untuk menentukan arah lawakan, sebenarnya ini didukung oleh tingkat pemahaman kita terhadap psikografi dari segmen yang disasar. Misalnya, bila kita melawak untuk segmen remaja kita bisa mengulik detail dari remaja. Usia mereka sekitar 12 tahun hingga 21 tahun; mereka pada dasarnya pemberontak atau antikemapanan; sibuk dengan diri sendiri seperti soal penampilannya, soal pacarnya; hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua, guru, kakak, adik; senang hura-hura seperti belanja, nonton, pesta; bisa mengidolakan orang secara berlebihan.

Demikianlah, semoga ini dapat menjadi modal bagi kita yang akan menulis naskah komedi. Salam.

Baca juga:

Bidik yang Jelas, Biar Semakin Berkelas
Tagged on:                     
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.