Nadine Asfour dari Pixabay

Mubazir itu seperti menyiram air di atas pasir, sia-sia dan tidak ada manfaatnya. Nah, kata mubazir itu apa?

Yang belajar bahasa jurnalistik pasti pernah mengenal istilah kata mubazir. Istilah kata mubazir ini pertama kali dilontarkan Rosihan Anwar untuk menunjukkan kata-kata yang boleh dihilangkan dari kalimat. Atau, kata-kata yang fungsinya tidak terlalu penting. Dengan kata lain, kata-kata yang bila dihilangkan tidak menyebabkan makna kalimat itu berubah. Malah, kata Anwar (1984:23), dengan hilangnya kata itu kalimat akan lebih lancar dan kuat. Tetapi, yang lebih penting lagi, menurut Hoed, kalimat tersebut harus tetap berterima.

Hoed dalam penelitiannya pada tahun 1975 mencatat ada 30 kata yang termasuk kata mubasir. Ternyata kata mubasir itu bukan cuma yang berasal dari kelas tugas, seperti yang kita tahu selama ini, melainkan juga ada yang dari kelas benda. Menurut catatan saya, berikut ini merupakan kata mubasir yang frekuensinya tinggi.

Sebut saja kata bahwa, adalah, dari, untuk, telah, oleh, yang. Ini merupakan kata mubazir yang harus dihindari para penulis atau jurnalis.

Bahwa

Kehadiran koma sebagai pengganti kata bahwa adalah wajib. Koma berguna untuk menghindari salah baca.

  • Tak banyak orang tahu bahwa H.B. Jassin pernah menulis cerpen
  • Tak banyak orang tahu, H.B. Jassin pernah menulis cerpen.

Adalah

Kata adalah bertugas menghubungkan pokok kalimat dengan sebutan atau predikat. Seperti kata bahwa, kata ini juga dapat dihilangkan dari kalimat dengan begitu saja

Yang dibutuhkan negara ini adalah pemuda yang cerdas dan berani.
Yang dibutuhkan negara ini pemuda yang cerdas dan berani.

Namun, pada kalimat tertentu adalah tidak dapat dihilangkan. Misalnya:

  • Yang memberi sambutan adalah anaknya.
  • Orang yang disangka memperkosa adalah buronan.

Penghilangan adalah pada kalimat di atas dapat menyebabkan kalimat tersebut ambigu atau tidak jelas. Kalimat tersebut menjadi Orang yang disangka memperkosa buronan. Bisa-bisa yang menjadi korban perkosaan adalah buronan. Selain itu, kalimat tersebut menjadi tidak benar, karena tidak selesai atau tidak lengkap.

Dari

Kata dari dapat dihilangkan dari kalimat tanpa mengubah arti. Terutama bila kata itu menyatakan hubungan kepemilikan. Kata dari yang seperti itu merupakan terjemahan yang salah dari of dalam bahasa Inggris atau van dalam bahasa Belanda. Frasa the statement of president diterjemahkan menjadi pernyataan dari presiden atau het huis van mijn oom menjadi rumah dari paman saya. Padahal, untuk menyatakan kepemilikan dalam bahasa Indonesia kata dari umumnya tidak diperlukan.
Jadi, kata dari harus dihilangkan dari kalimat:

  • Pemeriksaan kekayaan dari pejabat negara tak terlaksana.
  • Pemeriksaan kekayaan pejabat negara tak terlaksana.

Namun, kata dari yang menunjukkan asal pun cenderung dapat dihilangkan. Misalnya:

  • Banyak yang cuma mengandalkan dana dari mancanegara.
  • Banyak yang cuma mengandalkan dana mancanegara.

Kata dari lebih baik tidak dihilangkan bila kata itu berfungsi sebagai kata hubung. Jika hilang, kalimat menjadi tidak jelas. Misalnya:

  • Aktivitas seni Lisa pun tak jauh-jauh dari urusan anak muda.
  • Tidak ada yang tahu dari mana mereka memperoleh dana.

Menjadi:

  • Aktivitas seni Lisa pun tak jauh-jauh urusan anak muda.
  • Tidak ada yang tahu mana mereka memperoleh dana.

Begitulah beberapa contoh kata mubazir. Sebaiknya, kita menerapkan dalam tulisan kita buat. Lagi pula, kalau memang mubazir buat apa ditulis. Salam.

Artikel ini adalah bagian pertama dari pembahasan kata mubazir. Bagian kedua membahas kata telah, yang, oleh. Bagian pertama membahas kata bahwa, adalah, dari. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

Baca juga:

Hindari Kata ini biar Tidak Mubazir
Tagged on:                     

8 thoughts on “Hindari Kata ini biar Tidak Mubazir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.