Jika pada konsep diri di Barat kita mengenal Charles Horton Cooley, konsep diri yang diajar Konfusius lebih dahsyat karena berpadu dengan ajaran kebajikan dan kebijakan.

Biografi

Konfusius alias Konghucu atau Kung Fu Tse atau Kongzi lahir pada tanggal 27 Ba Yue (bulan 8) 551 sebelum Masehi di negeri Lu, Kota Zou Yi, Desa Chang Ping di lembah Kong Song (kini jazirah Shandong kota Qu Fu), pada masa Dinasti Chou. Nama kecilnya adalah Qiu yang berarti bukit alias Zong Ni yang artinya putra kedua dari bukit Ni, beliau menikah dengan putri Negeri Song yang bermarga Qi Guan. Dari pernikahan ini mendapat seorang putra yang diberi nama Li yang berarti ikan gurami alias Bo Yu. Diberi nama demikian karena pada saat kelahiran putranya, Konfusius diberi ikan gurami oleh Raja Muda Negeri Lu (Lu Zhao Gong). Selain Li, Khonghucu masih mempunyai dua orang putri. Seorang putrinya menjadi istri Gong Ye Chang, murid beliau.

Pemikiran

  • Pengembangan diri

Dalam hal pengembangan diri, Konfusius mengatakan bahwa kita jangan bersedih hanya karena tidak diakui oleh orang lain, lebih baik bertanyakan pada diri kita sendiri (instropeksi) apakah kita memang sudah sepantasnya diakui orang.

Kongzi percaya bahwa pendidikan adalah suatu cara untuk meningkatkan kualitas diri. Pendidikan menduduki peran terpenting dalam kehidupan manusia. Pendidikan, bagi Kongzi, adalah cara untuk menjalani hidup. Pasalnya, proses belajar sejatinya adalah untuk kepentingan diri sendiri’, di mana pada akhirnya terbentuk pengetahuan diri dan realisasi diri. Namun, sebenarnya, menurut Kongzi, kebanyakan orang akan memperoleh pendidikan sejati secara alami. Yang paling penting dalam pandangan KOngzi adalah bahwa pendidikan adalah hak semua orang. Dalam pendidikan tidak ada perbedaan kelas.

Perihal pengetahuan, Kongzi mengungkapkan bahwa akan lebih berarti bila mengatakan apa yang diketahui bila memang mengetahui, dan mengatakan apa yang tidak diketahui bila memang tidak mengetahui.

  • Interaksi

Konfusius menekankan cara menjalani kehidupan yang harmonis dengan mengutamakan moralitas atau kebajikan. Seseorang dilahirkan untuk menjalani hubungan tertentu sehingga setiap orang mempunyai kewajiban tertentu. Kewajiban itu seperti kewajiban terhadap negara, kewajiban terhadap orang tua, kewajiban untuk menolong teman, dan suatu kewajiban umum terhadap kehidupan manusia. Kewajiban terhadap orang tua lebih utama dibandingkan dengan kewajiban lain.

  • Hasil karya

Karya-karya dari Kung Fu Tze dapat dibedakan menjadi dua pengelompokkan, pertama merupakan hasil perangkuman yang dilakukan Kung Fu Tze terhadap beberapa karya-karya yang dianggap penting dalam mencapai keharmonisan. Kedua, merupakan hasil karya para muridnya yang berisi tentang ujaran-ujaran Kung Fu Tze kepada murid-muridnya.

Kitab ajaran Konfusius yang utama adalah Empat Buku [Shi Shu] dan Lima Kitab [Wu Cing]. Empat Buku merupakan suatu ajaran pokok yang ditulis oleh para pengikut Konfusius sampai kehidupan Mencius. Adapun Lima Kitab merupakan kitab yang berasal dari era sebelum Konfusius.

Empat Buku tersebut menjadi rujukan pokok dalam bidang pendidikan dan ujian negara selama beberapa generasi dalam sejarah Tiongkok sejak abad ke-14. Alhasil, Empat Buku tersebut telah menciptakan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan rakyat Tiongkok sejak 600 tahun yang silam.

