Menulis dengan memanfaatkan kekayaan bahasa Indonesia akan membuat tulisan kita lebih enak dibaca dan lebih Indonesia. Apa saja kekayaan bahasa Indonesia?

Idiom adalah kekayaan bahasa Indonesia yang tidak dapat dipersamakan dengan bahasa lain di dunia. Idiom suatu tempat dapat berbeda dengan tempat lain. Untuk menunjukkan keturunan bangsawan, orang Eropa menyebutnya berdarah putih padahal kita menyebut berdarah biru. Dan, pemakai bahasa tak pernah mempersoalkan kenapa putih atau biru. Akan tetapi, memang begitulah makna yang dikandung idiom itu. Begitu pula dengan idiom lebaran monyet, yang bermakna tak mungkin terjadi. Kenapa lebaran monyet? Apa lantaran monyet tak pernah lebaran? Tetapi, mengapa monyet?

Itulah idiom, maknanya tak dapat ditangkap melalui kata-kata yang membentuknya (Keraf, 1991:109). Selain itu, kata-kata yang menyusun idiom sudah padu, tak dapat disisipi kata lain. Misalnya kaki tangan berbeda dengan kaki dan tangan atau mati angin berbeda dengan mati dan angin. Makna yang terkandung dalam idiom terjadi begitu saja karena pengaruh lingkungan masyarakat bahasanya. Beberapa contoh idiom:

(1) dunia hitam suatu lingkungan kehidupan yang diwarnai dengan kejahatan: keadaan keluarga yang berantakan membuatnya terjerumus ke dalam —.
gandeng renteng selalu bersama-sama: ke mana pun ia pergi, ia selalu — dengan sobatnya yang baik.
manusia kardus orang yang hanya mampu bicara tetapi tidak mempunyai kemampuan apa-apa: di zaman sekarang banyak — yang tersingkir dari persaingan kerja.

Dalam pers Indonesia penggunaan idiom atau ungkapan sering dilakukan berhubung dengan berbagai peristiwa. Idiom berguna untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang berbeda dan lebih hidup. Misalnya:

(2) Di kalangan ilmuwan, Pak Koen terkenal sebagai tokoh keras kepala.
(3) Benarkah ada operasi gulung tikar di Ambon.
(4) Dengan roman muka penuh semangat, ia menceritakan peristiwa tersebut.

Kata gabung tetap

Kata gabung tetap oleh Badudu (1992:152) dimasukkan juga ke dalam idiom. Soalnya, kata gabung juga tidak dapat dihilangkan salah satunya. Dan, kata gabung ini juga tidak dapat dilacak mengapa harus berpasangan begitu. Misalnya:

(5) terdiri dari/atas
sesuai dengan
dibanding dengan
bergantung pada
bangga atas/akan
benci akan
berkait dengan
hormat kepada
disebabkan oleh
diperuntukan bagi
lepas dari

Pasangan kata ini dapat dipersamakan dengan of dalam bahasa Inggris. Dalam kalimat She stood in front of me. Kata of tentu tidak dapat dihilangkan, of adalah sesuatu yang wajib di depan front. Karena itu, sesuai dengan dalam kalimat Kebijakannya sesuai dengan peraturan yang berlaku salah satu katanya tidak dapat dihilangkan. Malah, Atmakusumah Astraatmadja, yang Direktur Lembaga Pers Dr. Soetomo itu, dalam setiap kuliah ragam bahasa jurnalistik kerap melontarkan gurauan, kalau boleh dihilangkan salah satu kata pasangan tetap itu, berarti boleh menulis: “Hal ini sesuai benar keputusan menteri.”
Pemakaian kata gabung itu hendaknya seperti:

(6) Keberhasilan reformasi bergantung pada kejujuran pelaksana negara.
(7) Membandingkan Soeharto dengan Habibie tidaklah adil.
(8) Surat keputusan itu terdiri dari lima pasal.

Peribahasa
Peribahasa sama halnya dengan idiom, hanya terkadang makna yang dikandung peribahasa dapat dilacak melalui simbol yang diwujudkan dalam kata-kata. Misalnya:

(9) bagai air di daun talas orang yang mudah terombang-ambing pendirian atau tidak teguh hatinya.
menghilangkan jejak bagai harimau orang yang pandai menyembunyikan kejahatannya.
bagai ayam kena kepala tidak dapat berbuat apa-apa karena malu tepat mengenai diri sendiri.

Fungsi peribahasa dalam tulisan sama dengan idiom, yaitu untuk memperkuat dan menghidupkan tulisan. Kendati frekuensi pemakaian peribahasa tidak banyak, kerap muncul untuk lebih melembutkan atau menggambarkan suatu kesan dengan lebih baik. Ada dua cara penulisan peribahasa di media massa kita: secara komplet dan hanya memetik sebagian dari peribahasa tersebut. Yang secara komplet, misalnya:

(10) Meski nilai aset masih jauh panggang dari api, toh Kejakgung sangat puas.
(11) Dimyati Hartono: “Mengapa mau beli kucing dalam karung?”
(12) Kasus penabrakan kabel laut Madura seperti memegang ekor harimau.

Tetapi, media massa pun kerap memetik sebagian atau memodifikasi peribahasa untuk menimbulkan efek lebih kuat dari kalimat tersebut. Misalnya;

(13) Tak ada plastik bambu pun jadi.
(14) Mereka cuma korban, ibarat nila setitik rusak citra seluruh orang Tionghoa.
(15) Sedia payung sebelum kerusuhan terjadi.

Kalimat (13) merupakan modifikasi dari peribahasa Tak ada rotan akar pun jadi. Kalimat (14) mengingatkan kita pada peribahasa Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Kendati makna yang terkandung tidak lengkap toh orang sudah tahu bahwa nila setitik dalam kalimat tersebut berarti kotoran, aib, atau cacat sebagaimana pada peribahasa sebenarnya. Kalimat (15) mengingatkan kita pada peribahasa sedia payung sebelum hujan. Hanya frasa berikutnya diganti dengan kerusuhan terjadi.

Umumnya peribahasa yang hanya dipetik sebagian seperti di atas merupakan peribahasa yang sudah sangat dikenal masyarakat. Jadi, dengan hanya memetik sedikit dari peribahasa itu, orang sudah tahu makna yang terkandung. Salam.

Baca juga:
1. Yuk, Berhemat dengan Zebra, eh, Verba
2. Jangan Cuma Data dan Fakta, Kata pun Harus Akurat
3. Penyebaran Corona yang Mestinya Korona
4. Berguru Menulis ke Media
5. Lucu itu Soal Lurus dan Mencong

Menulis dengan Kekayaan Bahasa Indonesia
Tagged on:                 

6 thoughts on “Menulis dengan Kekayaan Bahasa Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.
Powered by