menulis itu gampang
Menulis itu gampang / Ketut Subiyanto (Pexels)
Banyak yang bilang bahwa menulis itu gampang. Apakah itu benar? Tidak pernah secara transparan terbuka. Namun, sejatinya ada sesuatu yang perlu diketahui di balik pernyataan: menulis itu gampang.

Menulis itu gampang. Itu yang acap digaungkan. Saya paham, pernyataan ini bisa sedikit mengusir mental block agar tidak takut dalam menulis. Tapi, saya setuju, menulis memang tidak perlu ditakuti. Tapi, menulis itu gampang, bisa ya bisa tidak.

Menulis itu proses reproduksi kreatif. Semua yang ada dalam gudang pengalaman kita diproses ulang untuk dijadikan sebuah tulisan. Namun, bukan berarti semua pengalaman kita ditulis begitu saja. Semua bahan yang ada dipilah dan dipilih sehingga sesuai dengan tujuan penulisan kita.

Saya selalu terkesima dengan ungkapan menulis itu gampang. Apa iya begitu? Tapi, kalau saya bilang, menulis itu susah, ya tidak juga. Yang jelas menulis ada prosesnya. Mau gampang, mau susah, ada proses yang harus dilalui untuk menulis.

Lanjutan dari menulis itu gampang, adalah menulis itu membahagiakan. Mungkin, cara berpikirnya begini. Karena menulis itu gampang, aktivitas menulis menjadi membahagiakan. Ya, kalau cuma cara berpikir, tidak apalah.

Menulis itu gampang

Menulis menjadi gampang kalau kita sudah siap dengan apa yang akan kita tulis. Kalau semua sudah siap, pasti lebih ringan dalam menulis. Agar menulis menjadi gampang, kita harus menyiapkan diri agar.

menulis itu gampang 1

Apa saja yang bisa membikin menulis menjadi gampang?

Pertama, tentu saja ide atau masalah. Tanpa ide atau masalah, kita tidak akan bisa menulis. Bahkan, untuk menulis satu kalimat pun tidak akan bisa. Dari mana ide atau masalah berasal.

Banyak sumber yang bisa dijadikan ide untuk menulis. Dahulu, ketika saya masih berkuliah, saya acap ikut seminar atau menonton pementasan teater atau pameran seni. Teman-teman yang bertemu saya di acara tersebut selalu bilang bahwa saya sedang mencari masalah. Jagoan sekali, saya mencari masalah di seminar dan pentas teater.

Ya, tapi memang begitu, saya memang mencari masalah. Tentunya masalah untuk saya tulis. Masalah atau ide yang bertaburan di seminar atau pentas seni bisa saya petik sebagai pemicu untuk tulisannya. Di event-event tersebut banyak orang mengeluarkan ide, kita tinggal memetiknya.

Di mana lagi kita bisa mendapat ide penulisan. Di media, baik digital maupun cetak. Di media banyak berita, banyak persoalan yang dipaparkan. Kita tinggal mengambil sikap. Nah, sikap itu yang bisa kita jadikan tulisan fiksi ataupun nonfiksi.

Apalagi? Sebenarnya banyak hal yang mengandung ide untuk kita tulis. Kita sedang naik angkot atau nongkrong di mal, ide itu juga bertaburan. Banyak orang ngobrol di angkot dan mal, mereka itu mengeluarkan ide. Ketika kita sedang naik sepeda motor atau sepeda kita pun bisa memetik ide atau masalah penulisan.

Kedua, ide yang sudah kita dapat lalu kita petakan, sehingga kita paling tidak sudah melakukan persiapan 80% dari rencana tulisan kita. Bagaimana caranya?

Misalnya, kita sudah mendapat ide penulisan “korona membuat orang takut”. Kita cari data atau contoh apa dan bagaimana korona, cari contoh apa yang membuat orang takut pada korona, apa bahayanya korona, solusinya apa. Kalau semua bahan sudah ada, tinggal susun, mana untuk pembuka, mana untuk pembahasan atau menjelaskan bahaya korona, bahan mana untuk solusi. Selesai.

Seperti pernah saya bahas, kita menulis sebenarnya tinggal memasukkan materi atau bahan yang kita punya ke dalam kotak-kotak tulisan kita. Itu artinya kita ada tiga pos/kotak untuk penulisan kita. Pos pembuka, penjelasan/pembahasan, dan penutup/kesimpulan. Bahan-bahan yang ada kita masukan ke dalam kotak atau pos tadi. Kalau ini selesai, sejatinya kita sudah menyelesaikan tulisan sebenar 80%.

Ketiga, menulis. Bahan yang sudah tersusun rapi tadi tinggal kita jahit dengan tulisan. Ini akan terasa mudah. Inilah agaknya yang dibilang menulis itu gampang, segampang minum kopi. Itu menjadi mudah, karena semua bahan sudah disiapkan, sudah melalui dua langkah di atas. Ah, ternyata menulis itu gampang.

