Kita acap mendengar olok-olok, mengucapkan kata fitnah menjadi pitnah karena pengaruh dialek dari daerah tertentu. Tapi, tahu tidak, kesalahan dalam mengeja kata itu menunjukkan dari kelas mana kita berasal.

Pernah menonton serial Si Doel Anak Sekolah, ketika Mandra tidak mampu mengeja kata dengan benar, saya lupa kata apa, dia dikatai primitif. Kesalahan yang dilakukan Mandra adalah kesalahan umum yang terjadi di masyarakat. Memang, terkadang ketidaktepatan dalam mengeja tidak membedakan arti. Namun, ada satu hal yang dipertaruhkan di sana, yaitu nama baik dan status.

Ketidaktepatan dalam mengeja kata umumnya terjadi pada kalangan yang kurang terpelajar. Bisa jadi dia sekolahnya tinggi tapi tidak mau memperhatikan persoalan bahasa. Barangkali pernah melihat dalam poster, baliho iklan ada tulisan eksklusif. Betapa malunya si pembuat iklan yang ceroboh dalam mengeja eksklusif. Atau, pernahkan melihat tulisan telpon yang mestinya telepon. Masih banyak lagi contoh kesalahan yang mempermalukan oranga yang membuatnya.

Memilih ejaan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia memang memerlukan sedikit kejelian. Dalam bahasa Indonesia banyak mempunyai bentuk kembar, seperti: risiko-resiko, sekadar-sekedar, Senin-Senen, film-pilem, juang-joang. Kata mana yang harus kita ambil? Tentu saja kata yang menggunakan ejaan kata yang baku. Atau, gampangnya, ejaan seperti yang tertulis dalam kamus.

Bentuk kembar terjadi karena ada penyimpangan dari bentuk baku yang dipengaruhi bahasa daerah. Juga dipengaruhi oleh bahasa lisan, selain dialek. Di samping itu, juga karena ketidaktahuan di penulis atau penutur perihal kata yang benar yang tidak.

Menurut pakar bahasa, Anton M. Moeliono (1985:106), menyimpangkan bentuk baku menjadi tidak baku memiliki pola, antara lain:

  • i menjadi e: kemarin-kemaren; a menjadi e: (ambil)kan-(ambil)ken; u menjadi o: belum-belon;
  • f atau v menjadi p: film-pilem dan variasi-pariasi; kh menjadi k atau h: akhir-akir-ahir; sy menjadi s: masyarakat-masarakat; z menjadi j: zarah-jarah;
  • i+e menjadi i: karier-karir; o+o menjadi o: koordinasi-kordinasi;
  • –ps menjadi –p: elips-elip; -ks menjadi –k: kompleks-komplek; -ksk- menjadi -sk-: ekskavasi-eskavasi; str- menjadi setr-: struktur-setruktur; ai menjadi e: ramai-rame; au menjadi o: pulau-pulo;
  • s menjadi z: asas-azas; p menjadi f: pihak-fihak.

Bagaimana untuk mengetahui bentuk baku? Selain dengan memahami kecenderungan seperti disebut di atas, dapat dilakukan dengan mengecek ke kamus, atau merujuk ke bentuk aslinya. Misalnya, kata manakah yang ejaannya benar dari bentuk kembar resiko-risiko, deviden-dividen, analisa-analisis, rubah-ubah?

Yang benar adalah risiko karena ejaan bahasa aslinya risk bukan resk; dividen yang benar karena ejaan bahasa aslinya dividend bukan devidend; yang benar ubah karena kata rubah berarti nama sejenis binatang, kecuali yang dimaksud memang nama binatang.

Cermatlah dalam berbahasa. Seperti dalam artikel sebelumnya saya pernah mengatakan, kata adalah cermin diri kita. Jangan sampai kita dibilang primitif, karena tidak mampu mengeja kata dengan benar. Salam.

Baca juga:

Kalau Kamu Primitif, Bolehlah Mengeja Bonafide dengan Bonapid
Tagged on:                         

9 thoughts on “Kalau Kamu Primitif, Bolehlah Mengeja Bonafide dengan Bonapid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.