Menulis dan Psikologi
Menulis dan Psikologi
“Psikologi dan menulis berjalan seiring. Keduanya tentang memahami bagaimana orang berpikir dan bertindak. Anda tidak perlu gelar psikologi untuk menulis cerita yang bagus. Yang diperlukan hanya rasa ingin tahu tentang orang-orang di sekitar Anda.”

Teman saya yang baru mencoba menulis mengeluh. Mengapa cerita yang sudah dikembangkan hingga tiga atau empat bab bisa berantakan? Saya menyimak dengan saksama. Saya mengangguk-angguk, teman saya itu melihat serius ke arah saya. Bisa jadi dia mencoba menafsirkan anggukan saya: mengerti atau bingung.

Saya tahu penyebabnya. Itu karena perilaku karakter dalam cerita itu tidak sesuai dengan persyaratan cerita. Mungkin motivasi karakter tidak masuk akal. Mungkin si penulis mengalami kesulitan untuk tetap berada dalam karakter, untuk berpikir dan merespons situasi cerita dengan karakter yang sudah dipilih.

Atau, mungkin saja karakter yang dikembangkan penulis tidak tepat untuk menyampaikan ide cerita. Bisa jadi bagian karakter tidak didasarkan pada perilaku manusia yang realistis.

Studi psikologi berkisar pada pemahaman mengapa manusia berpikir, merasakan, dan berperilaku seperti yang mereka lakukan. Karakter realistis memiliki dinamika sejarah dan keluarga. Mereka memiliki kekuatan, kelemahan, dan masalah kepribadian. Mereka terlibat dalam monolog internal tentang diri mereka sendiri, hubungan mereka, dan dunia di sekitar mereka.

Darian Smith menguraikannya dalam The Psychology Workbook for Writers:

“Penulis—yang baik-baik saja—adalah pengamat yang tajam tentang sifat manusia dan mereka menangkapnya dalam karakter dan cerita. Mereka menunjukkan perilaku, proses berpikir, dan cara orang membuat makna dari pengalaman dan peristiwa dan mengubahnya menjadi hiburan yang memprovokasi.”

Anda tidak perlu gelar doktor untuk menerapkan manfaat psikologi pada tulisan Anda. Orang yang tertarik untuk menulis fiksi biasanya memiliki pemahaman instingtual tentang psikologi, sampai taraf tertentu.

Kebanyakan penulis adalah pengamat orang. Terpesona dengan hal-hal yang dilakukan orang, apa yang mereka katakan, dan terutama perbedaan apa pun di antara keduanya. Karakter fiksi yang kita ciptakan cenderung “lebih besar dari kehidupan”, tetapi mereka juga harus didasarkan pada manusia biasa, seseorang yang bisa dipahami oleh pembaca.

Untuk itu, biasakan mengamati orang-orang di sekitar kita dan memperhatikan perilaku mereka. Apa saja yang mereka katakan? Bagaimana mereka saling berhubungan? Bagaimana mereka memecahkan masalah-masalah kecil yang dijalani oleh kehidupan?

Bisa juga kita merekam pengamatan dalam buku catatan dan merujuk kembali ke catatan itu ketika Anda ingin menyempurnakan ciri-ciri karakter.

Jadi, tidak salah kalau ada yang bilang, cerita sebenarnya adalah catatan psikologi manusia. Semangat menulis.

Baca juga:

Menulis dan Psikologi
Tagged on:             

2 thoughts on “Menulis dan Psikologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.