Pexels dari Pixabay

Sejatinya naskah yang digunakan dalam program komedi/lawak kita lebih banyak yang menggunakan treatment atau sinopsis. Itu sudah merupakan warisan turun temurun dari segenap tontonan tradisional kita.

Namun, sejak sekitar tahun 2005 cara penulisan naskah komedi, terutama lawak, mulai mengalami pergeseran. Menurut catatan saya, itu terjadi sejak Extravaganza tayang, lalu diikuti Ngelenong Nyok. Di TransTV. Naskah lawak bukan lagi berupa treatment tapi merupakan naskah lengkap dan pemainnya pun patuh pada naskah atau scripted.

Bila dalam naskah treatment pemain mencari joke dan mencari waktu yang tepat untuk melontarkannya. Maka dalam lawakan scripted, pemain tinggal membaca dan melakonkannya. Naskah model begini tentu saja memudahkan sutradara dalam mengkoordisnasi kameramen dalam pengambilan gambar. Tidak seperti naskah treatment, pemain bergerak amat liar.

Selain itu, dengan naskah seperti itu, para pemain yang bukan pelawak pun bisa melawak dengan mengandalkan joke atau kelucuan dalam naskah. Ini juga fenomena baru bahwa yang bisa melawak bukan hanya pelawak. Seperti di Ngelenong Nyok, mulai dari Adul, Ferry Maryadi, Deswita Maharani, Yulia Rahman, Andre Taulani adalah bukan pelawak. Hanya Bedu yang mempunyai latar pelawak.

Intinya, lawakan scripted sesungguhnya naskah treatment yang dijadikan lengkap dengan dialognya. Dengan kata lain, ini merupakan naskah lawak lengkap. Karena semua joke dan gimmick dibuat penulis, kelucuan lawakan amat tergantung pada kualitas naskah.

Sebuah naskah treatment mungkin saja akan berbeda-beda hasilnya bila dimainkan oleh pelawak yang berbeda. Adapun sebuah lawakan scripted akan menghasilkan lawakan dengan kualitas yang kurang lebih sama. Namun, pada dasarnya sebuah naskah lengkap merupakan tindak lanjut dari treatment. Misalnya:

Adul curhat dengan penonton bahwa kaos olah raganya hilang. In frame tukang cendol yang sering diutangi Adul. Adul bilang utangnya pasti bayar kalau dapat rezeki. Dicky sudah senang. Tidak tahunya, Rezeki itu nama gebetannya Adul. Dikcy kesal lalu out….

Itu petikan segmen satu dari treatment Nglenenong Nyok, dalam episode “Kaos Adul Hilang” tahun 2006. Bagi pelawak, treatment seperti ini sudah bisa dimainkan dengan apik. Tapi, untuk pemain yang nonpelawak belum cukup, karena kelucuan tidak tergambar secara jelas. Karena itu, treatment tersebut kemudian dijadikan skrip lengkap sebagai berikut:

Adul sedang curhat dengan penonton.

Adul
Penonton, kaos olah raga gua raib!

penonton-1
Cari di lapangan, siapa tau lagi joging. Namanya juga kaos olahraga.

Adul
Bener juga. Pantes aja kaos gua Lebih gede daripada badan gua…olahraga mulu sih.

penonton-2
Dul, bilang aja kaos lu kegedean.

Adul
Tau juga lu. Tapi, bokap gua kalo maen catur kaosnya bisa nyala.

penonton-2
Emang ada kaos yang bisa nyala?

Adul
Ada. Kaos lampu.

In frame Dicky yang mendorong gerobak cendol. Adul senang.

Dicky
Cendol, cendol, cendol…siapa Yang beli pasti kecantol…

Adul
Nah, gua kecantol, makanya utang mulu…

Dicky
Utang lu udah gak keitung…

Adul
Jelas aja gak keitung, jari lu cuman dua puluh, utang gua lima rebu…

Dicky
Pinter lu. Tapi, kalo lu gak bayar, Lu bakal tau kendiri akibatnya.

Adul
Tenang, sebentar lagi gua dapet rezeki…

Dicky
Mau dapet duit.

Adul
Gak, gua mau dapet pacar, si Rezeki anaknya Haji Miun…

Dicky
Ngomong sama ember sono…

Dicky out….

Kalau pelawak yang mendeskripsikan treatment tersebut tentu hasilnya tidak seperti itu.

Setelah menerima naskah seperti ini, pemain melakukan reading atau membaca naskah. Di sini diarahkan bagaimana cara membaca suatu dialog agar lucunya bisa sampai.

Ada yang patuh

Terkadang penulis sengaja membuat dialog dengan intonasi dan dialek tertentu untuk menimbulkan efek lucu atau memang karakternya dibuat khusus. Sekaligus pada saat itu, pemain bisa merundingkan gimmick-gimmick atas skrip tersebut.

Kelemahan skrip lengkap begini, bila pemain berimprovisasi secara berlebihan berpotensi mengacaukan pemain lain. Ketika seorang pemain berimprovisasi, pemain yang tidak mahir berimprovisasi akan kehilangan jejak dialognya. Atau pemain lain akan mengikuti arah improvisasi si pengimprovisasi. Ujung-ujungnya misi naskah tidak tercapai dan durasi keburu habis.

Bila kita mengkreatifi atau menulis naskah untuk program lawak yang menggunakan full skrip harus berhati-hati juga dalam mendatangkan bintang tamu. Pasalnya, pemain kita akan kelabakan bila mendapatkan bintang tamu yang senangnya berimprovisasi tanpa memperhatikan naskah. Karena itu, kita harus mempunyai kriteria bintang tamu tersendiri.

Memang ada juga pelawak atau komedian yang sangat patuh pada naskah. Karakter pelawak yang taat naskah seperti Parto Patrio, Yadi Sembako, Bedu—menurut pengalaman saya bekerja sama dengan mereka.

Mereka juga berimprovisasi ketika hanya ada peluang, tapi mengutamakanpenyampaian apa yang tertulis di skrip. Penulis lawak tentu senang dengan pelawak model begini karena apa yang ingin disampaikan penulis akan sampai. Begitu Bro.

Baca juga:

Naskah Full Script, Sekali Baca Jadi Komedian
Tagged on:                 

8 thoughts on “Naskah Full Script, Sekali Baca Jadi Komedian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.