Kita sering melihat orang dalam kelompok kecil tertawa terbahak. Mudah kita tebak, itu pasti sedang mendengarkan cerita jorok atau memang ada yang jago membuat lelucon. Kalau saya sih langsung bisa menebak, pasti lagi cerita jorok atau porno.

Ketika saya masih aktif menulis humor atau melatih komedi, saya sering menyebut lawakan jenis ini sebagai lawakan pasar. Betapa tidak, setiap orang berpotensi bisa membuat lelucon yang porno ini. Coba saja tengok orang yang berkerumun dan tertawa-tawa, paling tidak mereka tertawa dengan melontarkan lawakan porno. Memang, menurut Mel Helitzer, sang profesor penulisan humor, sex is the topic of close to 25% of all humor (2005:38).

Biasanya, saya menyarankan lawakan ini sebagai lawakan pamungkas ketika sudah tidak mampu lagi membuat tawa penonton. Lawakan porno memang komunikatif, karena setiap orang pasti tahu. Kendati begitu, sekali lagi saya menyarankan hindari lawakan jenis ini. Pasalnya, dari sinilah orang akan tahu bagaimana sebenarnya kualitas Anda.

Mungkin yang juga bisa dimasukkan ke dalam kategori lawakan jorok adalah lawakan dengan memperlihatkan orang buang hajat besar atau hajat kecil dan juga buang angin (kentut). Sesungguhnya suguhan seperti itu kurang layak. Apalagi jika acara komedi itu adalah pertunjukan di teve dan ditonton di ruang keluarga bahkan di ruang makan. Pernah ada stasiun teve yang sangat getol mempertontonkan adegan buang hajat dan buang angin pada seluruh program komedinya. Dahsyat!

Saran saya, mari kita membuat joke atau lelucon yang lebih bermartabat. Jangan membuat joke dengan memunguti lelucon di pasar dan jalanan. Tidak elite. Pasalnya, di situlah terlihat kualitas kita. Salam.

Baca juga:

Lelucon Porno, Enggak deh!
Tagged on:                         
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.