Sudah yakin joke yang kita buat bakal memanen tawa, nyatanya senyum pun tidak tergambar di wajah pemirsa. Inilah salah satu solusinya.

Yang harus kita pahami terlebih dahulu bahwa joke tidak bisa lucu sendirian tanpa berelasi dengan elemen lain. “Humour does not exist in a vacuum,” ujar Amy Carrel. Paling tidak, menurut Carrel, ada empat unsur yang membangun kelucuan sebuah joke: Yaitu: pelontar joke, joke itu sendiri, audiens, dan kondisi-kondisi yang bisa mendukung terbentuknya kelucuan (Carrel, 2008).

Mungkin joke lucu tapi set-up-nya kurang meyakinkan, dan punchline-nya kurang menendang. Itu artinya joke harus diperbaiki. Misalnya:

(1) Murid 1 : Kamu sudah dua minggu telat melulu datang ke sekolah
Murid 2: Memang kenapa?
Murid 1 : Kalau telat berarti hamil tahu

(2) Pemuda 1: Darah gue mendidih begitu dengar cewek gue jalan sama orang lain.
Pemuda 2: Kalau mendidih, matiin aja kompornya.

(3) Kamu ditunggu kok enggak nyampe-nyampe, memangnya naik apa? Naik tangga.

Joke (1) kurang lucu karena joke ini terlalu banyak kata-kata. Dengan begitu, kata-kata yang ambigu dalam joke di atas tidak berinteraksi secara langsung tapi telah terdistorsi oleh kata lain. Kata ambigu dalam joke itu adalah kata telat. Telat yang berarti terlambat datang—dalam hal ini sudah dikondisikan sebagai terlambat datang ke sekolah—dan telat yang berarti tidak menstruasi.

Ide joke ini sudah lucu hanya set-up yang dibangun kurang kuat karena kata telat kurang ditekankan, juga eksekusi punchline-nya terlalu bertele-tele. Ayo, kita bikin lebih lucu:

(1a) Murid 1 : Kamu jangan telat terus?
Murid 2: Emang kenapa?
Murid 1 : Nanti aku disuruh bertanggung jawab.

(1b) Murid 1 : Mulai besok kita enggak boleh telat
Murid 2: Emang kenapa?
Murid 1 : Kalau telat, disuruh ke dokter kandungan

(1c) Murid 1 : Kamu jangan telat terus dong. Aku jadi khawatir
Murid 2: Kenapa?
Murid 1 : Khawatir kamu hamil.

Nah, pada joke (2) sesungguhnya sudah mengandung sedikit kelucuan. Sayangnya, kelucuan yang terbangun kurang “nendang”. Kenapa? Punchline-nya sebenarnya memiliki tenaga untuk membuat lucu, tapi menjadi tidak bertenaga lantaran set-up-nya kurang kuat. Semestinya, kata yang merupakan kunci—kata mendidih—dibuat tidak terlalu jauh dari punchline. Joke (2) lebih baik dijadikan:

(2a) Pemuda 1 : Dengar cewek gue jalan sama orang lain, darah gue mendidih.
Pemuda 2: Wah, bisa buat nyeduh kopi tuh.

(2b) Pemuda 1 : Dengar cewek gue jalan sama orang lain, darah gue mendidih.
Pemuda 2: Lu kecewa.
Pemuda 1 : Kecewa banget. Masak udah mendidih bukannya diangkat. Kalau kering gimana!

Joke (3) dengan set-up “kamu ditunggu enggak nyampe-nyampe” karena itu kemudian ditanyakan memang naik apa? Jawaban yang umum atas pertanyaan seperti itu adalah naik sepeda motor, naik angkot/bus, naik ojek, naik sepeda, atau jalan kaki. Punchline-nya, menurut saya, sudah cukup kuat. Jawaban naik tangga, adalah jawaban yang hampir mustahil dilontarkan orang. Tapi, ukuran subjektif saya dan Anda mungkin berbeda.

Joke (3) bisa kita buat dalam beberapa alternatif. Mana yang paling lucu?

(3a) Kamu ditunggu kok enggak nyampe-nyampe,memangnya naik apa? Naik pohon.

(3b) Kamu ditunggu kok enggak nyampe-nyampe, memangnya naik apa? Naik kelas.

(3c) Kamu ditunggu kok enggak nyampe-nyampe, memangnya naik apa? Naik-naik ke puncak gunung.

Nah, kalau joke kita tidak lucu, bisa jadi salah satunya karena struktur joke kita memang kacau. Konsentrasi terus di area itu jangan sampai kecolongan. Salam.

Baca juga:

Jangan Kacau, Nanti Tidak Lucu
Tagged on:                     

6 thoughts on “Jangan Kacau, Nanti Tidak Lucu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.