masa-lalu

“Ayahku kembali dari ladang lalu membersihkan cangkul lalu membersihkan arit. Setelah itu, ayah membuat kopi lalu duduk di meja lalu membaca koran. Setelah itu, ibu datang lalu duduk di samping ayah lalu ngobrol bareng lalu tertawa. Setelah itu adik datang lalu menanyakan soal yang tidak dimengerti lalu duduk manja di pangkuan ibu. Setelah itu….”

Saya menulis ini karena teringat pelajaran mengarang zaman sekolah dasar dulu di masa lalu. Ketika itu, banyak teman-teman saya yang mengandalkan kata lalu, setelah itu, dan, kemudian untuk memperpanjang karangannya. Nyatanya teman-teman saya itu berhasil menyelesaikan karangannya. Hebat?

Ya, mereka hebat. Karangan yang baik adalah karangan yang selesai. Mereka selesai, apa pun hasilnya. Mereka sudah bekerja dengan prinsip menulis yang benar. Menulis hingga selesai, hanya sayangnya setelah itu mereka tidak melakukan revisi atau penyuntingan.

Tulisan selesai akan lebih mudah untuk disunting guna memperbaiki bahasa atau mempertajam tujuan penulisan kita. Pastilah begitu. Menyunting tulisan yang setengah jadi merupakan perbuatan sia-sia. Bisa jadi tulisan kita akan melenceng dari apa yang kita pikiran di awal.

Hikmah dari masa lalu

Apa yang bisa kita pelajari dari “tragedi” pelajaran mengarang yang monoton di masa lalu itu? Banyak yang bisa kita petik dari kemampuan menulis kita di masa lalu yang demen menggunakan kata lalu, setelah itu, kemudian. Di antaranya:

Pertama, kurang persiapan. Seperti kita ketahui, pelajaran mengarang di masa lampau adalah pelajaran improvisasi guru. Ketika guru merasa “malas” untuk mengajar, mengarang menjadi pelajaran yang paling mudah untuk dilakukan. Mengarang sebagai pelajaran spontan. Siswa tidak siap. Tulisan tidak lancar. Baru satu dua kalimat lalu terhenti karena tidak tahu apa yang akan ditulis.

Pelajaran mengarang kita di masa lalu kurang menekankan pentingnya persiapan untuk menulis, termasuk hanya karangan yang berisi cerita sehari-hari. Memang, ada persiapan sebelum menulis (pramenulis), yaitu membuat kerangka karangan. Namun, banyak membuat kerangka karangan hanya sebagai tugas tanpa mengetahui apa fungsinya. Bahkan, sebagian besar beranggapan kerangka karangan hanya membikin ribet dalam menulis.

Itu terjadi karena guru kita tidak benar-benar menekankan bahwa materi yang akan ditulis menjadi karangan haruslah terorganisasi dengan baik. Satu kesalahan lain, guru tidak pernah menekankan pentingnya menyiapkan materi atau bahan karangan. Alhasil, kerangka karangan dibuat dengan materi seadanya atau malah kosong. Alhasil, untuk membuat kerangka karangan pun bisa macet….

Pelajaran pertama yang bisa kita petik dari pelajaran mengarang di masa lalu, mengarang itu perlu persiapan. Materi apa yang akan ditulis dan bagaimana struktur penulisan atau organisasi karangannya. Misalnya, di bagian pembuka akan diisi apa, bagian pembahasan apakah perlu dibagi dengan subjudul atau tidak, bagian penutup apakah akan ditutup dengan kesimpulan semata atau kutipan atau ajakan.

Kedua, seringnya memakai yang sama seperti setelah itu, lalu, kemudian, dan, ada dua penyebabnya. Bisa jadi, dulu ketika kita masih sekolah dasar, kosa kata kita terbatas.

Keterbatasan kosa kata dapat membuat kita mengulang dengan kata yang sama untuk menyampaikan pikiran. Kita ambil saja satu kalimat di atas, Ayahku kembali dari ladang lalu membersihkan cangkul lalu membersihkan arit. Dalam kalimat itu digunakan lalu hingga dua kali.

Hal itu, bisa jadi, karena ketidaktahuan si penulis bahwa ada kata dan, terus yang bisa digunakan. Lihat saja dengan mengganti satu kata itu, kalimat akan lebih enak dibaca. Nikmati saja: Ayahku kembali dari ladang lalu membersihkan cangkul dan membersihkan arit. Kalau mau lebih ringkas malah bisa dibuat seperti ini: Ayahku kembali dari ladang lalu membersihkan cangkul dan arit.

Nyatalah bahwa banyaknya kata yang kita kuasai akan membuat kalimat yang kita tulis lebih enak dibaca. Kenapa kurang kosa katanya? Bisa jadi karena kurang banyak membaca atau mendengar.

Ketiga, penggunaan preposisi yang berlebihan dalam karangan ada kemungkinan karena kalimat macet. Nah, agar kalimat itu bisa jalan ditambahilah dengan preposisi . Sekali lagi kita ambil kalimat dari contoh di atas.

Kalimat Setelah itu, ibu datang lalu duduk di samping ayah lalu ngobrol bareng lalu tertawa. Kalimat dibentuk beberapa kali karena macet. Yang pertama adalah kalimat, Setelah itu, ibu datang lalu duduk di samping ayah. Karena macet, lalu ditambahi dengan lalu agar kalimat bisa berjalan. Kemudian karena ingin menambahkan apa yang dikerjakan oleh ayah dan ibu maka ditambah lalu lagi sehingga menjadi
Setelah itu, ibu datang lalu duduk di samping ayah lalu ngobrol bareng lalu tertawa.

Langkah dengan menambahi preposisi lalu merupakan langkah yang tepat. Bukankah guru menulis Joe Vitale pernah bilang, jika kalimat kita macet tambahilah dengan kata hubung atau preposisi. Adanya preposisi akan memaksa kita menambahi dengan kata lain lagi.

Berbenah dari masa lalu

Dengan belajar dari cara kita menulis atau mengarang di masa lalu, kita bisa memperbaiki diri. Jika kita ingin membuat tulisan yang bagus, tidak ada cara lain selain mempersiapkan materi yang akan ditulis. Tidak ada tulisan yang baik tanpa persiapan yang baik. Seandainya pun ada, itu hanya ada satu dari seribu kemungkinan.

Ada lagi hikmah yang bisa kita petik dari kebiasaan mengarang di masa lalu ketika kita masih sekolah dasar, yaitu banyak membaca. Banyak membaca akan menambah kosa kata kita. Selain itu, kita juga bisa belajar cara menulis yang baik dan memikat dari membaca.

Menulis sebenarnya reproduksi dari apa yang kita baca. Amat jarang seorang penulis yang bukan pembaca buku yang baik.

Yang terakhir yang bisa kita, ini adalah trik menulis sesungguhnya. Jika tulisan kita macet, gunakanlah preposisi atau kata hubung agar si kalimat lancar mengalir.

Begitu Bro, semoga tulisan ini bermanfaat. Salam.

Baca juga:

500 Penulis, Satu Mentornya
Senangnya, Keahlian Menyunting Saya Bisa Membahagiakan
Menulis Sebuah Proses, Tidak Asal Tulis
3 Alasan ke Rumah Nenek Menjadi Favorit
Cucu Nenek dan Neneknya, Skrip Sketsa Saya

Kesalahan Mengarang di Masa Lalu, Mutiara di Masa Kini
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.