Nicole Miranda dari Pixabay

Pernah menonton lelucon fisik? Pasti pernah kalau pernah melihat komedian mengolok-olok kekurangan atau kelebihan fisik lawan mainnya. Lucu sih, tapi enggak mutu.

Lawakan fisik adalah lawakan yang modal dasarnya mengeksploitasi kelemahan dan kelebihan fisik lawan mainnya. Biasanya komedian yang berbadan kecil dan berbadan jumbo acap menjadi objek lawakan model ini. Bukan cuma fisik, keanehan cara berbicara, keganjilan cara berjalan itu juga bisa dijual oleh komedian untuk membeli tawa penonton.

Dulu sekali, di program Ngelenong Nyok , Big Dikcy (almarhum) dan Adul sering dijadikan bahan lawakan model ini untuk menimbulkan kelucuan. Atau bagaimana warna kulit dan wajah Bedu yang tidak ganteng sering dijadikan bahan bagi lawan bermainnya dalam Ngelenong Nyok! Begitu pula dengan nasib Narji dari Grup Cagur dalam Chating di TPI.

Komedian bertubuh tambun itu kerap dianalogikan dengan kulkas tiga pintu, truk tronton, bus malam, beruang, jin tomang. Adul disamakan dengan kecebong, nyingnying, tikus got, tuyul. Adapun Bedu disamakan dengan aspal, pantat panci, dakocan, kopi, manggis, arang, dan sebagainya. Narji juga terkenal dengan wajahnya yang tidak ganteng dan disebut juga dengan anak beruang.

Yang lebih parah dalam lawakan fisik adalah mencela atau menghina orang secara berlebihan. Agaknya, hal ini didasari oleh premis bahwa orang sesungguhnya senang melihat orang lain susah. Maka itu, selalu ada korban dalam lawakan jenis ini. Bukankah, si Omas dulu sering disebut gigi mancung. Misalnya: di mana-mana orang yang mancung hidungnya, ini malah giginya.

Namun, bukan berarti yang menjadi korban dari lawakan model ini menjadi kurang unggul. Kita bisa melihat ada Yati Pesek, Tukul Arwana, Gogon, Adul, Narji, Bedu, Oki Lukman. Terkadang kekurangan fisik bisa mencuatkan nama seseorang.

Namun, lawakan fisik tidak selalu berhasil. Apalagi bila celaan fisik membuat lawan main kita tidak nyaman. Selain itu, melawak hanya mengandalkan lawakan fisik menunjukkan kedangkalan kita dalam melawak. Atau, juga penonton bisa mengira kita kehabisan bahan.

Malah saya pernah mengharamkan lawakan fisik ketika mengkreatifi pelawak pemula untuk terjun dalam lomba. Pasalnya, lawak fisik tidak mencerminkan lawakan intelektual. Lagi pula, ketika itu grup lawak pemula ini adalah mahasiswa. Saya kok jadi setuju dengan pendapat, melawak yang baik adalah dengan menertawakan diri sendiri. Tidak perlu ada yang tersinggung secara langsung dengan joke yang dilontarkan. Salam.

Baca juga:

Enggak Etis, Barter Fisik dengan Tawa
Tagged on:                 

6 thoughts on “Enggak Etis, Barter Fisik dengan Tawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.