enggak perlu lucu

Sekitar sepuluh tahun lalu saya mencoba menulis buku untuk remaja. Menurut saya sih oke juga. Gokil atau lucu ya, buku sudah selesai tapi tidak pernah diterbitkan. Inilah sebagian kecil dari tulisan saya.

Enggak perlu sungkan kalau tidak tahu apa itu gokil. Gokil sebenarnya istilah lama yang artinya gila. Istilah ini benar-benar lama, lihat saja sampai pada lumutan. Kalau enggak percaya, tanya saja sama tukang sayur di rumah aku. Tukang sayurnya ganteng lo. Halah, pakai promosiin tukang sayur segala.

Kita kembali ke GOKIL! Dalam perkembangannya, dasar orang kita gokil semua, gokil diartikan lebih halus sebagai cara berpikir gila, kacau, enggak nyambung. Pendeknya, orang gokil, ya, orang yang kacau.

Sori, apa maksud Pendeknya? Kamu mau menghina, mentang-mentang saya pendek. Kalau menulis yang benar dong. Dasar gokil lu. Sudah, saya minta maaf, kita teruskan lagi. Orang gokil, orang yang bikin ramai setiap ada rumpian. Pendeknya, sori, maksudnya tinggi. Tingginya, kalau enggak ada kamu, enggak ramai. Orang gokil hampir pasti jadi orang yang populer. Jadi perhatian setiap orang. Enggak perlu teriak-teriak, orang langsung menghampir orang yang satu ini.

Sialnya, enggak semua orang bisa jadi gokil. Padahal, berani sumpah setiap orang pengen jadi gokil. Bayangkan, jadi gokil itu sama artinya selalu gembira, selalu punya arti bagi orang lain. Konon, katanya, itu sebenarnya yang paling penting dalam hidup ini. Istilah kerennya, kita punya eksistensi.

Enggak punya otak, kalau bilang gokil itu bakat. Soalnya, gokil ternyata perlu otak. Menjadi gokil juga butuh berpikir secara gokil biar kegokilan yang ditunjukkan enggak jayus. Sori, sela temanku lagi, apa artinya jayus. Saya hanya menghela napas, untung enggak ada kuda. Kalau ada kuda, pasti saya menghela kuda, he he he….

Jayus, konon, berasal dari kata Jayusman. Jayusman sendiri adalah orang yang berusaha melucu tapi tidak pernah lucu alias garing. Nah, makanya setiap joke yang enggak lucu, atau lucunya dibikin-bikin agak norak, dibilang sebagai jayus. Jelas belum Pren.

Menyerap lucu

Kita kembali ke GOKIL! Karena untuk gokil perlu otak, benar juga apa yang dibilang Descartes. Sumpah ini bukan kenalan aku. Dia ini filsuf yang pastinya sudah mokat orangnya. Descartes bilang cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Maksudnya, kalau kamu enggak berpikir, kamu bisa dianggap enggak ada alias menghilang. Jadi, sebenarnya cogito ergo sum itu mantra ya! Buktinya bisa bikin hilang. Ah, ngaco.

Kenapa kamu mengutip ucapan Descartes? Pren, soalnya dia filsuf alias pemikir. Ya, mungkin Descartes selevel sama Mang Jaing yang pemikir juga. Yang berpikir terus: hari ini bisa makan apa enggak.

Eh, bukan begitu sebenarnya, swear. Descrates pengen bilang bahwa orang itu diakui keberadaannya alias punya eksistensi kalau berpikir, kalau bisa menyampaikan sesuatu kepada orang di sekitarnya. Tingginya, hampir saja ngomong Pendeknya, orang itu diakui kalau sudah berbuat sesuatu. Kalau berbuat terus hamil, gimana? Stop, jangan ngaco yang berbau mesum. Enggak lucu.

Nah, orang gokil adalah orang yang berbuat mesum, ups, maksudnya berbuat sesuatu. Karena itu, orang gokil biasanya eksis banget dalam kelompoknya. Kehadirannya selalu ditunggu. Kalau enggak datang, selalu dipertanyakan. Ya, biarpun datangnya enggak diundang, atau pulangnya enggak perlu diantar. Kayak tuyul.

Gokil itu ketrampilan

Emang, ada orang-orang yang sejak lahir sudah membawa bakat lucu. Begitu brocot lahir ke dunia yang dibawa bukan ari-ari, tapi bakat lucu, he he he…. Jadi, orang jenis ini memang gampang banget menyerap hal-hal yang bisa menjadi lucu. Tapi, ngomong-ngomong soal menyerap, kayaknya kanebo enggak ada yang bisa ngalahin. Halah, jayus.

Tapi, jangan khawatir, bagi yang pengen gokil tapi merasa enggak berbakat, datang saja ke Grogol atau ke Ongko Mulyo. Ah, itu sih gokil benaran. Ember. Di situ kan rumah sakit jiwa. Kita serius sekarang. Gokil itu sebenarnya keterampilan. Makin sering dilatih makin mahir. Seperti ikan lumba-lumba, dia enggak pernah gagal melakukan lompatan di ring berapi, soalnya dia selalu dilatih sama instrukturnya setiap hari. Makanya, kalau mau terampil, jadilah lomba-lomba. He, he, he…

Bakat sebenarnya cuma berperan 20%, selebihnya—yang 80%—adalah keterampilan. Makanya kalau merasa berbakat, tapi enggak pernah berusaha ngelucu atau tampil gokil, dia bakal kalah sama orang yang sering tampil gokil biarpun enggak berbakat. Kalau berbakat terus enggak mau berlatih. Itu yang sebenar-benarnya gokil.

Baca juga:

Enggak Perlu Lucu Buat Tampil Gokil
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.