kebanyakan menulis
Membuat lucu, keracunan sendiri / Stefano Ferrario (Pixabay)
Saya pernah tidak bisa membedakan mana yang lucu dan tidak ketika menulis naskah komedi. Saya sudah keracunan. Ah, yang benar.

Saya cukup banyak menulis komedi atau lawak untuk televisi. Penuh tantangan. Tiap malam, sepulang deadline di kantor, saya sudah menatap laptop untuk menulis naskah komedi. Saban hari berpikir kelucuan apa lagi yang akan ditulis.

Yang benar-benar membuat saya bergadang selama tiga hari adalah ketika mempersiapkan naskah program komedi “Ngelenong Nyok!” di TransTV sekitar awal tahun 2000. Saya harus bertemu dengan eksekutif produser dan produser di TransTV untuk menulis mempersiapkan naskah pertama untuk membuat “demo”.

Pernah satu ketika saya baru saja sampai di rumah sudah ditelepon untuk kembali ke studio untuk berdiskusi perihal isi naskah. Besoknya, seharian saya menerima revisi dan harus menulis kembali. Bahkan, dua jam menjelang shooting, saya harus merevisi naskah komedi yang saya tulis untuk dibagikan ke pemain.

Dalam program ini, tim saya harus menyiapkan program sejak awal, mulai dari casting pemain, menulis naskah. Karena itu, ketika program komedi itu berjalan cukup lama juga, sekitar tiga tahun, saya dan tim bisa berbangga juga.

Kurang relaksasi

Ketika program ini berjalan, setiap minggu saya harus menulis paling tidak enam naskah. Itu dilakukan untuk sekali shooting. Maklum saja, “Ngelenong Nyok!” ditayangkan setiap hari, Senin sampai Jumat.

Di sini saya baru merasakan susahnya menulis naskah komedi. Ketika pekerjaan di kantor padat dan penuh dengan pikiran, betapa susahnya menarik mood atau emosi lucu. Jadi, terkadang laptop terbuka semalaman hingga pagi, dan saya tertidur di depan laptop. Yang menyelamatkan saya adalah tenggat. Ketika dikejar waktu, segala daya kreativitas pun muncul.

Saya banyak menulis naskah komedi untuk “Ngelenong Nyok!”. Tapi, itu hanya salah satu aktivitas saya hanya salah satu. Jauh sebelumnya saya sudah menulis Asep Show di TPI, Chating (Canda itu Penting) Cagur, dan ikut menulis beberapa komedi situasi lain.

Ini yang kemudian menjadi persoalan. Karena saban minggu saya harus menghasilkan lebih enam naskah komedi. Saya sempat kehilangan kepekaan daya humor. Teman-teman saya satu tim bilang, saya keracunan karena kebanyakan menulis naskah komedi. Saya memutuskan berhenti menulis. Hanya sekali-kali bila ada naskah yang dianggap sulit atau pesanan, saya diminta menulis oleh TransTV.

Dari peristiwa ini, saya bisa menarik hikmah. Saya ternyata kurang relaksasi. Kerja saya ketika itu hanya menulis dan menulis. Saya jarang melakukan aktivitas lain yang berfungsi mengisi ulang apa yang sudah saya keluarkan dalam menulis naskah komedi. Saya benar-benar kebanyakan menulis tapi kurang “kelayapan”. Jangan begitu ya Bro.

Baca juga:

Mood Harus Sama dengan yang Kita Tulis
Saya Menulis Lucu, Kalian Tidak Percaya
Pentingnya Membaca bagi Penulis
Senangnya, Keahlian Menyunting Saya Bisa Membahagiakan
Bikin Humor, Siap Tanggung Jawab

Kebanyakan Menulis Naskah Komedi Bikin Keracunan
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.