Pada artikel terdahulu, saya pernah bercerita bahwa seorang komedian yang sudah kepepet dan kehabisan ide, biasanya jalan yang paling mudah untuk ditempuh adalah dengan melemparkan joke jorok atau porno. Cara ini terkadang efektif untuk menyegarkan suasana.

Namun, apa yang harus dilakukan komedian ketika dia merasa tidak mampu menyatukan emosi penonton dengan dirinya. Selain itu, terkadang si komedian juga suka kehabisan bahan atau ide. Biasanya, para komedian—paling tidak beberapa komedian yang sempat saya tanyai—memanfaatkan keadaan di sekelilingnya. Atau, dengan menggunakan jurus lawakan yang paling mudah. Yaitu:

Mengartikan kata

Misalnya melawak dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Kata pahlawan bisa disingkat dengan memberikan makna baru. Misalnya skrip lengkapnya:

Komedian 1 : Kata pahlawan punya arti tersendiri
Komedian 2: Arti tersendiri gimana?
Komedian 1 : Pah artinya pahala, la artinya laksanakan,
Komedian 1 : wan artinya perlawanan.
Komedian 2: Jadi pahlawan artinya apa?
Komedian 1 : Pahlawan, pahala yang didapat Karena melakukan perlawanan… terhadap penjajah!

Cara seperti ini biasanya efektif menyatukan emosi penonton dengan komedian. Selain itu, bisa juga nama kepala desa, lurah, atau tokoh masyarakat, bisa juga memanfaatkan idiom-idiom yang populer di lingkungan masyarakat sana. Tentunya, semua itu dengan artinya yang baik.

Kata berujung sama

Selain itu, solusi yang paling gampang lagi adalah dengan mencerocoskan kata-kata yang berujung sama. Misalnya:

Gue emang orang penting, yang sukanya nglinting, pakenya gunting, dikejar orang sinting, ntar juga dibanting sampe bunting.

Pemakaian kata yang berujung sama—seperti –ting di atas—ternyata mampu mengikat pendengar untuk menunggu kata berikutnya dari si komedian.

Pantun

Pantun sejatinya merupakan lawakan yang paling mudah dan biasanya bisa selalu mengundang tawa penonton, minimal tersenyumlah. Tapi, pantun bagaimana yang bisa mengundang tawa. Bila kita menggunakan pantun baku seperti:

Potong pepaya di pinggir pantai
Buah cempedak ditinggalkan
Tipu daya bicara pandai
Patik pun tidak meninggalkan

Pisang kelat digongong elang
Jatuh ke lubuk Inderagiri
Jikalau berdagang di rantau orang
Baik-baik membawa diri

Sudah gaharu cendana pula
Sudah tahu bertanya juga

Kekuatan untuk mengundang tawanya kurang kuat. Tapi, bila kita menggunakan pantun gaul atau pantun yang sampiran dan pilihan katanya sudah akrab dengan kita, efek kejutnya bakal bisa mengundang tawa. Yang paling utama, buatlah sebisa mungkin pantun itu sudah lucu sejak sampiran. Misalnya:

Permen jatuh dimakan juga
Kalau cinta jangan curiga

Saritem tempat bertempur
Orang item, jangan ikut campur

Macan tutul makan pete
Pete ada bolongnya
Kebetulan ada pak erte
Kita minta honornya

Namun, setiap komedian hampir tidak pernah memakai hanya satu gaya untuk memikat tawa penonton. Dia bisa memakai beberapa sekaligus.

Demikianlah,cara yang digunakan komedian ketika merasa tidak mampu menyatukan audien dengan dirinya. Semoga ini berguna sebagai bahan ketika harus menulis naskah komedi. Salam.

Baca juga:

Inilah Modal Terakhir Seorang Komedian
Tagged on:                     

6 thoughts on “Inilah Modal Terakhir Seorang Komedian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.