Free-Photos dari Pixabay

Ada satu istilah lagi yang cukup populer ketika kita mempelajari bahasa jurnalistik, yaitu kata penat. Makna penat sendiri tentu kita semua sudah mengetahui, yaitu lelah atau letih. Nah, jadi kata penat itu apa?

Kata penat adalah kata atau kelompok kata yang dianggap sudah tidak menarik lagi karena pemakaiannya tidak kreatif dan kurang mendayakan kata tersebut. Itu terjadi karena bentuknya tetap dan terkadang pemakaiannya cuma basi-basi, kurang mendukung makna kalimat. Kelompok kata seperti ini, misalnya:

  • dalam rangka
  • sementara itu
  • dalam pada itu
  • seperti/perlu diketahui
  • dapat ditambahkan
  • selanjutnya
  • yang mana, di mana, hal mana

Kata atau kelompok kata ini sebaiknya dihindari. Pemakaiannya hanya akan membuat kalimat panjang tetapi tidak menarik. Lihat saja:

  • Dalam rangka meresmikan pembangunan pabrik di lima kota, Menteri Perindustrian dan Perdagangan akan menekan bel dari kantor pusat Telkom.
  • Seperti diketahui, bencana alam malah akan memperkaya daripada aparat di daerah yang terkena musibah.
  • Dalam pada itu, tak seorang pun akan menyapa bila tingkah lakunya tak berubah.
  • Kawasan kumuh di mana kaum duafa tinggal tak tersentuh aliran JPS.
  • Rumah sangat sederhana yang mana disediakan untuk kalangan bawah tetap saja tak terjangkau oleh mereka.

Dari contoh di atas makin jelaslah bahwa kata-kata itu sebenarnya dapat dihilangkan tanpa mengubah makna kalimat. Malah, adanya kata/kelompok kata ini hanya membuat susunan kalimat tidak enak dan mengganggu keasyikan pembaca.

Timbulnya kata-kata ini juga ada yang dipengaruhi oleh bahasa asing. Kata yang mana terjemahan konjungtor which, di mana terjemahan where, sementara itu/dalam pada itu terjemahan while. Padahal, penulisan kalimat dalam bahasa Indonesia tidak seperti itu. Jadi, kalimat di atas dapat diubah menjadi:

  • Meresmikan pembangunan pabrik di lima kota, Menteri Perindustrian dan Perdagangan akan menekan bel dari kantor pusat Telkom.
  • Bencana alam malah akan memperkaya aparat di daerah yang terkena musibah.
  • Tak seorang pun akan menyapa bila tingkah lakunya tak berubah.
  • Kawasan kumuh tempat kaum duafa tinggal tak tersentuh aliran JPS.
  • Rumah sangat sederhana yang disediakan untuk kalangan bawah tetap saja masih terasa mahal.

Kata penat sesungguhnya kata-kata yang bisa dihilangkan. Keberadaaannya dalam sebuah kalimat malah membuat kalimat menjadi lebih panjang dan tidak enak dibaca. Begitulah, menulis dan berbahasalah dengan cermat. Salam.

Baca juga:

Kalau Penat, Lebih Baik Dihindari
Tagged on:                     

5 thoughts on “Kalau Penat, Lebih Baik Dihindari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.