Gerhard Gellinger dari Pixabay

Intonasi dan dialek bisa membuat sebuah joke makin bertenaga. Tentu saja ini akan memancing tawa dengan mudah. Coba saja.

Tak bisa dipungkiri tone atau intonasi juga memegang peran untuk membantu daya ledak sebuah punchline. Penggunaan tone yang tepat, memberi nilai tambah yang besar terhadap sebuah joke. Sayangnya, belum ada penelitian seberapa besar peran tone dalam membuat kelucuan sebuah joke.

Yang juga bisa membuat sebuah joke menarik untuk menimbulkan tawa adalah dialek. Masih ingat joke soal orang Ambon yang baru datang ke Jawa. Dia heran melihat kereta api—lantaran di Ambon tidak ada kereta api—dan berteriak dengan tone dialek Ambon, “hei, ada besi merayap!” Kalau saja punchline-nya diucapkan dengan tone bahasa Indonesia, daya ledaknya akan kurang atau malah mungkin tidak sanggup menggelitik urat tawa audiens sama sekali.

Satu lagi, untuk menggambarkan kelambanan orang Jawa. Joke dengan menggunakan tone yang lambat pada bagian punchline sering digunakan. Misalnya, karena lambatnya dan sopannya orang Jawa, ketika mau mencopet pun pamit, “nuwun sewu, tak copet ya!” dengan dialek Jawa yang amat lambat seperti dalam wayang orang atau ketoprak.

Atau, kenapa ketika perang kemerdekaan banyak orang Jawa yang gugur, karena komandan pasukan terlalu lambat dalam memperingatkan pasukannya. Dengan dialek Jawa yang amat lambat, “A…yo, pa-suk-an tiiii….a…rap!” musuh keburu menembak.

Joke dengan intonasi dan dialek yang tepat bakal bikin joke yang kita gunakan makin “strong”. Namun, tetap saja, meskipun intonasi dan dialek digunakan bila joke yang dibuat tidak memenuhi syarat, joke tidak mampu mengundang tawa. Tone dan dialek hanyalah vitamin agar joke makin berkarakter. Salam.

Baca juga:

Joke Kian “Strong” dengan Tone dan Dialek
Tagged on:             

6 thoughts on “Joke Kian “Strong” dengan Tone dan Dialek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.