Menulis itu membahagiakan

Tulisan sudah selesai, kini saatnya untuk bahagia. Orang yang bahagia adalah orang tanpa masalah. Orang bisa keluar dari masalah dengan mudah. Hidup terasa ringan, ingin tertawa bebas, ingin tersenyum apalagi. Itu terjadi karena tidak ada beban yang menggayuti.

Apa yang membahagiakan ketika tulisan kita sudah selesai. Tulisan bisa dimuat di media dan mendapat honor. Ya, itu memang salah satu yang membahagiakan. Tapi, coba apa yang dirasakan ketika tulisan kita selesai. Plong. Kita menarik napas dalam dan mengeluarkan, saat itulah emosi negatif ikut terbuang. Kita jadi merasa ringan.

Plong. Ya, itu salah satu manfaat menulis. Kita bisa membebaskan diri rasa stres dan kecemasan. Ada tiga hal yang membuat menulis bisa membahagiakan.

Pertama, menulis meredakan emosi dan kecemasan. Menulis membantu kita memproses emosi dan pikiran Menulis ekspresif membantu kita berpikir kritis dan mengatasi situasi dengan pemahaman yang lebih dalam.

Misalnya, kita tidak setuju dengan pemberian bantuan pulsa terhadap ASN di tengah pandemi. Kita merasa ASN yang sudah bergaji besar mengapa terus dibantu. Padahal, banyak orang yang lebih sudah dan tidak mendapat bantuan apa-apa.

Perasaan dongkol dan merasa dibuat tidak adil, tentu amat mengganggu emosi dan perasaan kita. Emosi negatif ini akan membuat kita stres. Nah, dengan menulis artikel yang menunjukkan ketimpangan dan rasa ketidaksukaan, kita telah menyalurkan emosi negatif itu. Efeknya adalah kelegaan ketika tulisan itu selesai.

Kedua, menulis meningkatkan kecerdasan emosional. Dalam menulis untuk berargumentasi yang melibatkan emosi, kita terkadang melakukan self-talk. Apa benar yang akan kita tulis, bagaimana efek tulisan kita. Tentu semua itu disesuaikan dengan tujuan penulisan pelepasan emosi. Self-talk ini juga yang membuat kita dapat berpikir lebih rasional.

Bisa jadi dalam tulisan kita, bisa menyajikan solusi dari persoalan yang tidak kita setujui. Self –talk dengan bacaan dan pengalaman masa lalu, membuat kita lebih cerdas secara emosional.

Ketiga, menulis meningkatkan keterampilan komunikasi. Menulis untuk media bahkan menulis untuk buku harian sesungguhnya adalah berkomunikasi dengan diri Anda sendiri secara tertulis. Kita dapat mengajukan dan menjawab pertanyaan, memberi contoh, membenarkan, dan menganalisis kita.

Selain itu, menulis dapat membantu kita mengartikulasikan ide secara akurat dan ringkas. Hasilnya, kita tidak hanya dapat meningkatkan cara berkomunikasi dengan diri sendiri dan juga orang lain.

Untuk mengartikulasi ide kita itu, Jack Canfield, penulis dan motivator Amerika, merekomendasikan untuk memposting tulisan kita di tempat yang terlihat. Di mana lagi kalau bukan di media sosial, meskipun lebih baik lagi bila dikirim ke media massa. Agar merasakan bahwa tulisan kita juga bermanfaat bagi orang lain.

Apakah hanya ada tiga efek yang membahagiakan dari menulis. Tentu saja tidak, banyak ahli dan praktisi menulis yang memiliki banyak catatan lebih dari tiga mengenai bahwa menulis itu membuat bahagia. Ada juga penulis memberi catatan hingga sepuluh cara agar menulis membahagiakan. Pasti banyak juga penulis lain yang memberi catatan lebih dari sepuluh.

Namun, mau menulis itu susah atau menulis itu gampang, ketika selesai menulis kita bisa merasakan bebas dari segala beban. Emosi negatif telah terbuang lewat embusan napas dan suasana yang terbuka. Menulis bisa membantu kita keluar dari tekanan emosi negatif. Bukankah itu membahagiakan. Salam.

Baca juga:

500 Penulis, Satu Mentornya
Senangnya, Keahlian Menyunting Saya Bisa Membahagiakan
Peter Handke, Penulis Ultraobjektif Peraih Nobel 2019
Wahai Penulis, Rawatlah Otak Kreatif Anda
Bahasa Jurnalistik Saya Terbit, Sebuah Kenangan

Menulis itu Gampang dan Membahagiakan, Inilah 3 Jurusnya
Tagged on:             

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.