Kan kujaga / Enrique-Meseguer (Pixabay)

“Maukah kau menjadi istriku,” kataku sambil menyodorkan setangkai mawar kepada gadis belia yang duduk di hadapanku.

Mahasiswiku yang cantik, cerdas, dan ceria itu memandangku. Air mata mengalir di pipinya. Dia merasa bahagia dengan lamaranku? Entahlah, yang kutahu selama ini dia acap bermanja-manja padaku. Acap menemuiku seusai kuliah dan mau menemaniku berjam-jam di perpustakaan untuk mencari materi untuk jurnal yang akan aku tulis.

Aku memang merasa nyaman ketika berbicara dengan gadis ini. Tampaknya, dia juga merasakan hal yang sama dengan aku.

“Bapak begitu romantis dan penuh pengertian,” kata gadis itu sambil menghapus air matanya. “Sekarang saya mengerti, mengapa Ibu sangat mencintai Bapak.”

“Siapa Ibumu?” kataku sambil menatap dalam-dalam wajah mahasiswiku itu. Ah, tidak perlu bertanya lagi, aku tahu siapa ibu gadis belia ini. Dia perempuan yang sangat aku cintai. Dulu aku terpaksa merelakan ibu gadis ini untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Ah, apa dia masih seperti dulu.

“Ketika aku lahir, Ibu memutuskan bercerai dari suami pilihan orang tuanya. Ibu tidak mau menikah lagi. Dia berharap suatu saat dapat bersama dengan Bapak.”

Aku tercenung. Ah, andai saja aku tahu. Tentu saja akan kudatangi kamu, akan kupinang. Kita bisa melanjutkan kisah cinta kita yang sempat terputus. Kamu juga harus tahu, hingga detik ini aku juga tidak menikah. Aku tidak ingin kenangan indah kita, terhapus oleh perempuan lain.

***

“Sekarang ibumu di mana?”

“Waktu saya SMA, ibu sakit dan bercerita bahwa ada lelaki yang selalu ada di hatinya dan menjadi dosen di universitas ini. Ibu sebenarnya ingin bertemu Bapak, tetapi khawatir akan mengganggu rumah tangga bapak.

“Sekarang ibumu di mana?”

“Ibu sudah meninggal…,” kata gadis itu sambil tertunduk.

Aku terdiam. Aku merasakan kehilangan yang amat sangat. Mataku sedikit berkaca-kaca.

“Maukah Bapak menjadi bapak saya, agar saya dapat terus merasakan kasih sayang Bapak. Sesuatu yang tidak pernah dirasakan oleh Ibu saya.”

Aku peluk gadis belia ini dengan rasa haru yang amat dalam. “Dik, akan kujaga dan kurawat anakmu ini seperti anakku sendiri,” kataku kepada awan yang berarak di langit senja.

Baca juga:

Dik, Akan Kujaga Mahasiswi yang Cerdas ini
Tagged on:                     

6 thoughts on “Dik, Akan Kujaga Mahasiswi yang Cerdas ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.