penyuntingan-1

Penyuntingan merupakan bagian terakhir dari aktivitas menulis. Namun, peran yang disandang penyuntingan tidak bisa dianggap remeh. Kalau kita membaca buku atau tulisan yang enak dibaca, di sana ada peran penyuntingan.

Saya berkesempatan menjadi co-trainer untuk Workshop Writing Book Mastery pada pertengahan November 2020 lalu. Adalah Ongky Hojanto yang mengajak saya terlibat dalam eventnya. Motivator terbaik versi Kontan itu mengajak saya mengisi sesi akhir dari workshop tersebut, yaitu editing alias penyuntingan.

Yang membuat saya terharu, bukan karena saya diajak oleh coach Ongky, melainkan karena di tengah orang sudah begitu menggandrungi media audio visual dan digital, masih lumayan banyak orang yang ingin menulis buku. Wah, benar-benar pejuang literasi.

Kembali ke persoalan kita. Penempatan sesi penyuntingan di akhir acara memang tepat. Penyuntingan memang berperan untuk memperbaiki apa yang sudah ditulis. Jadi bila ketika menulis selalu menjaga agar otak kiri kita tidak ikut campur, di bagian akhir inilah kita mempersilakan otak kiri untuk berperan.

Sudah tahu, dong, otak kiri memang otak rasional dan logika. Otak yang berbicara soal salah dan benar. Kenapa otak kiri tidak boleh berperan ketika menulis? Karena menulis adalah aktivitas otak kanan. Bila otak kiri dibiarkan ikut nimbrung ketika kita menulis, tulisan kita akan lama selesainya. Karena kita sibuk membenahi tulisan yang baru saja kita tulis.

Tidak mengherankan bila banyak motivator menulis bilang, ketika menulis ya terus saja menulis hingga selesai jangan pikirkan baik dan buruk. Ah, saya jadi harus mengatakan bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang selesai bukan tulisan yang ada dalam pikiran. Lagi pula prinsip otak kanan, semua yang kita tulis adalah baik dan benar. Tidak ada kata salah di otak kanan. Menulislah terus jangan ragu. Bayangkan bahwa tulisan kita bisa memukau banyak orang.

Menyunting adalah memilih. Jadi, bila da kalimat Aku sunting kamu menjadi istriku, bermakna aku memilih kamu untuk kujadikan istri. Kalau kita menyunting naskah, bermakna kita memilih naskah itu menjadi seperti apa. Bila ingin menjadikan naskah itu untuk remaja, pilihlah kosa kata dan struktur kalimat yang sesuai dengan segmen kita itu.

Manfaat penyuntingan

Sebelum lebih jauh, ternyata penyuntingan terhadap naskah yang sudah ditulis memiliki tiga manfaat:

  1. Penyuntingan akan mempertajam segmentasi dan positioning tulisan kita
  2. Penyuntingan dapat memperbaiki tingkat keterbacaan tulisan
  3. Penyuntingan dapat menaikkan gengsi dan kredibilitas.

Masa penyuntingan bisa mempertajam segmentasi dan positioning? Bisa. Segmen yang kita bidik tentu kelompok yang memiliki gaya bicara dan kebiasaan yang sudah pasti kita ketahui. Misalnya, bila menulis buku ekonomi untuk kalangan awam, tentu kita harus menahan diri untuk tidak menggunakan istilah ekonomi secara berlebihan. Seandainya pun menggunakan istilah ekonomi yang tidak familiar di kalangan orang awam, penulis harus menjelaskan dulu konsep ekonomi itu. Atau, paling tidak penulis mencari padanannya dalam bahasa Indonesia.

Data mengenai orang-orang yang akan disasar oleh buku kita tentu saja harus kita ketahui dengan baik. Misalnya, target kita adalah orang-orang yang sibuk yang hanya sempat membaca buku kita ketika akan tidur. Tentu bahasa buku kita harus lebih santai dan mudah dipahami. Jangan sampai tertidur ketika baru membaca satu paragraf buku kita karena sulit dicerna.

Bila sasaran kita adalah orang-orang yang senang membaca sebelum berangkat kerja, bahasa yang digunakan haruslah santai dan pilihan katanya mengandung semangat dan optimistis.

Selanjutnya, penyuntingan bisa memperbaiki tingkat keterbacaan. Ya, bisa. Orang akan mudah memahami bacaannya bila kalimat dalam buku itu pendek-pendek. Tidak ada ketentuan yang jelas, berapa banyak kata sebaiknya dalam satu kalimat. Namun, banyak yang patokan bahwa satu kalimat sebaiknya hanya terdiri dari 15 hingga 20 kata.

Bukan cuma kalimat yang pendek, tulisan kita akan mudah dipahami bila menggunakan bahasa atau istilah yang mudah dipahami oleh pembaca. Karena itu, gunakanlah kata yang sederhana, kata sehari-hari. Pilihan kata yang sulit, atau malah bahasa asing, memang terkadang dapat menaikkan gengsi kita. Tapi, apalah arti gengsi bila tulisan kita tak terpahami.

