Momentmal dari Pixabay

Tidak memakai logika berpikir yang benar bisa berbahaya. Masih ingat berita tahmir masjid dan jemaah Banyumas akan membongkar masjid karena tidak boleh beribadah di masjid. Padahal, alasan tidak boleh beribadah di di masjid pun karena ada 14 jemaah yang terpapar virus korona. Mengapa begitu?

Saya di sini melihat ada kesalahan penarikan kesimpulan. Bila premis mayornya: masjid adalah tempat ibadah, premis minornya: jemaah diminta shalat di rumah, kesimpulanya: shalat di rumah bukan ibadah. Agaknya, hal ini yang memicu sehingga masjid dibongkar saja karena tidak bisa dipakai untuk ibadah. Berbahaya bukan. Karena kesalahan berpikir

Selasa (19/5), saya menjadi narasumber diskusi daring logika berbahasa yang di selenggarakan Ikatan Alumni Bahasa Indonesia UNJ. Saya memaparkan kesalahan logika bahasa bisa terjadi karena sesat berpikir atau logical fallacy. Selain yang diungkap di atas, kesalahan logika lainnya adalah mudahnya kita membuat generalisasi.

Acap kita temukan di media. Pernah membaca kalimat seperti ini: Inilah calon presiden idaman, mau ikut membersihkan jalan yang berlumpur, Jalan tol simbol kesejahteraan. Masa hanya karena ikut membersihkan jalan berlumpur menjadi presiden idaman, inilah upaya menggeneralisasi. Masih amat banyak faktor lain yang bisa sampai pada kesimpulan presiden idaman. Selanjutnya jalan tol simbol kesejahteraan, ini juga terlalu berlebihan. Memang jalan berkait langsung dengan tingkat ketahanan pangan, peningkatan pendapatan, terpenuhinya perumahan, dan terserapnya jumlah tenaga kerja.

Jelas sudah kesalahan berpikir bisa berakibat fatal. Kesalahan logika bisa juga karena tidak nalar dan tidak cermat. Kalimat Ibu dan bayinya bunuh diri, jelas merupakan contoh tidak nalar, memangnya bayi bisa bunuh diri. Contoh lainnya, Efek demo di gedung DPR, jalan-jalan di sekitarnya macet total. Epintas di kalimat tersebut tidak ada masalah. Namun, bila dilihat dengan cermat, memang jalan bisa macet, apakah jalan itu sejenis kendaraan. Karena yang bisa macet adalah kendaraan atau lalu llintas. Jalan adalah sarananya.

Tadi adalah contoh ketidakcermatan. Ada lagi contoh karena ketidaktahuan. Misalnya, Sebagai bonus, silakan mengambil satu buah buku, pensil, pulpen, dan gratis. Ini adalah bukti penulis tidak tahu bahwa dalam kalimat itu ada prinsip kesejajaran. Apakah gratis setara dengan buku, pensil, dan pulpen. Tidak. Gratis merupakakan adjektif, sementara yang lainnya adalah nomina. Jalan keluarnya, gratis harus dikeluarkan dari kalimat tersebut. Buatlah kalimat sendiri untuk kata gratis.

Yang terakhir, kesalahan logika bisa juga karena masuknya bahasa lisan ke bahasa tulis. Preman pasar Pondok Gede mau ditangkap polisi. Memangnya preman pasar mau ditangkap polisi. Yang menjadi persoalan adalah kata mau. Dalam bahasa lisan mau bisa juga berarti ingin, jalan keluarnya ganti saja mau dengan akan.

Begitulah, logika berbahasa menjadi penting karena mencerminkan kemampuan berpikir kita. Logika bahasa kita akan terasah bila kita berbahasa dengan baik. Begitu.

Baca juga:

Gunakah Logika biar Tidak Sesat Berbahasa
Tagged on:                     

7 thoughts on “Gunakah Logika biar Tidak Sesat Berbahasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.