Empat kitab itu: Buku tentang Pelajaran Besar (The Great Learning/Da Xue), buku ini ditulis murid Konfusius angkatan pertama Tseng Zi; Buku Kumpulan Ujaran (The Analects/ Lun Yu); Pokok-Pokok Pelajaran Mencius (The Principle of Mencius/Mengzi), merupakan suatu kumpulan tulisan ajaran dan percakapan Mencius dalam menjalani kehidupan pada saat itu; Buku tentang Jalan Tengah (The Doctrine of the Mean/ Chung Yung), ditulis oleh Zi Shih (Khung Chi) , cucu Konfusius.

Lima kitab (wu ching) merupakan ajaran-ajaran pra-Kongzi. Wucing terdiri dari:

(1) Kitab tentang Kejadian/Perubahan (The Book of Change/I Cing). Kitab ini merupakan salah satu kitab tertua yang diperkirakan sudah ada sejak masa 1100 SM sebagai suatu kitab yang mengandung filsafat hidup yang tinggi yang menghubungkan kejadian alam semesta dengan berbagai perubahan terhadap kehidupan sehari-hari. Sejarah di Tiongkok mencatat bahwa I Cing banyak dipakai oleh para peramal pada zaman dinasti untuk menasihati para penguasa selama masa perang antarnegara. Kemungkinan kitab ini disusun kembali oleh Konfusius dan murid-muridnya. Kitab ini terdiri dari 24.707 huruf terbagi atas 64 bab sesuai dengan jenis heksagram yin (negatif) dan yng (positif).

(2) Kitab tentang Sejarah (The Book of History/Shu Cing) yang terdiri dari 25.700 huruf, terbagi atas 58 pasal dalam 4 bab dan disebut juga Shang Su (Sejarah Resmi), Cai Cing atau Piet Cing (Kitab Tembok), merupakan suatu rangkaian susunan catatan dokumen yang terkait dengan berbagai kejadian sejarah kuno di Tiongkok.

(3) Kitab tentang Sajak (The Book of Poetry/Shi Cing) merupakan suatu kumpulan sajak kuno, dalam bentuk nyanyian yang terdiri dari 305 syair. Syair-syair ini terutama merupakan suatu ungkapan realitas kehidupan bermasyarakat terhadap keberadaan Yang Maha Esa, termasuk tradisi kehidupan berkeluarga dan kehidupan rakyat pada saat itu. Sebagian syair yang ada merupakan kumpulan syair sebelum kelahiran Konfusius, malah ada yang berasal dari Dinasti Siang (1766 SM-1122 SM).

(4) Kitab tentang Upacara dan Tata Krama (The Book of Rites/Li Chi) merupakan salah satu kitab dari Wu Cing yang dipercayai bahwa naskah aslinya telah disusun kembali oleh Konfusius. Kitab ini sempat dimusnahkan oleh penguasa waktu itu (Dinasti Chin pada pemerintahan Kaisar Shih), dan kemudian disusun kembali oleh Tetua Tai (Ta Tai) dan keponakannya Tai Yunior (Hsiao Tai) pada sekitar abad pertama sebelum Masehi.

Kitab ini terdiri dari tiga bagian utama yang berisi tata cara pemerintahan, tata cara puja bhakti, dan tata cara kesusilaan. Secara umum, Li Chi menguraikan prinsip moral yang berkait dengan ketatanegaraan, perkembangan upacara, persembahan dan upacara keagamaan, pendidikan, musik, sikap cendekiawan, dan doktrin Jalan Tengah (Chung Yung).

(5) Kitab Rangkaian (Spring and Autums Annals/Ch’un Ch’iu) merupakan satu-satunya kitab yang disusun sendiri oleh Konfusius, yang mencatat berbagai kejadian dalam sejarah negara Tiongkok pada era Ch’un Ch’iu (722—481 SM) mulai abad ke-8 SM sampai wafatnya Konfusius pada permulaan abad ke-5 SM.

Baca juga:

Konsep Diri Konfusius
Tagged on:                 
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.