Menghadapi orang kembar memang menjadi persoalan tersendiri. Selain wajah dan bentuk tubuhnya yang sama, orang kembar juga memiliki nama yang hampir sama. Bagaimana cara kita memanggilnya? Panggillah dengan kata yang berbeda dari namanya. Misalnya, namanya Setiarini dan Setiarina, kita pasti akan memanggil dengan Rini dan Rina, kata yang kembar, Setia, ditinggalkan.

Penyebutan dengan kata yang berbeda dari namanya, adalah cara praktis untuk mengidentifikasi siapa mereka. Dalam membuat kalimat kita juga bisa melakukan itu. Dengan cara seperti itu, kalimat kita malah terlihat lebih ramping alias ringkas.

Penghilangan unsur yang sama dalam kalimat disebut juga dengan pelesapan. Yaitu, penghilangan salah satu unsur yang sama atau hampir sama dalam sebuah kalimat. Sebab, unsur tersebut hanya membuat kalimat lebih panjang. Misalnya:

  • Dalam lawatannya presiden akan mengunjungi negara Singapura, negara Rusia, dan negara Malaysia.
  • Perajin di desa yang sejuk itu dapat mengapalkan 100 ton gerabah, 100 ton mainan anak-anak, dan 100 ton aksesori wanita dari perak.

Sekarang mari kita lesapkan unsur-unsur yang sama sehingga menjadi:

  • Dalam lawatannya presiden akan mengunjungi negara Singapura, Rusia, dan Malaysia.
  • Perajin di desa yang sejuk itu dapat mengapalkan gerabah, mainan anak-anak, dan aksesori wanita dari perak masing-masing 100 ton.

Pelesapan model pertama, ini adalah cara membuat kalimat lebih ringkas dan benar. Namun, ada pelesapan yang mestinya diharamkan. Praktek pelesapan haram banyak dilakukan media massa.

Kelisanan tampaknya memang sangat besar pengaruhnya terhadap bahasa media. Akibatnya, imbuhan sering dilesapkan dari kata kerja—terutama awalan me-—selain penggunaan kata yang tidak perlu. Hal ini tampaknya juga menular dari tradisi pers kita yang sangat permisif terhadap penghilangan imbuhan dalam judul (ini dianggap legal). Akibatnya, nuansa yang tercipta dari kalimat itu adalah ketakseriusan pengelola media di samping kalimat menjadi tidak baku. Misalnya:

  • Pemerintah kita saat ini sedang sibuk juali asetnya untuk sambung hidup.
  • Pemerintah harapkan mahasiswa salurkan aspirasinya lalui jalur yang semestinya.

Supaya kalimat itu berterima, semua imbuhan yang semestinya ada pada kata kerja kita kembalikan.

  • Pemerintah kita saat ini sedang sibuk menjuali asetnya untuk menyambung hidup.
  • Pemerintah mengharapkan mahasiswa menyalurkan aspirasinya melalui jalur yang semestinya.

Ya, semua kata kerja memang sebaiknya menggunakan awalan. Kegamangan penulis untuk memberi imbuhan pada kata-kata yang sudah dianggap tidak berimbuhan membuat kesalahan tersebut terjadi terus—meskipun ada frasa yang memang harus tidak berimbuhan seperti hitung punya hitung, omong punya omong, dan tahu sama tahu.

Misalnya, penulis kita acap bimbang apa betul ngotot dapat ditulis menjadi mengotot, ngetren menjadi mengetren. Padahal, umumnya kata yang diawali dengan bunyi sengau sesungguh merupakan kata yang sudah mengalami proses nasalisasi akibat pengimbuhan. Hanya, dalam bahasa daerah atau bahasa lisan imbuhannya dihilangkan. Dengan begitu, mengontrak diujarkan ngontrak, menari diujarkan nari, mengecek diujarkan ngecek, mengebor diujarkan ngebor, menulis diujarkan nulis, dan seterusnya.

Jadi, dalam melesapkan suatu bentuk sebaiknya kita bersandar terhadap aturan yang baku. Jangan asal saja. Dengan menuli kalimat yang benar, kita makin kelihatan cendekia. Tidak percaya, coba saja. Salam.

Baca juga:

Kalau Sama, Sebut Saja Nama Belakangnya
Tagged on:                             

7 thoughts on “Kalau Sama, Sebut Saja Nama Belakangnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.