Elena Rogulina dari Pixabay

Mengapa kita bergantung ke media dalam menggunakan bahasa dalam menulis? Bahasa tulis tidaklah sama dengan bahasa lisan. Dalam bahasa lisan, kesantunan dan tata ucap bisa ditiru dengan melihat orang-orang yang bisa kita ikutan sebagai anutan. Nah, untuk bahasa tulisan, pengaruh yang paling kuat untuk diconteki adalah media massa. Itulah sebabnya, media massa menjadi media belajar menulis masyarakat. Padahal, bahasa jurnalistik bukanlah bahasa resmi yang baku, lo.

Sejak awal keberadaannya, bahasa jurnalistik sudah membedakan diri dengan bahasa yang sangat resmi. Tengoklah koran Sin Po, Hong Po, atau Keng Po, bahasa yang digunakan adalah bahasa sehari-hari: melayu Tionghoa. Hingga kini, kendati menggunakan bahasa yang cenderung resmi—seperti Kompas—tetap saja itu merupakan bahasa sehari-hari yang tidak sama persis dengan bahasa yang resmi.

Karena itu, tak salah bila ada yang bilang bahwa bahasa jurnalistik adalah cerminan bahasa masyarakat. Pasalnya, bahasa yang digunakan media massa adalah bahasa yang hidup atau dipakai di masyarakat. Namun, Harimurti Kridalaksana tak sependapat. Menurut guru besar linguistik ini (2000), yang terjadi kini justru bahasa media massa dipakai sebagai model penggunaan bahasa. Di sinilah bukti bahwa media massa mampu membentuk opini masyarakat.

Cobalah, kita melihat lebih teliti keadaan di awal era reformasi ini. Media lebih banyak menggunakan kosa kata yang lebih tegas. Selain itu, kosa kata yang bersifat menyerang dan—maaf—agak barbar juga menghiasi halaman media massa kita. Hal ini terjadi, menurut pakar komunikasi A. Muis (Kompas, 6 Oktober 1999), merupakan euforia politik karena selama ini terbendung dan sekarang bobol. Jadi, semua yang dulu dihalus-haluskan (eufemisme) sekarang dibuka blak-blakan. Akibatnya, kata-kata seperti sikat, bakar, bunuh, darah, bantai, rusuh, rusak, provokator, perkosa, penjara, pecat, jarah merupakan makanan sehari-hari pembaca media massa kita.

Masyarakat kita menjadi sangat akrab dengan kata-kata “kasar” itu. Alhasil, masyarakat kita menjadi ringan-ringan saja, atau tanpa beban, ketika mengucapkan kata-kata barbar itu. Padahal, eufemisme tetap diperlukan karena merupakan kekayaan bahasa Indonesia dan bagian dari budaya komunikasi yang tak dapat dihilangkan begitu saja. Hanya, pemakaiannya jangan berlebihan.

Perubahan ini, bagi Benny Hoedoro Hoed (Kompas, 29 Juli 1999), adalah suatu yang wajar. Sebab, dinamika kehidupan bahasa Indonesia memang tidak dapat lepas dari dinamika sosial politik. Bahasa Indonesia tidak dapat lepas dari perubahan masyarakatnya. Justru bila mencoba mensterilkan bahasa Indonesia dari perubahan adalah perbuatan yang tidak masuk akal.

Dinamika perubahan itulah yang dipakai media massa. Segala perubahan dalam masyarakat cepat diserap. Jadi, tidak berlebihan bila ada kata-kata yang populer dalam masyarakat muncul di media massa. Sebutlah kata baper, obok-obok, lah yau, wow, mana tahan, cuek, syantik, yang dengan cepat menghiasi halaman media massa kita.

Jadi, antara media massa dan masyarakat terjadi saling mempengaruhi. Taruhlah, masyarakat mungkin terdistorsi oleh kesalahan penggunaan bahasa media massa, tetapi media massa membantu perkembangan bahasa masyarakat. Begitu, Bro.

Baca Juga:

Oh, Jadi Sebenarnya Kita saling Mencontek
Tagged on:                 

8 thoughts on “Oh, Jadi Sebenarnya Kita saling Mencontek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.