menulis semudah bicara
Berbicara dan menulis sebenarnya hanya berbeda media saja. Berbicara menggunakan media suara, menulis menggunakan media huruf. Dengan begitu, sesungguhnya setiap orang yang berpikir dengan bahasa sejatinya dia bisa menulis juga. Orang yang bisa berbicara berapi-api sejatinya dia juga bisa menulis berapi-api. Masa?

Huruf sebenarnya adalah perwujudan suara dalam bentuk ortografis. Ketika orang berucap “ba”, maka diwujudkan dalam bentuk huruf /b/ dan /a/. Ketika orang jeda dalam berbicara, digantikan oleh koma /,/. Bila ada jeda karena permbicaraan akan berganti topik, jeda yang ini digantikan dengan titik /./. Bila berbicara masih bisa dengan komunikasi nonverbal, dalam bahasa tulis itu digantikan dengan tanda baca. Berbicara keras dengan tanda seru /!/, bertanya dengan tanda tanya /?/. Jadi, apa bedanya berbicara dan menulis. Semudah itukah menulis.

Ada bedanya. Ya, betul, beda media. Nah, perubahan dari media suara menjadi media huruf atau tulis ini, bagi sebagian besar orang memang amat berat,… seberat cintaku padamu… alah garing euy. Nah, itu jadi contoh betapa menulis sejatinya hanya menyalin cara kita bicara. Kalau kemudian masih ada orang yang merasa tidak bisa menulis, itu sebenarnya lebih banyak ke masalah psikologis.

Rasa takut. Ya, ini salah satu yang membuat orang tidak berani menulis. Hantu takut salah tulis kata, salah tulis kalimat, takut karangan jelek, takut tidak sesuai ejaan, tata bahasa. Sejuta takut lainnya yang terus menghantui. Cara mengatasnya, bilang “persetan” dengan segala aturan. Menulis, ya, menulis saja tidak ada hubungannya dengan aturan.

Ada yang berhasil dengan cara ini, banyak juga yang tetap mengkeret tidak berani berekspresi dengan tulisan. Untuk yang terakhir ini tampaknya memerlukan bantuan orang lain yang memang ahli dalam bidang tulis-menulis dan motivasi. Yang diperlukan, sebenarnya hanya motivasi bahwa dia bisa menulis, bisa mengekspresikan diri dengan menulis. Aturan itu hanya berlaku ketika nanti kita sudah mahir menulis. Setuju.

Saya tidak yakin, ada orang yang tidak bisa menulis. Menulis sebenarnya hanya butuh keberanian dan percaya diri, semudah itu. Salam.

Baca juga:

Menulis Semudah Bicara, Benarkah Begitu
Tagged on:                                                         

4 thoughts on “Menulis Semudah Bicara, Benarkah Begitu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.