drasanto

Ketika saya memberesi arsip, saya menemukan cerita anak yang pernah saya tulis. Saya tidak ingat dibuat tahun berapa, yang pasti sudah lama sekali. Saya pikir, daripada cerita ini masuk kembali ke dalam arsip, lebih saya berbagi di sini. Senyampang masih dekat dengan peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, inilah cerita anak itu. Selama menikmati.

Kelelawar mencericit beterbangan di seputar puri tua yang angker itu. Kelebat bayangan di dinding yang ditingkah suara burung hantu membuat suasana makin mencekam. Puri tua itu benar-benar ada hantunya. Tidak juga. Kelebat bayangan itu adalah daun pohon angsana yang tertiup angin dan tertimpa redupnya cahaya bulan.

Lambaian daun angsana yang tertiup angin menyentuh-nyentuh kaca jendela di lantai atas puri tua itu seperti jemari yang mengetuk-ngetuk kaca. Dari balik jendela terlihat sesosok tubuh mungil yang sedang terlelap tidur. Selimutnya berjuntai ke lantai. Namun, sosok mungil itu tetap rapi dalam setelan jas dan dasi kupu-kupu. O, ya…dialah makhluk yang berjuluk “drakula”. Jangan takut, drakula yang satu ini tidak akan menggigit. Drakula jinak? Tidak juga, tapi karena dia sedang tidur …he, he, he!

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar, ”tok, tok, tok…!”

“Drasanto…bangun hari sudah malam,” ujar sebuah suara yang berat.

“Ya, ayah…tapi aku mengantuk.”

“Bangunlah, bangsa drakula selalu bangun pada malam hari.”

“Tidak ayah…”

Drakula bocah yang bernama Drasanto itu mengambil selimutnya dan menyelimuti tubuhnya. Dia memang berbeda, tidak seperti drakula lain. Drasanto tidak suka bangun pada malam hari lalu bermain-main. Dia lebih senang bangun pagi. Bukankah begadang tidak baik bagi anak-anak sebesar dirinya. Benar sekali, tapi Drasanto kan drakula.

***

Puri pada pagi hari adalah tempat yang menyenangkan. Halaman yang luas di sekitar puri merupakan tempat favorit anak-anak untuk bermain. Ada yang berlarian mengejar kupu-kupu, ada yang bermain sepak bola, ada yang bermain lompat tali. Semua bergembira.

Tiba-tiba pintu puri terbuka. Anak-anak tertegun.

“Halo, namaku Drasanto…!” kata Drasanto memperkenalkan dirinya.

“Ada drakula…ada drakula!” Anak-anak berlarian menjauhi Drasanto. Semua anak pergi. Eit, tidak juga. Masih ada satu anak perempuan tertinggal di sana. Mengenakan kaos merah dan rok jins, bocah perempuan itu tersenyum. Drasanto mendekati.

“Kamu tidak takut?” tanya Drasanto pada bocah perempuan itu.

“Tidak.”

“Siapa namamu?”

“Icha.”

“Kamu mau menjadi sahabatku.”

“Tentu saja mau Tuan Dransanto,” kata perempuan kecil berpita merah itu dengan jenaka.

Mereka tertawa bersama. Drasanto senang akhirnya ada anak yang tidak atkut terhadap dirinya. Drakula cilik ini segera akrab dengan bocah perempuan yang lincah itu. Tapi, ada yang membuat Drasanto heran terhadap Icha.

“Sejak tadi aku lihat kamu selalu memejamkan mata,” ujar Drasanto.

“Sebenarnya sejak tadi aku takut,” jawab Icha dengan mata terpejam.

***

Drasanto berlari pulang ke puri. Dia sedih. Semua anak takut padanya, bahkan Icha yang tidak mau menemaninya mengobrol. Saat itu Drasanto hanya bisa memandangi anak-anak di depan rumahnya dari balik kaca jendela kamarnya.

Dia tidak mau mengganggu keasyikan bermain anak-anak itu dengan kemunculan dirinya. Ya, dia dengan anak-anak itu memang berbeda. Drasanto menyesal kenapa dilahirkan sebagai bangsa drakula. Dari namanya pun semua orang tahu bahwa dirinya drakula. Semua bangsa drakula mengunaan nama depan dra-.

Ayahnya Dramukti, ibunya Drasurti. Drasanto benci nama itu. Ingin rasanya dia membalik namanya menjadi Santodra, sehingga mungkin orang akan mengira dirinya kemenakannya Mandra, sang komedian kondang.

Ibunya membuka pintu kamar dan memandang Drasanto dengan penuh kasih sayang. Drasanto memandang ibunya.

