lazarus listen

Sudah tahu dong, buku Listen Like a Dog yang ditulis Lazarus. Ini sejatinya buku komunikasi yang mengajarkan kepada kita apa yang harus dilakukan ketika sedang melakukan komunikasi antarpribadi. Menarik.

Saya bertemu teman muda saya di sebuah kafe, wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang tidak happy. Usianya baru sekitar 23 tahun. Baru diwisuda di tengah pandemi korona ini. Dia mengangguk, mungkin juga tersenyum, dengan masker menutupi sebagian wajahnya.

Dia bercerita bahwa baru bertemu klien, yang awalnya di telepon sudah setuju untuk melakukan kerja sama, tiba-tiba gagal. Dia, ah sebut saja namanya Joe, terheran-heran mengapa bisa seperti itu.

Gampang, itu karena si Joe ini tidak mampu memahami apa yang mereka inginkan. Joe tidak mampu memahami keinginan kliennya dengan baik. Joe berkilah, dia sudah mendengar apa yang dibicarakan. Saya tepuk pundaknya, biar dia tidak ngeyel terus.

Mendengar dan mendengarkan itu berbeda. Mendengar adalah proses fisiologis, jika ada suara yang menyentuh gendang telinga kita. Adapun mendengarkan adalah proses proses yang melibatkan dimensi psikologis dan kognitif. Dalam mendengarkan selain proses fisiologis juga harus menginterpretasi, mengingat, dan menanggapi stimulus.

Lazarus: Belajarlah dari anjing

Bisa jadi yang dilakukan Joe baru sampai taraf mendengar bukan mendengarkan. Ngomong-ngomong soal mendengarkan saya jadi teringat buku Listen Like a Dog yang ditulis Jeff Lazarus. Buku Lazarus yang satu ini merupakan buku lama terbitan 2016. Si Lazarus menyarankan jika ingin menjadi pendengar yang baik, belajarlah dari anjing

Pernahkah berbicara dengan anjing yang kita miliki, perihal sakit hati dan kegembiraan Anda. Pokoknya si guguk ini menjadi tempat curhat. Di hadapan si guguk kita merasa bebas mau berbicara apapun. Selesai curhat dan mengungkapkan uneg-uneg, kita merasa lega. Percayalah, meskipun mereka tidak berbicara bahasa kita, mereka benar-benar mendengarkan.

lazarus listen-1
Listen Like a Dog, Jeff Lazarus, 2016, Rp 39.500

Yang pasti saat curhat, si guguk tidak pernah menyela kita. Anjing sangat memperhatikan kita; mereka mempelajari ekspresi wajah kita, bahasa tubuh kita, gerakan mata kita, dan pola suara kita. Anjing tidak hanya mendengarkan dengan telinganya, mereka juga mendengarkan dengan segenap keberadaannya.

Mendengarkan dengan benar dapat meningkatkan setiap hubungan dalam hidup seseorang, dan dapat mengubah asosiasi yang rusak dan menyuntikkan kehidupan baru ke dalam interaksi bisnis dan sosial. Itu adalah ramuan ajaib yang menempa hubungan nyata dengan orang lain.

Orang menginginkan pendengar yang baik, mereka ingin berbisnis dengan mereka, mereka mempercayai dan ingin berbagi informasi penting dengan mereka. Artinya, orang yang menguasai keterampilan ini memiliki keuntungan yang sangat besar, baik dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Dengan mendengarkan seperti anjing, pembaca akan menemukan koneksi baru dan rasa kasih sayang, persahabatan, dan pengertian yang lebih dalam dengan orang-orang dalam hidup mereka. Itu paling tidak yang disampaikan Lazarus dalam Listes Like a Dog.

Nah, si Joe harus membaca buku ini, biar berhasil meyakinkan kliennya. Joe harus belajar curhat sama anjingnya, jangan si guguk malah curhat sama si Joe. Eaaa….

Testimoni buat buku Lazarus ini

lazarus 2Setelah membaca buku Lazarus ini, Dr. Marty Becker, “America’s veterinarian” dan pengarang bestselling New York Times bilang, “…anjing benar-benar memiliki banyak hal yang dapat diajarkannya mengenai bagaimana cara menjadi pendengar yang lebih baik!” ujar.

Ada juga Jack Canfield, co-creator dari seri Chicken Soup for the Soul yang menyampaikan, “Saran-saran berani dan bijak yang ia berikan akan mengizinkan Anda untuk menjadi ahli komunikasi di hampir semua situasi.”

Siapa Jeff Lazarus, penulis buku ini? Lazarus seorang Konsultan Ilmu Kesehatan dan pengajar public speaking di perguruan tinggi. Dia sangat mencintai anjing, dan acap melakukan penelitian mengenai perilaku anjing. Jadi tidak mengherankan bila dia berhasil menerbitkan buku Dogtology pada 2015, sebuah penjelajahan aneh dari pengabdian fanatik manusia kepada anjing. Buku yang bertajuk lengkap Dogtology: A Humorous Exploration of Man’s Furocious Devotion to Dogs Hardcover, terbit tahun 2017. Lain waktu akan kita bahan buku yang satu ini.

Harapan saya sih si Joe mau belajar dari anjingnya. Kalau malu, ya baca buku Lazarus ini dulu saja. Tapi, yang pasti guguk sekali si Lazarus ini. Maaf, saya tidak tega untuk menyebut Lazarus dengan “anjing”. Salam.

Baca juga:

  1. 3 Manfaat Penyuntingan dan Formula yang Harus Diketahui Penulis
  2. Menulis itu Gampang dan Membahagiakan, Inilah 3 Jurusnya
  3. Jangan Asal Tulis, Menulis itu Sebuah Proses
  4. 500 Penulis Satu Mentornya

Itulah Pentingnya Listen Like Lazarus
Tagged on:     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.