pandemi korona

Pandemi korona telah merepotkan kita semua. Bukan cuma ekonomi kita yang digerogoti, sedikit banyak ketahanan bahasa kita juga digempur. Bagaimana istilah dan kata asing itu melukai kita?

Pandemi korona telah meluluhlantakkan semua. Ekonomi kita “kacau” yang berakibat pemutusan hubungan kerja. Dunia pendidikan juga mengalami sedikit “kekacauan”. Itu semua terjadi karena KDK.

Apa itu KDK? Memang ada istilah KDK di tengah pandemi saat ini. Ada. KDK merupakan padanan untuk WFH. Tapi, siapa yang memakai KDK untuk pembicaraan sehari-hari. KDK yang merupakan singkatan kerja dari rumah kalah dengan WFH yang singkatan bahasa Inggris work from home.

Bukan cuma itu? Ada juga swab test yang sudah diindonesiakan menjadi tes usap. Boro-boro padanan ini digunakan, masyarakat malah mengindonesiakan susunannya menjadi tes swab.

Berikut beberapa istilah asing yang berkait dengan korona sudah dipadankan oleh Badan Bahasa . Sudahkah kita menggunakannya:

  • work from office = kerja dari kantor (KDK)
  • work from home = kerja dari rumah (KDR)
  • tracing = penelusuran; pelacakan
  • throat swab test = tes usap tenggorokan
  • thermo gun = pistol termometer
  • swab test = uji usap
  • survivor = penyintas
  • specimen = spesimen; contoh
  • social restriction = pembatasan sosial
  • social distancing = penjarakan sosial; jarak sosial
  • rapid test = uji cepat
  • physical distancing = penjarakan fisik
  • lockdown = karantina wilayah
  • hand sanitizer = penyanitasi tangan
  • coronavirus disease = penyakit koronavirus
  • corona virus = koronavirus; virus korona
  • corona suspect = terduga korona; suspek korona
Lebih suka yang asing

Saya yakin, di antara kita masih lebih mengenal istilah asingnya dibandingkan dengan padanannya. Tidak salah sih. Perilaku berbahasa para pejabat kesehatan dan orang terlibat di dalamnya ikut menjadi penyebab.

Pejabat kesehatan acap berbicara menggunakan istilah asing ketika memberi keterangan ke media. Sialnya, media menyalin begitu saja istilah asing tersebut bukan cuma dalam kutipan melainkan dalam penjelasan si awak media. Alhasil, istilah asing tersebut menjadi lebih populer daripada padanannya.


Serbuan istilah dan kata asing dalam pandemi memang cukup gencar. Media kita yang acap mengutip media asing mau tidak mau memberitakan istilah dan kata tersebut seperti pada media asal yang berbahasa Inggris.

Gempuran istilah asing yang begitu kuat, juga membuat Badan Bahasa gamang. Lihat saja, corona virus diindonesiakan dengan dua istilah koronavirus dan virus korona. Plin-plan? Bisa jadi. Bahkan, corona yang jelas-jelas sudah diindonesiakan menjadi korona masih harus kalah dengan ejaan asing, corona. Siapa yang salah?

Tidak ada yang salah. Yang salah adalah mental kita yang sejak dulu dicekoki bahwa yang asing itu yang keren, hebat. Bukankah, zaman Belanda, kita ingin bekerja di pemerintahan Belanda di Indonesia. Karena itu, berbondong-bondong orang belajar bahasa Belanda dan coba-coba memakan keju dan roti. kalau sudah memakan keju dan sedikit bahasa Belanda, sudah merasa derajatnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang lain. Jadi, kalau sekarang kita masih memegang teguh mental yang begini, ya, itu memang sudah menjadi karakter sebagian besar rakyat kita.

Namun, gempuran istilah asing memang begitu kuat. Istilah Covid-19 toh tidak mampu diindonesiakan, kita tetap menggunakan istilah tersebut. Ini boleh jadi karena ada tekanan yang begitu dari badan kesehatan dunia untuk menggunakan istilah Covid-19 untuk menyebut wabah korona. Atau, karena istilah ini memang selalu digunakan oleh media dan pejabat kita.

Dulu, sewaktu saya masih kuliah, pernah menulis artikel di koran yang berisi kemirisan atas meruyaknya kata dan istilah asing. Saya menulis, jangan heran bila nanti anak-anak Indonesia memegang kamus untuk memahami sebuah wacana berbahasa Indonesia. itu terjadi karena saking banyaknya kata-kata asing dalam bahasa Indonesia.

Menghadapi situasi seperti sekrang ini, saya kok merasa seperti dijajah, tidak bisa bebas menggunakan bahasa kita sendiri. Atau mental kita memang sejak dulu senang dijajah, senang menggunakan bahasa asing.

Pandemi korona membuat saya merasa kedaulatan bahasa kita sedikit dilukai.

Baca juga:

Pandemi Korona Membuat Kita Terjajah
Tagged on:                 

3 thoughts on “Pandemi Korona Membuat Kita Terjajah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello, selamat datang ..!
Silakan konsultasi dengan saya.