Asal tulis
Jangan asal tulis  / Karolina Grabowska (Pixabay)

Menulis bukanlah pekerjaan instan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang penulis. Menulis bukanlah sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Juga bukan asal tulis kalau ketemu ide. Semua ada prosesnya.

O ya, saya berhenti menulis untuk televisi tahun 2015. Sitkom Naga Bangor di MNC TV adalah sinetron terakhir yang saya ikut di dalamnya. Banyak artikel dan naskah untuk televisi yang saya tulis sejak sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Perjalanan panjang kepenulisan yang membuat saya menjadi lebih baik dan lebih lagi dalam menulis.

asal tulis 1

Selanjutnya saya lebih banyak mengajar menulis dan melakukan pekerjaan penyuntingan dan pendampingan menulis. Apalagi, sejak 2019 saya sudah tidak bekerja lagi di media. Namun, saya tidak bisa menghindar dari dunia tulis-menulis.

Yang pertama saya tekankan dalam menulis adalah kejujuran. Saya jadi setuju dengan kata mutiara: kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana. Kejujuran itu nomor satu, ketidakmampuan untuk menulis bagus itu masalah lain. Jika masih berusaha dan tidak asal tulis tentu itu amat saya hargai.

Banyak yang mengikuti kelas saya tidak lulus hanya karena menyalin tempel alias copy paste tulisan orang lain lebih dari 20%. Banyak yang ingin menulis bagus dengan cara instan. Padahal, menulis adalah sebuah proses. Karena itu, proses menjadi bagian terpenting di kelas saya. Tugas-tugas itu menunjukkan kesungguhan peserta untuk menulis. Perihal hasil, tidak masalah.

Mengapa? Karena saya memberi nilai berdasarkan kemampuan peserta. Peserta yang memang mempunyai pengalaman dalam menulis, tentu saya akan menilai dengan kriteria yang berbeda dengan yang baru pertama kali menulis.

Tidak asal tulis

Setiap mengawali kelas saya selalu bilang menulis sendiri, jangan menyalin tempel. Tapi, ada juga yang coba-coba. Mungkin mereka mengira saya akan terpesona oleh tulisan yang bagus. Bisa jadi mereka mengira saya tidak akan membaca secara teliti. Atau, mereka mengira saya gaptek sehingga tidak bisa mengecek plagiarism. Mereka banyak yang tertipu.

Saya amat bersemangat untuk mengecek, tulisan yang mereka kerjakan itu merupakan tulisan sendiri atau merupakan hasil ketrampilan salin-tempel. Saya cek ke internet. Dari situ saya tahu bahwa mereka benar-menar menulis, atau ingin cepat selesai tugasnya dan bagus dengan cara salin-tempel.

Saya membaca tulisan teman-teman muda saya yang belajar menulis dengan teliti. Sampai titik komanya pun tidak luput dari pandangan saya. Saya ingin ketika mereka menulis, mereka benar-benar mengetahui apa yang ditulis. Tidak cepat terpesona oleh keindahan tulisan di permukaan. Menulis bagus dan indah pilihan katanya, itu pekerjaan yang penting juga. Namun, sebuah tulisan adalah bungkus atau kemasan, jauh lebih penting adalah isi. Kemasan yang bagus dan isi yang baik, tentu itu yang kita harapkan.

asal tulis 2

Tulisan saya koreksi, mereka menyalin dan memperbaiki apa yang dikoreksi. Ya, mirip-mirip yang dengan metode menulis copy the master yang dijalankan Marahimin Ismail. Tulisan mereka terlihat sekali peningkatan kualitasnya dalam beberapa kali koreksi. Untuk yang asal tulis sudah pasti akan kelabakan karena banyak sekali yang harus diperbaiki.

Bagaimana dengan peserta yang bahkan tidak tahu bagaimana menulis kalimat yang bagus? Yang seperti ini biasanya mereka saya minta menulis ulang dengan tulisan tangan para penulis idola mereka. Dengan cara ini, mereka bisa merasakan bagaimana proses menulis para penulis idolanya membuat kalimat. Bahkan, mereka bisa menangkap bagaimana cara bertutur sang penulis. Malah, cara berpikir penulis pun bisa ditiru. Dengan begitu, saya berharap mereka tidak asal tulis, yang penting menulis dan mengumpulkan tugas.

Dengan cara ini, si pembelajar menulis mulai mengenali bagaimana dan mengapa penulis idola mereka menjadi begitu hebat. Jadi, janganlah beranggapan bahwa menulis itu bisa dilakukan secara instan. Menulis itu membutuhkan proses, tidak asal tulis. Memang ada yang mengatakan mengarang itu gampang, itu benar. Kalau yang dimaksud adalah sudah mendapatkan ide dan pola penulisannya. Jadi, tidak instan dan tidak asal tulis juga. Salam.

Baca juga:

Jangan Asal Tulis, Menulis itu Sebuah Proses
Tagged on:                 

4 thoughts on “Jangan Asal Tulis, Menulis itu Sebuah Proses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.