Salah satu konsep keindahan adalah simetris. Keseimbangan. Ketika kita menulis juga harus memperhatikan konsep ini. Simetris atau kesejajaran pun ada dalam kalimat. Itu yang membuat kalimat yang kita tulis juga terasa indah.

Prinsip keseimbangan ini juga yang diajarkan oleh suhu menulis biar kalimat kita menarik, enak dibaca dan didengar. Ada dua kesejajaran dalam kalimat, yaitu: kesejajaran bentuk dan kesejajaran makna. Dalam menulis kalimat, hendak bentuk kata yang kita gunakan memiliki kesejajaran baik bentuk maupun makna.

Kesejajaran bentuk. Sejajarnya bentuk kata dalam kalimat . Untuk jelasnya kita lihat kalimat berikut:

  • Perusahaan pers kita mengalami perkembangan dan bertumbuh dengan pesat di awal era reformasi.
  • Amrozi tidak mengakui semua yang tertulis di BAP dan dibantah bahwa dirinya pelaku pengeboman Bali.

Pada kalimat pertama ketidaksejajaran terjadi pada kata perkembangan dan bertumbuh. Semestinya, agar sejajar semua menggunakan imbuhan per-an. Pada kalimat kedua ketidaksejajaran terjadi pada kata mengakui dan dibantah. Agar sejajar semestinya semua menggunakan imbuhan me-. Dengan begitu, kedua kalimat tersebut menjadi:

  • Perusahaan pers kita mengalami perkembangan dan pertumbuhan dengan pesat di awal era reformasi.
  • Amrozi tidak mengakui semua yang tertulis di BAP dan membantah bahwa dirinya pelaku pengeboman Bali.

Kesejajaran makna. Kalimat yang baik adalah kalimat yang antarunsur-unsurnya memiliki keterkaitan makna yang saling mendukung. Tampaknya kita akan lebih jelas bila melihat contoh. Misalnya:

  • Satu orang berdatangan ke tempat itu.
  • Pria paruh baya itu membunuhi istrinya yang sedang tidur.

Tidak ada kesejajaran makna dalam kalimat di atas. Kalimat tersebut akan lebih baik bila diubah menjadi Orang berdatangan ke tempat itu. Kenapa bukan orang-orang? Karena kata berdatangan sudah menunjukkan kejamakan, bentuk ulang penjamakan atau kata yang menunjukkan kejamakan, seperti para dan banyak, menjadi mubazir . Tapi, kata yang menunjukkan ketunggalan diharamkan dari kalimat seperti itu.

Adapun pada kalimat di bawahnya terjadi ketaksejajaran antara predikat dan objek. Kata membunuhi menghendaki objeknya lebih dari satu. Mungkin bila diubah menjadi Pria paruh baya itu membunuhi seluruh anggota keluarga istrinya, kata kerja membunuhi menjadi tidak mubazir. Namun, yang dimaksud kalimat tersebut adalah Pria paruh baya itu membunuh istrinya yang sedang tidur.

Terbukti, kesejajaran membuat kalimat menjadi lebih enak dibaca dan makna kalimat lebih cepat ditangkap pembaca. Nah, para penulis, perhatikan ya. Salam.

Baca juga:

Ingat, Kalimat yang Indah itu yang Sejajar
Tagged on:                             

6 thoughts on “Ingat, Kalimat yang Indah itu yang Sejajar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.