Renep Fister from Pixabay

Seorang teman muda yang sedang belajar menulis dengan saya datang dengan wajah ditekuk. Dia itu terkenal kritis, kadang-kadang waktu yang mestinya untuk berlatih menulis dihabiskan dengan mendebat saya perihal pemakaian kata. Kali ini melihat gelagatnya, dia akan melontarkan persoalan baru. Yang saya khawatirkan, bila ada masalah kecil yang kemudian dibesar-besarkan oleh dia.

Benar saja, begitu duduk di bangku teras rumah saya, dia sudah memberi oleh-oleh saya dengan pertanyaan, “Mengapa kita harus menulis dengan membesarkan?” Wah, benar saja dia berbicara soal membesarkan. Untung, dia lalu memperjelas bahwa yang dimaksud mengapa kita harus menulis dengan membesarkan atau menulis huruf besar. Belum lagi saya bicara dia sudah menambahi bahwa yang ditanyakan bukan bagaimana menggunakan huruf besar, melainkan alasan logisnya mengapa huruf besar diperlukan.

Dia beralasan, kalau hanya ingin mengetahui pemakaian huruf besar, dia bisa membacanya di PUEBI. Saya memberi jempol padanya. Dia bersungut-sungut, jangan cuma memberi jempol, tapi jawab. Mengesalkan sebenarnya anak ini.

Ya, secara rasional huruf besar atau kapital memang diperlukan, agar kita tidak tersesat dalam menulis dan membaca.

Huruf kapital membedakan makna. Ketika menulis, kita harus hati-hati, jangan sampai menyesatkan pembaca. Misalnya dalam kalimat Saya akan datang ke rumah minggu ini, maknanya saya akan sampai di rumah tidak tentu, tapi dalam seminggu ini . Lalu bagaimana bila saya menulis Saya akan datang ke rumah Minggu ini. Maknanya berbeda, minggu dengan huruf kecil dan besar sudah membedakan arti. Makna kalimat kedua, saya akan datang hari Minggu.

Huruf kapital menyadarkan pembaca bahwa dia akan menghadapi ide baru. Nah, penulis harus sadar itu. Itulah mengapa permulaan kalimat selalu diawali dengan huruf kapital. Seperti kita ketahui, satu kalimat membawa satu ide, ketika ada ide lain berarti itu kalimat baru.

Huruf kapital bisa juga digunakan penulis untuk menekankan sesuatu yang dianggap penting. Misalnya Dia menyamar menjadi pembeli barang itu di pasar gelap. Untuk menekankan bahwa pasar gelap itu harus dimaknai berbeda atau dianggap penting, saya bisa menulis Dia menyamar menjadi pembeli barang itu di Pasar Gelap.

Huruf kapital membuat pembaca sadar bahwa yang dia baca itu nama atau wilayah atau jabatan. Kalau saya menulis Menjelang berbuka banyak orang berjualan bika ambon. Tapi, saya juga bisa menulis Menjelang berbuka banyak orang berjualan bika Ambon. Meskipun sama, tapi huruf kapital sudah membedakan arti. Pada contoh pertama merujuk pada nama makanan, contoh kedua menunjukkan pertautan dengan wilayah.

Saya yakin, masih ada alasan logis lain mengapa kita harus menulis huruf besar. Namun, dengan empat poin itu rasanya saya sudah bisa menjawab pertanyaan teman saya itu. Saya menoleh, teman saya itu malah tidur di bangku. Ya, sudah saya berjalan pelan-pelan ke dalam, jangan sampai membangunkan teman saya itu, nanti diberondong lagi dengan pertanyaan. Salam.

Baca juga:

Coba Jawab, Mengapa itu Harus Dibesarkan
Tagged on:                         

7 thoughts on “Coba Jawab, Mengapa itu Harus Dibesarkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.