Rob Slaven dari PIxabay
Komika / Rob Slaven (PIxabay)

Kenapa humor harus bertanggung jawab? Sebab, kalau tidak bertanggung jawab, bisa keburu hamil. Kenapa humor bikin lucu? Sebab, kalau bikin kue itu ibu-ibu.

Kelucuan yang terjadi karena ada suatu ketidaklaziman atau aneh itu tadi. Bila orang berpikir lurus atau linear, para pelawak harus membelokkan yang lurus dan linear tadi. Judy Carter dalam bukunya, The Comedy Bible: From Stand Up to Sitcom, berujar, “We funny people are not normal.” Pelawak memang harus berpikir tidak biasa. Hal itu sama saja dengan mengajak seorang penikmat humor berjalan lurus, tiba-tiba dijebloskan ke selokan.

Humor sejatinya menggiring orang untuk berpikir lurus lalu membelokkan secara tiba-tiba. Mari kita analisis sedikit. Pada kalimat humor harus bertanggung jawab, referen orang yang mendengarnya adalah humor itu sendiri yang lucu dan bisa membuat tertawa.

Pada jawaban kalau tidak bertanggung jawab, bisa keburu hamil, ini referennya adalah kecelakaan dua remaja karena berbuat yang tidak benar. Kalau kedua hal tersebut disatukan, yang terjadi adalah “kelucuan”. Dalam pola humor klasik, pertanyaan disebut set-up dan jawabannya adalah punchline.

Benar juga apa yang dikatakan Teguh Srimulat yang mengatakan humor itu logika yang menyimpang. Dia menambahkan humor itu aneh. Makanya, kita bisa melihat penampilan Gogon dengan rambut jambulnya, atau Mamik “Kepodang” Prakoso dengan rambut di sisi kepalanya bak bulu burung merpati. Tentu kita masih ingat Asmuni dengan kumis caplinnya.

Yang lebih ilmiah

Teori yang lebih ilmiah datang dari Arthur Schopenhauer. Menurut si Schopenhauer, yang bisa bikin ketawa ini disebut ludicrous (Sarwoko, 2011:19). Nah, ludicrous ini adalah ketidaknyambungan persepsi yang kita terima dengan kenyataan. Nah, ketawa itu akan makin meledak ketika ketidaknyambungan itu semakin kuat.

Selain Schopenhauer, ada Arthur Koestler, yang terkenal dengan teori bisosiasi (bisosiation). Koestler melihat teks humor seperti sebuah koin. Artinya, teks humor atau joke itu memiliki dua sisi. Satu sisi yang berasosiasi pada kenyataan dan satu lagi berasosiasi dengan kenyataan yang lain. Gampangnya satu sisi berisi logika yang lurus, yang satu lagi berisi yang menyimpang. Ada ambiguitas yang ditimbulkan oleh kedua sisi (skrip) di sana. Koestler sendiri bilang, “the word ‘strikes’ is ambiguous as it can belong to both scripts”.

Victor Raskin dalam bukunya yang bertajuk Semantic Mechanism of Humour (1984) berpendapat hampir sama dengan Koestler. Dia juga melihat bahwa humor sebenarnya memanfaatkan keambiguan pada sebuah teks dengan mempertentangkan makna pertama dengan makna kedua. Raskin bilang, sebuah teks humor adalah sebuah teks yang berisi ketidakselarasan, sebagian atau keseluruhan, dengan melibatkan dua skrip; dan dua skrip yang membangun keselarasan itu bertentangan secara khusus (Krikmann, 2007).

Joke model seperti itu—menurut Mel Helitzer, profesor pengajar penulisan humor di Ohio University—merupakan permainan kata alias POW (play on words). Bahkan Helitzer (2005:61) menuturkan bahwa humor hampir didominasi oleh joke model ini.Permainan kata itu dengan memanfaatkan potensi bahasa seperti asosiasi atau perbandingan, sinonim, antonim, dan sebagainya.

Humor yang bertanggung jawab

Kenapa saya bilang humor harus bertanggung jawab? Karena bisa hamil…ha ha ha. Artinya, apa yang kita humorkan hendaknya mempunyai referensi yang benar. MIsalnya, jumlah penduduk Indonesia itu 135 juta jiwa seperti lagu Rhoma Irama atau berapa? Itu harus dicek. Sebagai penulis skrip komedi, saya juga selalu menekankan kepada penulis junior untuk menulis dengan data yang benar. Soal pelawak memainkan naskah kita dengan kacau, itu sudah di luar wewenang penulis.

Bertanggung jawab juga berarti kita sudah memperhitungkan efek yang ditimbulkan dari humor yang kita lontarkan. Pada sekitar tahun 90-an kita acap disajikan oleh lawakan yang “menyerempet-nyerempet”. Kita pernah dengar pelawak yang akhirnya harus berurusan dengan polisi karena menghumorkan Gus Dur yang ketika itu menjadi presiden. Padahal, tradisi mengkritik itu sudah biasa dalam stand uo comedy.

Bertanggung jawab juga berarti kita ikut mendukung dengan membuat humor yang dapat mencerahkan. Kita memberi informasi baru kepada audiens kita. Saya sendiri, prihatin dengan gaya lawakan yang sangat tidak memperhitungkan lingkungan.

Lawakan kasar yang kini sedang marak di teve kita adalah lawakan dengan merusak properti. Misalnya menyuruh lawan mainnya untuk duduk di kursi yang terbuat dari styrofoam sehingga lawan mainnya itu terjatuh dan kursi itu hancur. Penonton tertawa.

Atau lawan mainnya ditimpuk dengan batu besar yang terbuat dari styrofoam, atau menabrak dengan gerobak styrofoam, bahkan mendorong lawan mainnya agar menabrak rumah yang terbuat dari styrofoam hingga rumah itu hancur berkeping-keping. Padahal, styrofoam terbuat dari bahan yang tidak mudah diurai oleh alam. Lawakan model ini menjadi suatu “keharusan” di stasiun teve lain. Salam.

Baca juga:

Bikin Humor, Siap Tanggung Jawab
Tagged on:             

5 thoughts on “Bikin Humor, Siap Tanggung Jawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.