“Aku tidak punya teman Bu.”

“Tidak anakku. Nanti mereka pun mau berteman dengamu.”

“Benar, Bu!”

“Ya, mereka takut karena mereka belum terbiasa denganmu.”

“Maksud Ibu.”

“Wajahmu yang bertaring mungkin menakutkan bagi mereka.”

Drasanto mengganguk-angguk.

Pintu kamar tertutup.

***

Pagi itu anak-anak kembali berlarian di sepanjang halaman puri yang luas. Semua gembira ria bermain seperti biasa.

Tapi, ada yang tidak biasa di dalam puri. Ayah dan Ibu drakula mencari-cari Drasanto. Anak semata wayang mereka tidak ada dalam puri. Ayah dan Ibu memeriksa kamar Drasanto dengan saksama.

Di meja belajar Drasanto, Ibu menemukan sepasang taring. Ibu tersenyum dan segera berlari ke tepi jendela.

***

Drasanto mendekati anak-anak yang sedang bermain.

“Namaku Drasanto,” ujar drakula cilik itu.

Anak-anak memandanginya dan tersenyum. Yess, Drasanto terlonjak girang. Segera dia berlari bersama Icha, Deni, Adit, Budi, dan Ira. Mereka mengejar kupu-kupu, bermain sepak bola , bermain lompat tali, dan sebagainya.

“Kamu sekarang sudah tak bertaring,” ujar Icha.

“Kamu tak memejamkan mata.”

“Tidak. Kamu sekarang lucu. Masak main bola memakai jas lengkap, memangnya mau kondangan.”

Semua tertawa. Drasanto memandang ke arah jendela. Dia tahu di balik jendela itu pasti ibunya juga tertawa.

“Drasanto kita main bola lagi,” ujar Adit sambil menendang bola.

Drasanto segera berlari mengejar bola. Budi mengikuti di belakang Drasanto. Lalu, drakula cilik itu menendang bola sekeras-kerasnya, bola melambung tetapi dapat disundul Adit. Begitu seterusnya mereka bermain.

Hari-hari Drasanto kini tidak sunyi lagi. Dia dapat bermain bersama teman-temannya kapan saja. Teman-temannya tidak taku lagi pada dirinya, bahkan ketika dirinya lupa membuka taringnya.

***

“Teman-temanmu sudah dapat menerima perbedaan,” kata ibu ketika menemani Drasanto tidur.

“Seharusnya memang begitu kan Bu.”

Ibu mengangguk. “Betul. Karena Tuhan memang menciptakan makhluk-Nya berbeda-beda.”

***

Suatu kali Drasanto begitu semangat bermain sehingga kelelahan sekali dan tergeletak tak berdaya. Teman-temannya begitu cemas, apalagi wajah drakula cilik itu terlihat agak pucat. Mereka segera mengangkat Drasanto yang masih saja mengenakan setelan jas lengkap dan dasi kupu-kupu ke bawah pohon ceri yang rindang.

“Aku minta minum…” ujar Drasanto lirih.

Teman-temannya saling pandang. Icha segera menyodorkan termos airnya. Drasanto menggeleng. Semua tidak tahu air apa yang diinginkan Drasanto. Adit ingat, di film-film drakula salalu minum darah. Bulu kuduk Adit berdiri. Merinding. Adit membisiki Ira. Mereka saling berpegangan tangan erat-erat.

Drasanto paham bahwa teman-temannya bingung.

“Ambilkan botol air di tasku,” kata Drasanto.

Budi cepat mengambilkan sebotol air di tas kecil yang selalu dibawa Drasanto. Semua terperangah ternyata air di botol itu berwarna merah. Darah?

Drasanto meminum air itu dengan tergesa-gesa sehingga warna merah mengotori dagu dan sekitar mulutnya. Wajahnya mulai berseri lagi. Drasanto menyeringai, taringnya begitu mengkilap. Matanya berkejap-kejap.

“Aku sekarang menjadi drakula sesungguhnya…” kata Drasanto.

Teman-temannya mundur selangkah. Adit dan Ira makin gemetar.

“Kamu sudah minum darah?” ujar Icha.

“Tentu saja tidak. Ini kan sirop stroberi…”

Anak-anak menarik napas lega. Lalu semua anak meminum sirop stroberi milik Drasanto. Semua menyeringai dan mengejar-ngejar Drasanto. Sudah tak ada perbedaan di antara mereka.

Baca juga:

Cerita Anak: Drasanto Si Anak Drakula
Tagged on:                 

8 thoughts on “Cerita Anak: Drasanto Si Anak Drakula

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.