IBU menangis sambil mendekap sepucuk surat. Impiannya untuk mempunyai menantu cantik pupus sudah. Padahal, mata Ibu selalu berbinar ketika bercerita tentang Novi, calon menantu cantiknya itu. Aku pun selalu senang melihat binar mata Ibu yang gembira.

Ibu memang acap menerima surat dari Novi. Perempuan yang melahirkan aku itu selalu semangat membaca surat Novi. Padahal, Novi tidak pernah sekalipun datang ke rumah ini. Memang, aku pernah bercerita bahwa Novi sedang tugas belajar di Jepang, sehingga tidak pernah bisa datang ke rumah. Aku juga beberapa kali membawakan Ibu pernak-pernik dari Jepang. Dari siapa lagi, kalau bukan dari Novi.

Ibu selalu mendorongku untuk segera melamar Novi. “Dit, meski Ibu belum pernah berjumpa dengan Novi, Ibu merasa sangat akrab. Ibu sangat setuju kau bersanding dengan gadis cantik ini. Dia gadis yang baik, yang pasti akan menyayangimu. Kapan kau akan melamarnya,” ujar Ibu. Aku tidak menjawab.

Pernah satu kali ibu marah besar kepadaku. Rupanya, dalam suratnya Novi bercerita bahwa aku tidak pernah mau menjawab telepon, tidak pernah membaca pesan di WA. “Awas, jika kau menyakiti hati Novi lagi,” kata ibu dengan suara keras. “Tidak seorang pun boleh menyakiti hati calon menantu Ibu. Tidak juga kau, meskipun kau ini calon suaminya.”

Hari ini Ibu berulang tahun, hari ini Ibu menangis. Surat itu memberitahukan bahwa Novi tidak bisa datang karena harus mempersiapkan pernikahannya dengan pria lain. Ibu jelas sangat sedih, calon menantu cantiknya harus pergi dari ruang rindu yang sudah begitu lama di pendamnya. Ibu terus menangis, aku tahu betapa sakitnya hati Ibu.

Kesedihan Ibu kian bertambah setelah tahu bahwa Novi tidak pernah ada. Dia adalah tokoh yang aku ciptakan dalam imajinasiku. Surat dari Novi aku yang membuat dan mengirimkannya dari kantor. Foto Novi adalah foto yang kuunduh dari internet. Itu kulakukan karena Ibu selalu menanyakan kapan aku akan menikah. Setelah acap menerima surat dari Novi, Ibu selalu gembira.

Hari ini aku memutuskan untuk memberi tahu Ibu rahasia calon menantu kesayangannya itu. Ini aku lakukan karena aku tidak mau terus tenggelam dalam kebohongan. Aku juga tidak mau ibu hanyut degan khayalan menantu cantik yang aku ciptakan. Itu memang menyakitkan, tapi harus aku lakukan.

Dari balik jendela aku melihat Ibu terus menangis tersedu sambil mendekap surat dari Novi. Aku tidak tahan melihat kesedihan Ibu yang begitu mendalam. Maafkan aku Bu.

Baca juga:

Ibu Menangis di Balik Jendela
Tagged on:                 
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.