keahlian menyunting saya

Tulisan yang berserak bisa dikumpulkan untuk dijadikan buku. Tentu saja membutuhkan keahlian menyunting untuk membuatnya menjadi apik.

“Terimakasih Mas, sudah membuat bapakku bahagia. Bapakku amat bangga dengan bukunya. Sekali lagi, terimakasih sudah membuat tulisan Bapakku yang hanya sepenggal-penggal curhatan dan riwayat perjalanan hidupnya menjadi begitu apik dan enak dibaca.” Itu pesan dari aplikasi whattapps yang dikirimkan teman saya. Ini adalah ucapan terima kasih untuk kesekian kalinya yang disampaikan orang-orang yang pernah saya bantu menyunting naskahnya. Menjadi buku? Iyalah, saya memang memiliki keahlian menyunting.

Awalnya ada WA masuk ke ponsel saya yang mengatakan bahwa bapaknya yang sudah pensiun sejak lima tahun lalu mulai kehilangan kegiatan. Usianya sudah 70 tahun. Katanya, anak-anak dan cucunya menyarankan untuk menulis. Agar nanti bisa dibukukan. Bapaknya menolak karena merasa tidak bisa menulis.

Karena keluarganya terus memaksa, dia menulis sebisanya. “Tulisannya jelek Mas. Saya terkadang bingung membacanya,” kata teman saya telepon. Waktu itu saya hanya tertawa, saya katakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Apalagi ini barang atau tulisannya sudah ada, tinggal diotak-atik.

Saya jadi teringat, frasa “tulisannya jelek” yang keluar dari mulut teman saya, itu bisa menjadi semacam mantra yang menghambat kreativitas. Kalau untuk penulis, ini akan menjadi mental block untuk melanjutkan menulis. Bagi penyunting, bisa jadi bahan pertimbangan yang memberatkan. Penyunting akan bernggapan tulisan yang akan dihadapinya memilikitingkat kesulitan tinggi. Ah, sudahlah, kok malah membahas hal lain.

Jadilah, di tengah pandemi korona yang sedang hot-hotnya saya menyambangi rumah bapaknya teman saya itu di Kranji, Bekasi. Sebuah kompleks perumahan departemen atau kementerian. O ya, bapaknya teman saya ini mantan pejabat di departemen tersebut. Pejabat eselon 2.

Saya melihat tulisan bapaknya teman saya itu, yang saya sapa dengan Pak Tris. Tulisannya tidak keruan. Struktur kalimatnya tidak jelas, apalagi pemakaian kata hubung atau transisi yang jauh panggang dari api. Teman saya bertanya lagi, “Bisa enggak diperbaiki!” Wah, dengan mantap saya bilang bahwa itu bisa diperbaiki. Saya lihat Pak Tris seperti menarik napas panjang.

Senangnya bisa membahagiakan

Tapi, saya mengajukan satu syarat, saluran telepon harus dibuka terus untuk saya. Sebab, bila ada kalimat yang tidak jelas maksudnya, saya pasti akan bertanya. Pak Tris dengan semangat menjawab, ya.

Proses penyuntingan naskah dimulai seminggu sebelum Ramadhan. Satu minggu setelahnya saya perlihatkan hasil suntingan saya yang belum selesai namun sudah ditataletakkan dan diberi cover. Pak Tris senang bukan main. Dia tidak percaya bahwa buku itu adalah hasil tulisannya. Sayangnya, saya tidak bisa menampilkan cover bukunya secara utuh di sini. Pesan dari WA yang saya kirim belum berjawab.

Naskah buku sudah siap untuk cetak, dua minggu sebelum Lebaran. Soalnya Pak Tris ingin ketika Lebaran buku sudah selesai dicetak untuk dibagi dengan anak dan cucunya.

Ketika saya tawarkan untuk membantu mencetaknya. Pak Tris tidak mau, katanya dia sudah menghubungi percetakan yang murah. Syukurlah, saya serahkan naskah buku siap cetak itu.

Namun, dua minggu sesudah Lebaran, Pak Tris menelepon saya dan bilang bukunya belum dicetak. Percetakannya yang dia hubungi sudah tidak aktif. Waduh, saya merasa bersalah juga. Tapi. Lagi-lagi Pak Tris menolak bantuan saya, dia bilang sudah menemukan lagi percetakan yang lebih baik.

Dia hanya meminta saya mengubah foto hitam putih di buku itu menjadi berwarna. Dia ingin mencetak warna. Ini sih tidak masalah. Segera saya ubah foto menjadi warna.  Ini sesungguhnya keterampilan lain, yang tidak terlalu berhubungan keahlian menyunting saya.

Ya, baru di minggu pertama Agustus 2020 ini, teman saya—anaknya Pak Tris—mengucapkan terima kasih bahwa bukunya sudah selesai dicetak. Saya ikut bahagia. Katanya, mereka keluarga besar sudah berkumpul melepas rindu di Kranji, Bekasi, sambil menikmati buku kebanggaannya.

Senangnya, keahlian menyunting saya bisa membantu membahagiakan orang. Siapa mau dibuat bahagia dengan merapikan tulisannya yang berserakan menjadi buku?

Baca juga:

Senangnya, Keahlian Menyunting Saya Bisa Membahagiakan
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.