SEBAGAI orang yang sering menulis naskah komedi atau humor saya selalu berhadapan dengan bagaimana membuat lucu pada tulisan saya. Seorang teman merasa kesal ketika menyetorkan naskah untuk program komedi di sebuah stasiun teve, si produser sudah melemparkan pertanyaan: lucunya di mana? Jangan kesal, kata saya, itu wajar karena tentu saja si produser ingin programnya banyak ditonton orang. Teman saya itu ingin naskahnya lucu.

Kepada teman itu saya sodorkan satu bagian dari buku saya “Sukses Melawak: Mempersiapkan Kreatif Komedi dan Performance”. Dalam buku itu saya mengatakann, yang paling utama dalam melawak adalah melucu. Melawak tanpa melucu adalah suatu kemustahilan. Tapi, apa sebenarnya lucu itu?

Seorang pemimpin pabrik tawa Srimulat, Teguh, pernah berujar bahwa lucu itu aneh. Agaknya, inilah yang mendasari mengapa para pemain Srimulat berpenampilan aneh. Lihat saja penampilan Gogon dengan rambut jambulnya, atau Mamik “Kepodang” Prakoso dengan rambut di sisi kepalanya bak bulu burung. Tentu masih ingat Asmuni dengan kumis caplinnya.

Penampilan seperti itu sejatinya juga untuk mempersiapkan penonton bahwa mereka sedang menonton lawak. Dengan begitu, penonton sudah siap untuk tertawa. Itu dari sisi penampilan. Dari sisi lelucon pun Teguh memegang prinsip yang sama. Lucu itu aneh. Aneh itu menyimpang. Tampaknya, soal yang satu ini, sejalan dengan pendapat bahwa lucu itu sesungguhnya adalah logika yang menyimpang. Ada juga yang menyebut logika mencong.

Jadi, lucu itu bila terjadi suatu ketidaklaziman atau aneh itu tadi. Bila orang berpikir lurus atau linear, maka para pelawak harus membelokkan yang lurus tadi. Pelawak memang harus berpikir tidak seperti orang kebanyakan. Misalnya:

Seseorang mencari susu di sebuah toko.

Penjual : Cari susu apa? Susu sapi, susu kedelai, atau susu kambing.

Pembeli : Susu kupu-kupu.

Penjual : Mana ada susu kupu-kupu

Pembeli : Ada. Susu kupu-kupu malam

Penjual : ?!?

Mari kita lihat. Ketika penjaga toko mengatakan bahwa memangnya kupu-kupu ada susunya. Ini adalah cara berpikir lurus atau linear. Logika ini kemudian dibelokkan oleh orang yang mencari susu dengan menjawab kupu-kupu malam.

Kelucuan terbangun bukan saja karena logika yang mencong, melainkan juga oleh melompatnya pikiran dari kupu-kupu yang merupakan serangga menjadi kupu-kupu malam yang tentu saja manusia. Hal ini pun sesuai dengan formula set-up dan punch line.

Nah, sudah jelas bukan apa itu lucu. Teman saya mengangguk. Ya, sudah berarti semua juga sudah paham. Salam.

Lihat juga:

Lucu itu Soal Lurus dan Mencong
Tagged on:                     
Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.