Gerd Altmann dari Pixabay

Kalau kamu masih bilang, ingat EYD ya kalau menulis. Itu pertanda kamu orang kuno. Soalnya yang berlaku sejak 2015 adalah PUEBI. Tapi, kalau kamu sudah tahu, berarti kamu memang orang yang terkini. Selamat dah.

Tapi, apa ejaan itu? Ejaan, menurut Harimurti Kridalaksana (1993:48), adalah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang distandardisasi. Atau, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:250), ejaan adalah kaidah-kaidah cara bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.

Gampangnya, ejaan itu aturan dalam menulis. Nah, agar ejaan kita terus dapat memenuhi keutuhan pengguna bahasa, maka perlu terus dilakukan perubahan. Ejaan kita telah beberapa kali mengalami perubahan atau pergantian. Apa saja itu?

Ejaan Van Ophuysen. Ini adalah ejaan yang pertama kali berlaku di Indonesia pada 1901. Huruf-huruf peninggalan Ejaan Van Ophuysen yang dapat kita kenali di antaranya ch, dj, sy, nj, sj, tj, oe, dan dikenalnya bunyi hamzah (‘).

Ada beberapa peraturan dalam ejaan ini seperti: penghilangan huruf-antara /w/ seperti dalam kata koe, doeit, goeraoean, penggunaan angka 2 untuk kata ulang yang kata-katanya diulang sepenuhnya, tapi tidak untuk kata ulang yang hanya diulang sebagian. Jadi, laki-laki, koeda-koeda boleh ditulis laki2, koeda2, tapi berlari-lari, memata-matai tidak boleh ditulis berlari2, memata2i.

Setelah Ejaan Van Ophuysen, yang berlaku kemudian adalah Ejaan Republik. Ejaan ini mulai berlaku pada masa Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebtudayaan dijabat Soewandi pada tanggal 19 Maret 1947. Itulah mengapa ejaan ini terkenal dengan sebutan Ejaan Soewandi. Ejaan ini adalah upaya penyederhanaan dan penyelarasan dari ejaan yang sudah ada.

Beberapa perubahan dalam ejaan ini, yaitu: huruf e pepat (eā€™) cukup ditulis e; bunyi hamzah (‘) dihilangkan dan diganti dengan huruf k untuk sebagian kata, jadi tidak ada lagi kata ra’yat atau ta’pa tapi rakyat atau tapa; ulangan boleh ditulis dengan angka 2, tapi harus dilihat bagian yang diulangnya, misalnya: mudah2an, ber-lari2an, me- mata2i.

Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia) merupakan ejaan berikutnya. Ejaan ini diputuskan oleh sidang perutusan Indonesia dan Malaysia yang diketuai Slametmuljana (Indonesia) dan Syed Nasir bin Ismail (Malaysia) pada 1959. Semua itu merupakan tindak lanjut perjanjian persahabatan Indonesia dan Malaysia. Namun, Ejaan Melindo urung diresmikan lantaran perkembangan politik.

Akhirnya, berdasarkan komunike bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Mashuri dan Menteri Pelajaran Malaysia Hussein Onn, rancangan tersebut disetujui untuk dijadikan bahan dalam upaya bersama bagi pengembangan bahasa nasional kedua negara. Rancangan Ejaan Melindo, oleh Pemerintah Indonesia, kemudian diresmikan dengan nama Ejaan yang Disempurnakan (EYD) pada 1967. Kemudian disempurnakan lagi pada 1972.

Perubahan yang cukup mendasar pada EYD, yaitu tidak dipergunakannya lagi angka 2 untuk menuliskan bentuk ulang; perubahan penulisan huruf j menjadi y, dj menjadi j, nj menjadi ny, ch menjadi kh, tj menjadi c, dan sj menjadi sy.

Lalu yang terakhir, adalah berdasarkan surat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan tanggal 26 November 2015, EYD dinytakan tidak berlaku. Sebagai gantinya adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. Tidak ada perubahan yang siginifikan dalam PUEBI. Yang saya catat hanya ada perubahan contoh yang lebih terkini, dan berapa perubahan kecil. Misalnya, mulai diaturkan mengenai pemakaian huru tebal.

Sudah tahukan, ejaan yang berlaku saat ini ejaan yang mana. Jangan sampai kamu tersesat menggunakan ejaan dari masa lampau. Itu ketahuan banget kalau kamu kuno. Salam.

Baca juga:

Jangan Kuno, EYD Sudah Enggak Zaman
Tagged on:                     
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.