Tidak perlu merasa menyesal karena menghasilkan tulisan yang tidak sempurna. Justru itu memberi kesempatan pada diri kita dan orang lain untuk melahirkan tulisan yang lebih baik.

Seorang peserta kelas menulis kreatif datang dengan wajah kurang sedap. Matanya sayu, aura yang terpancar dari wajahnya begitu redup. Dia membawa buku kumpulan cerpen. Ya, inilah buku kumpulan cerpen teman sekelasnya. Dia menyodorkan halaman buku yang sudah dia lipat kepada saya.

Dia mengatakan bahwa dia malu karena tulisannya banyak kekurangannya. Saya hanya mengangguk tanpa bicara. Saya ingin dia tuntas mengeluarkan isi hatinya. Deskripsi tokoh utamanya, menurutnya, kurang kuat menggambarkan karakter. Lalu, ada beberapa dialog yang kurang pas.

Sejatinya, cerpen yang bisa dimuat dalam kumpulan cerpen adalah cerpen yang sudah bagus. Artinya sudah enak dibaca, plotnya menarik, gaya bertuturnya mengalir. Hanya itu. Saya berusaha memahami peserta kelas menulis kreatif ini. Bisa jadi, ada yang baru pertama kali menulis cerita, bisa jadi ada yang baru merasakan senang menulis. Karena itu, kalau saya menerapkan kriteria yang terlalu tinggi, saya merasa tidak adil kepada teman-teman saya itu.

Perilaku tidak puas terhadap karya kita sendiri, sejatinya bagus. Hanya tidak berarti kita harus menunda tulisannya untuk dipublikasikan. Ketidakpuasan pada karya kita sebelumnya bisa diperbaiki pada karya berikutnya. Tidak perlu menyesali apa yang sudah kita tulis, yang paling penting kita bertekad memperbaikinya pada tulisannya berikutnya.

Teman saya itu tetap bersedih. Saya hanya mengingatkan bahwa tidak ada karya yang benar-benar sempurna. Justru ketidaksempurnaan itu merangsang orang untuk melahirkan karya berikutnya. Kalau karya kamu, kata saya, benar-benar sempurna tanpa celah malah akan membuat orang bingung, yang menulis ini manusia atau Tuhan.

Yang penting bagi saya, ketidaksempurnaan pada karya kita hendaknya dijadikan cambuk untuk menghasilkan karya lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan mengulang kesalahan yang sama. Seperti kata penulis Harry Potter, JK Rowling, “Menulis seperti mempelajari instrumen, memukul kunci yang salah adalah bagian dari proses.” Salam.

Baca juga:

Duh, yang Menulis itu Kamu Apa Tuhan
Tagged on:                 
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.