Anatasia Gepp dari PIxabay

Semakin tidak nyambung, antara dua skrip yang mendukung joke akan semakin lucu. Masa?

Joke adalah sesuatu yang bisa menimbulkan tawa. Itu paling tidak yang dikatakan Arthur Schopenhauer. Menurut si Schopenhauer, yang bisa bikin ketawa ini disebut ludicrous. Nah, ludicrous ini adalah ketidaknyambungan persepsi yang kita terima dengan kenyataan. Nah, ketawa itu akan makin meledak ketika ketidaknyambungan itu semakin kuat.

Selain Schopenhauer, ada Arthur Koestler, yang terkenal dengan teori bisosiasi (bisosiation). Koestler melihat teks humor seperti sebuah koin. Artinya, teks humor atau joke itu memiliki dua sisi. Satu sisi yang berasosiasi pada kenyataan dan satu lagi berasosiasi dengan kenyataan yang lain. Gampangnya satu sisi berisi logika yang lurus, yang satu lagi berisi yang menyimpang. Ada ambiguitas yang ditimbulkan oleh kedua sisi (skrip) di sana. Koestler sendiri bilang, “the word ‘strikes’ is ambiguous as it can belong to both scripts”.

Victor Raskin dalam bukunya yang bertajuk Semantic Mechanism of Humour (1984) berpendapat hampir sama dengan Koestler. Dia juga melihat bahwa humor sebenarnya memanfaatkan keambiguan pada sebuah teks dengan mempertentangkan makna pertama dengan makna kedua. Raskin bilang, sebuah teks humor adalah sebuah teks yang berisi ketidakselarasan, sebagian atau keseluruhan, dengan melibatkan dua skrip; dan dua skrip yang membangun keselarasan itu bertentangan secara khusus (Krikmann, 2007).

Joke model seperti itu—menurut Mel Helitzer, profesor pengajar penulisan humor di Ohio University—merupakan permainan kata alias POW (play on words). Bahkan Helitzer menuturkan bahwa humor hampir didominasi oleh joke model ini. “More than 50 percent of all humour is based on plays on words (POWs),” ujar Helitzer (2005:61). Permainan kata itu dengan memanfaatkan potensi bahasa seperti asosiasi atau perbandingan, sinonim, antonim, dan sebagainya.

Misalnya, dalam joke berikut:

  • Dalam bisnis yang dipentingkan adalah untung.
  • Kalau Untung susah didapat, kita cari Donal saja.

Terbukti bukan, kelucuan terbangun dari ketidakselarasan. Untung yang berarti laba, tiba-tiba dibandingkan dengan Untung yang merupakan keponakan dari Donald Bebek. Tentu saja tidak nyambung. Tapi, di situlah lucunya.

Joke memang rumit, membuat joke berarti mempertautkan sesuatu yang mestinya tidak bertautan. Repot benar. Tapi, di situlah kreativitas para kreatif ditantang. Begitu.

Baca juga:

Joke itu Menyambungkan yang Tidak Nyambung
Tagged on:                 

5 thoughts on “Joke itu Menyambungkan yang Tidak Nyambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.