membaca-buku

Jika ingin membaca buku, kita bisa ke toko buku offline maupun online. Kita tinggal memilih buku yang kita sukai. Mau buku fiksi atau nonfiksi. Kemasan buku (sampul) pun semakin menarik dan variatif.

Namun jangan membayangkan buku di awal peradaban bentuknya seperti buku saat ini. Jauh sekali perbedaannya. Buku mulai dikenal pada zaman Mesir kuno, sekitar 3000 tahun sebelum Masehi (SM). Saat itu, orang Mesir menulis di banyak media, seperti logam, kulit, tanah liat, batu, dan tulang. Saat itu, buku ditulis satu per satu, halaman demi halaman.

Bisa dibayangkan, bagaimana tidak nikmatnya membaca buku bila lembaran halaman bukunya terbuat dari logam atau tulang. Nah, untungnya, ada media tulis yang bisa membuat nyaman ketika menulis dan membaca, yaitu: papirus. Media tulis yang satu ini paling sering digunakan karena lebih luwes ketimbang media yang lain.

Bermula dari papirus

Lembar papirus tidaklah dibentuk seperti buku saat ini, melainkan berbentuk gulungan. Papirus terbuat dari alang-alang yang banyak tumbuh di Lembah Nil. Setiap lembar papirus direkatkan atau dijahit untuk membuat gulungan. Panjang sebuah gulungan standar berukuran sekitar 30 kaki dan lebar 7 hingga 10 inci. Gulungan papirus terpanjang yang pernah ditemukan membentang lebih dari 133 kaki. Jika dibentang ke atas, panjangnya hampir setinggi patung Liberty yang 93 meter itu.

membaca-buku-1Nyatanya, hingga abad ke-6 SM , papirus menjadi media tulis paling populer di seluruh Mediterania. Bukan hanya itu, papirus juga digunakan oleh orang Yunani dan Romawi. Gulungan papirus nyatanya banyak merekam peradaban kuno di dalamnya. Gulungan papirus banyak tersimpan di perpustakaan besar. Perpustakaan Kerajaan Alexandria menyimpan sekitar setengah juta gulungan dalam koleksinya. Ini sekitar 70 persen dari semua buku yang ada pada saat itu.

Setelah papirus yang perdagangannya dimonopoli oleh Mesir, lalu ada perkamen. Media tulis yang terbuat dari kulit binatang ini permukaannya lebih rata. Selain itu, kedua sisinya bisa ditulisi. Kendati begitu, papirus tidak lantas hilang sebagai media tulis. Toh, keduanya paduan keduanya melahirkan kodeks.

Senyaman membaca buku masa kini

Kodeks ini mulai dikenal sekitar abad ke-2 hingga ke-4. Pelopornya adalah orang Romawi. Mereka mulai menjahit lembaran papirus atau perkamen yang dilipat menjadi satu, dan mengikatnya di antara selimut kayu. Bentuk ini yang disebut kodeks. Nah, si kodeks ini sudah mirip dengan buku yang kita kenal sekarang.

Dibandingkan dengan gulungan papirus atau perkamen, kodeks lebih nyaman untuk dibaca, lebih portabel dan lebih mudah disimpan. Yang lebih penting lagi biaya produksinya lebih murah. Seperti membaca buku masa kini, dengan kodeks pembaca akan lebih mudah beralih ke bagian buku lain. Itu karena sudah dalam bentuk-bentuk lembaran-lembaran seperti halaman buku sekarang. Ini juga memungkinkan pembaca untuk beralih antarbagian dengan cepat. Kodeks yang menginspirasi bentuk buku masa kini.

Inovasi cetak sederhana sudah dilakukan di Cina di masa Dinasti Tang di Cina sekitar 700 M. Teknologi baru ini menyebar ke Eropa 800 tahun kemudian. Cara kerjanya, huruf-huruf diukir di atas blok kayu seukuran halaman buku, kemudian blok kayu dibaluri tinta dan kemudian ditekan di atas kertas untuk mencetak halaman buku. Contoh teks pertama yang dicetak di atas kertas adalah gulungan kecil doa Buddha selebar 2,5 inci yang dipesan Permaisuri Shōtoku Jepang pada 764 Masehi.

membaca-buku-2

Namun, teknologi media tulisnya—kertas—sudah ditemukan jauh sebelumnya, yaitu di masa Dinasti Han. Penemunya Cai Lun pada abad ke-1 Masehi. Dalam catatan Wikipedia, Cai Lun membuat kertas dari kulit kayu murbei. Bagian dalam kayu direndam dan dipukul-pukul sehingga seratnya lepas. Kemudian kulit direndam juga bahan rami, kain bekas, dan jala ikan. Setelah menjadi bubur, bahan ini ditekan hingga tipis dan dijemur. Lalu jadilah kertas, yang tentu saja mutunya belum sebagus sekarang. Tercatat, Cai Lun pernah mempersembahankan contoh kertas pada Kaisan Han pada tahun 105 M.

Sementara itu, pada abad pertengahan di Eropa para juru tulis masih bersusah payah menyalin teks. Budaya buku didominasi oleh biara-biara yang menjadi pusat kehidupan intelektual. Membaca buku belum memasyarakat seperti sekarang, tetapi terbatas pada kalangan tertentu saja, terutama rohaniwan. Naskah abad pertengahan sangat dihargai sehingga beberapa juru tulis menulis kutukan di depan manuskrip, sebagaimana terbaca pada salinan Vulgate Bible: “Barangsiapa mencuri buku ini biarlah dia mati; biarkan dia menjadi kusut dalam wajan; semoga penyakit jatuh berkecamuk dalam dirinya; semoga dia dipatahkan di kemudi dan digantung. ”

Gutenberg, semua jadi bisa membaca buku

Masa-masa buku amat dimuliakan karena pembuatan/produksinya amat sulit, berakhir dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg sekitar tahun 1450. Di sini sejatinya dipertemukan teknologi kertas timur dan teknologi percetakan barat.

Berkat mesin “ajaib” Gutenberg, buku dapat diproduksi dalam jumlah besar. Kini setiap orang bisa memiliki buku. Setiap orang bisa memiliki pengetahuan yang sama, biarpun dia berasal dari kelas yang berbeda, asal dia membaca buku yang sama.

Buku telah menghubungkan orang dari tempat yang jauh, untuk dapat berbagi pengetahuan. Tidak salah bila ada slogan yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Membaca buku membuat pembacanya memiliki wawasan yang luas dan lebih beradap.

Buku apa pun bentuknya, setelah bertransformasi dari kertas ke digital, tetaplah sebuah buku. Ia akan tetap menjadi santapan lezat bagi pehobi membaca buku. Membaca buku asupan penuh “gizi” lahir dan batin. Mari.

Baca juga:

  1. Wah, Saya Senang Mendengar Bukunya Dicetak
  2. Buku Itu Bukti Keberhasilan Pembelajaran Menulis
  3. Selamat, ya, Akhirnya Jadi Juga Buku Korona

Membaca Buku Dimulai dari Kodeks
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.