harus jujur
DUA orang peserta kelas penulisan kreatif, mendatangi saya. Mereka memprotes mengapa tidak lulus untuk mata kuliah yang saya ampu itu. Mereka menunjukkan bukti-bukti bahwa mereka layak lulus. Saya tersenyum melihat polah mereka.

“Yakin bahwa semestinya kalian lulus di mata kuliah saya itu?” jawaban saya atas protes mereka.

“Ya, Pak, kami sudah mengikuti prosedur dan kami merasa tulisan yang kami kumpulkan sebagai tugas akhir: bagus,” ujar salah satu dari mereka.

Mereka tidak menyadari bahwa tugas akhir itulah yang menyebabkan mereka tidak lulus. Saya amat menghargai keberanian mereka untuk memprotes atas “ketidakadilan” yang mereka rasakan. Tapi, ada yang jauh lebih penting dari itu, yaitu: kejujuran. Mereka sudah tidak jujur pada diri sendiri.

Sejak awal perkuliahan saya menekankan tulislah sendiri semua tugas menulis. Itu karena mata kuliah saya adalah mata kuliah menulis bukan tentang menulis. Mereka saya ajari berpraktek, kuliah saya adalah sanggar menulis. Mereka saya bimbing secara individual. Mereka bisa berkonsultasi mengenai tulisan mereka, kesulitan mereka.

Nah, hasil akhir dari tulisan yang mereka kumpulkan saya buatkan menjadi buku. Untuk yang tidak lulus, hasil karyanya tidak termuat dalam buku itu. Mengapa tidak termuat?

Tulisan yang struktur penulisannya tidak keruan, seperti paragrafnya kurang bagus, plotnya jelek, gaya menulisnya payah, penggunaan ejaan dan bukan plagiat. Bila tulisan lebih dari 30 persen mirip dengan tulisan lain itu sudah bisa dinyatakan plagiat.

Tulisan kedua mereka lebih dari 30 persen sama dengan tulisan dari blog atau situs cerita. Saya memastikan mereka tidak pernah melakukan kegiatan produktif: menulis. Mereka hanya melakukan keterampilan: meng-copy-paste atau menyalin-tempel tulisan orang lain dan mengakui sebagai karya mereka.

Tentu saja saya menganggap mereka tidak mengerjakan tugas akhir. Saya juga bisa menyamakan pekerjaan “menjijikkan” itu sebagai kriminal dan kurang ajar. Bayangkan saja, mereka menyuruh saya menilai tulisan orang lain.

O ya, di awal perkuliahan biasanya saya memberi tugas-tugas hanya untuk melihat kemampuan rata-rata peserta dalam menulis. Di tugas awal ini juga saya bisa menangkap gaya penulisan setiap individu. Jadi, bila ada tugas akhirnya yang cara penulisannya sangat rapi atau berbeda jauh dengan gaya mereka di tugas, saya tahu itu bukan dia yang mengerjakan.

Dua teman muda itu tertunduk malu, setelah saya bongkar bahwa tulisan mereka merupakan karya salin-tempel. Saya tanya ke mereka, “Apakah dengan begitu, kalian layak untuk lulus? Jawablah dengan jujur di ahti kalian.”

Mereka hanya diam tertunduk. Semoga mereka sedang merenung bahwa penulis itu harus jujur, bahwa perbuatan salin-tempel itu menjijikkan. Saya yakin, mereka akan menjadi lebih baik.

Lihat juga:

Ingat, ya, Jadi Penulis itu Harus Jujur
Tagged on:                 

4 thoughts on “Ingat, ya, Jadi Penulis itu Harus Jujur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.