Penyuntingan juga dapat menaikkan gengsi. Seperti saya singgung pada paragraf sebelumnya, pemilihan kata terkadang bisa menaikkan gengsi. Betul itu. Sekali lagi, banyaknya istilah teknis dalam bidang keilmuan memang bisa menunjukkan bahwa penulis kompeten dalam bidang ilmunya. Tapi, jangan sampai hal tersebut membuat tulisan tak terpahami.

Ada jalan keluar yang bisa dilakukan. Jelaskan setiap istilah teknis itu dengan bahasa yang mudah dimengerti. Dengan demikian, gengsi tetap ada dan tulisan kita mudah dicerna pembaca. Ada lagi, dengan kemudahan dalam memahami tulisan teknis kita, ini bisa menarik pembaca baru di luar segmentasi pembaca.

Mulai menyunting saja

Sekarang saatnya menyunting naskah yang sudah selesai kita tulis. Inilah saatnya otak kiri beraksi. Bicara tentang salah benar.

Ada dua jenis penyuntingan: mekanik dan substantif. Mekanik, menyunting hanya untuk memperbaiki ejaan, salah ketik, pemakaian transisi dalam kalimat. Lalu substantif adalah menyunting isi. Apakah struktur tulisan sudah benar: tidak ada paragraf salah posisi, keseluruhan isi tulisan sudah sesuai dengan yang kita maksud. Isi tidak mengandung SARA. Jika tulisan kita ternyata paragrafnya amburadul, tulisan tidak sesuai dengan tujuan penulisan, jalan keluarnya adalah tulis ulang.

Sekarang mari kita menyunting mekanik. Sebelum mulai memeriksa salah ketik, tentu kita sudah menentukan bahasa seperti apa yang kita gunakan dalam penulisan kita. Yang kita gunakan bahasa standar atau substandar. Kalau kita sudah menetapkan bahasa substandar yang kita gunakan, kosa kata bahasa standar harus disingkirkan.

Kosa kata bahasa standar seperti dapat, pria, wanita, tidak harus disingkirkan diganti dengan bisa, cowok, cewek, enggak. Apakah bahasa substandar itu baku? Iyalah, bisa dicek di kamus daring. Karena itu, meskipun substandar, ejaan katanya harus mengikuti aturan. Misalnya, enggak adalah ejaan baku. Jadi kalau menulis nggak, gak, atau engga harus dikursifkan atau dicetak miring karena bukan bentuk baku.

Kalau kita mau menggunakan bahasa substandar berarti bahasa substandar harus dihilangkan. Lalu, bagaimana bila ingin tulisan kita terkesan formal tapi tidak kaku. Itu artinya, kita harus mencampur bahasa standar dan substandar. Tentunya bahasa substandar tertentu, sebab, tidaklah mungkin mengganti saya dengan gua atau perempuan dengan cewek. Yang umumnya bisa digunakan adalah kata bisa, mejeng, dan kata slang lain yang tidak terlalu dominan nuansa informalnya.

Jadi, sekarang periksanyalah kosa kata yang kita gunakan sesuai dengan pilihan varian bahasa kita. Seperti saya katakan sebelumnya, menyunting pada hakikatnya adalah memilih. Pilihan kita nonformal, ya, kiat periksa penggunaan kata kita dengan alat itu.

Lalu bagaimana dengan substantif. Kita baca tulisan kita. Kita lihat masalah legalitas. Sudahkah kita sebutkan sumber pada kutipan yang kita ambil, seberapa banyak kutipan kita. Jangan sampai kita dituduh plagiat. Paragraf kita periksa apakah sudah sesuai dengan penulisan kita. Dalam paragraf kita ada kalimat sumbang atau tidak.

Ketika kita menulis, terkadang, kita ingat akan konsep atau ide tertentu dan langsung menuliskan dalam paragraf itu. Nah, bila ada kalimat yang idenya tidak sejalan dengan paragraf itu, kalimat ini harus dicarikan tempat yang layak di paragraf yang sesuai di paragraf lain.

Lalu kita periksa gambar atau grafik. Sudah sesuai atau belum dengan tulisannya atau belum. Yang juga perlu dilihat lagi adalah penutup. Meskipun kelihatan sepele, penutup yang berkesan akan membuat pembaca merasa senang bahwa apa yang dibacanya memiliki nilai.

Kalau penutup, sudah selesai dan dianggap baik. Selamat, tulisan Anda sudah siap untuk dipublikasi sebagai bagian dari buku, artikel untuk majalah atau koran, atau artikel untuk blog.

Nyatalah bahwa penyuntingan memiliki manfaat yang cukup besar untuk memperbaiki penampilan tulisan kita. Jadi, menulislah dengan tuntas, sehingga bisa menyunting dengan lebih baik. Saya, Tri Adi Sarwoko, penulis dan trainer menulis, senang bisa berbagi dengan Anda. Salam.

Baca juga:

  1. Menulis itu Gampang dan Membahagiakan, Inilah 3 Jurusnya
  2. Menulis Sebuah Proses, Tidak Asal Tulis
  3. Senangnya, Keahlian Menyunting Saya Bisa Membahagiakan
  4. 500 Penulis, Satu Mentornya
3 Manfaat Penyuntingan dan Formula yang Harus Diketahui Penulis
Tagged on:             

One thought on “3 Manfaat Penyuntingan dan Formula yang Harus Diketahui Penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.