Zheng Shi dari Pixabay

Apa enaknya miring? Relatif sih jawaban, ada yang demen posisi miring, ada juga yang tidak suka. Bebaslah jawabannya. Tapi, yang pasti suatu posisi yang tidak normal akan menarik perhatian. Itulah yang terjadi dengan huruf miring.

Teman muda saya datang lagi, kali ini mengelauh, kenapa ya ada huruf miring, memang fungsinya apa? Langsung saya jawab, huruf miring itu untuk menulis judul buku, nama media massa, kata asing, atau frasa atau istilah yang ingin ditekankan. Dengan cuweknya teman saya itu berujar, “Sudah tahu.” Mengesalkan sekali, rasanya ingin tak sobek-sobek (dengan gaya bicara seperti Tukul Arwana).

Tapi, ups, saya ingat, dia pasti ingin menanyakan alasan logis kenapa judul buku, nama media massa, kata asing, dan menekankan istilah atau frasa harus ditulis dengan huruf miring. Masih ingat, dong, dia juga pernah menanyakan hal yang sama mengenai huruf besar atau kapital.

Okelah, saya akan menjawab pertanyaan itu. Kalau soal bagaimana menggunakan huruf miring memang ada PUEBI, kalau alasan kenapa ada huruf miring. Dibolak-balik itu PUEBI tidak bakal ada. Untuk memenuhi rasa penasaran teman saya itu, saya akan menjelaskan.

Meminta perhatian

Sebenarnya hampir tidak jauh berbeda sama penggunaan huruf besar. Huruf miring dibuat untuk menyadarkan pembaca bahwa yang dihadapi bukanlah kata atau frasa yang biasa. Ini saya rasa alasan paling logis. Ketika kita membaca tiba-tiba ada kata yang dimiringkan, itu artinya kata itu menuntut perhatian. Misalnya:

  • Perjalanan ke rumah itu sangat jauh sehingga membuat keringat dweleran.
  • Saya membaca buku Siti Nurbaya ketika masih kelas enam SD.

Ketika bertemu kata dweleran, apalagi huruf dimiringkan, orang lansung ngeh bahwa kata itu minta perhatian karena bukan kosa kata bahasa Indonesia melainkan kosa kata bahasa Jawa. Lalu, pada kalimat kedua, Siti Nurbaya jelas itu judul buku, konteks kalimatnya sudah menunjukkan itu. Namun, bagaimana bila tidak menggunakan kata buku.

Kalau saya menulis Saya menemukan Siti Nurbaya di Senen di antara tumpukan sampah, lalu saya menulis lagi Saya menemukan Siti Nurbaya di Senen di antara tumpukan sampah. Pada contoh pertama, orang langsung yakin bahwa itu adalah nama orang.

Namun, pada contoh berikut, dengan memiringkan atau menggarisbawahi Siti Nurbaya, orang langsung tahu bahwa itu hanyalah sebuah buku. Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa huruf miring juga bisa memberi makna pada kata atau frasa. Catatan: Huruf miring bisa diganti dengan garis bawah bila memang tidak memungkin untuk membuat huruf miring.

Jadi, mengapa huruf dimiringkan, pertama, karena kata atau frasa yang dimiringkan itu meminta perhatian khusus; kedua, huruf miring juga bisa memberi makna pada kata atau frasa. Ada alasan lain? Ya, pasti ada. Silakan.

Baca juga:

Kenapa, sih, Harus Miring, Enggak Enak Tahu
Tagged on:                         

8 thoughts on “Kenapa, sih, Harus Miring, Enggak Enak Tahu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.